(Episode 1)
Malam beranjak
naik dan sayup sayup suara kendaraan di jalan raya terdengar tak begitu ramai.
Angin malam berhembus dan masuk ke sebuah kamar melalui jendela yang terbuka
sedikit. Suara tombol keyboard komputer mengisi ruang kamar. Kamila
menghentikan kegiatannya mengetik ketika terdengar nada panggilan dari
ponselnya. Dia melihat nama yang tertera di layar, Farah! Senyumnya merekah dan
Kamila menghentikan ketikannya dan berjalan ke tempat tidur sembari mengangkat
telpon.
“Assalamualaikum,
Halooo..” Katanya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.
“Wa’alaikumsalam,..
lagi ngapain kamu…?” Terdengar suara Farah di gendang telinganya.
“Lagi bikin tugas
dari kantor” Jawab Kamila.
“Aku kangen lah
pengen ketemu”
“Yah kesini aja”
“Ugh..mana sempat,
sibuk kali ni. Yahh, kalo aku ada waktu, kapan-kapan aku akan maen ke kotamu.”
Kamila tersenyum mendengar ucapan Farah. Kalau saja rumah mereka berdekatan.
Tentu hampir tiap hari dia akan bertemu dengan si gadis tomboy ini.
“Iya aku tunggu
ya..” Ujar Kamila.
Setelah
berbasa-basi menceritakan kegiatan masing-masing. Kamila menyudahi obrolannya
dengan Farah. Kamila beranjak dari tempat tidur dan kembali ke depan meja
komputer melanjutkan ketikannya. Tapi dia tidak memulai untuk mengetik lagi.
Kamila masih memikirkan percakapannya dengan Farah. Sahabat yang di kenalnya
ketika mengikuti pelatihan di kota Bandung, beberapa tahun yang lalu. Ada satu
peristiwa yang membuatnya masih berfikir tentang sebuah keyakinan. Betapa
mudahnya seseorang berubah hanya demi sebuah cinta. Dan itulah yang terjadi.
Pertengahan April Tahun 2003
Suara pramugari
terdengar merdu menyuruh semua penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman
karena pesawat akan segera mendarat.
”Eh Mila,
bangun..udah nyampe ni” Farah mengoyang-goyangkan bahu Kamila. Kamila membuka
mata dan memandang keluar jendela, Pesawat sudah menjejakkan rodanya di
landasan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan masih mencari tempat yang pas
untuk berhenti. Sayup sayup masih terdengar suara pramugari yang mengingatkan
untuk tidak membuka sabuk pengaman sebelum roda pesawat benar-benar berhenti.
Tapi dasar penumpang bandel, sebagian malah sudah membuka sabuk pengaman dan
malah sudah menghidupkan ponsel, padahal itu akan mengganggu sistem dalam
pesawat. Kamila hanya menghela nafas melihat itu semua. Dia dan Farah tetap
memilih untuk duduk. Setelah roda pesawat sudah berhenti, Mereka segera
mengambil tas rangsel di bagasi atas tempat duduk dan melangkah mengikuti penumpang
lain yang berjalan keluar dari pesawat dan
menuju ke terminal kedatangan.
Kamila dan Farah
akan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan di salah satu Universitas swasta
terkenal di kota kembang itu. Mereka di undang lembaga internasional non
provit. Pada tahun 2003, beberapa daerah di Indonesia sedang mengalami konflik.
Seperti Aceh, Kalimantan, Maluku dan Papua. Lembaga swadaya masyarakat atau LSM
mengundang Radio-radio swasta dari masing-masing daerah konflik. Kenapa radio?,
karena radio adalah media penyiaran yang dekat dengan masyarakat dan di
harapkan bisa membantu meredam konflik yang terjadi di daerahnya. Karena Kamila
dan Farah berasal dari daerah paling ujung Pulau Sumatera dan bekerja di radio
swasta di kota kecil tempat mereka tinggal, maka di pilihlah mereka berdua.
Kamila sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini dan juga sangat beruntung
bisa terpilih. Dia akan mendapatkan ilmu dan berdiskusi dengan teman-teman yang
lain.
Di bandara
Soekarno Hatta ini, mereka akan di jemput oleh utusan dari Universitas. Kamila
melihat-lihat dan mencari orang yang akan menjemput. Terlihat seorang Bapak
memegang kertas karton bertuliskan nama universitas dan lembaga yang menjadi funding acara itu.
Kamila mengamit tangan Farah dan menghampiri bapak itu. Sambil tersenyum Kamila
memperkenalkan diri.
“Hallo pak, saya
Kamila dan ini Farah dari Aceh” Ujar Kamila sambil menjabat erat tangan bapak
itu.
“Hallo, Saya Dian
Nugraha, panggil saja Pak Dian ” Kata Pak Dian dengan ramah.
Farah juga
menjabat tangan pak Dian. Pak Dian mengajak Kamila dan Farah menemui
teman-teman yang lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Ada Moses dan Edo dari
Papua, Nordin dan Paulinus dari Kalimantan, Vita dan Andre dari Sulawesi, Said
dan Nuri dari Maluku. Mereka saling bersalaman, sebentar saja keakraban sudah
terjalin diantara semua. Pak Dian dan temannya, Pak Yoga mengajak semuanya
untuk berangkat. Rombongan di bagi dua, sebagian ikut mobil Pak Dian dan
sebagian ikut Pak Yoga. Kamila, Farah, Said dan Nuri ikut dengan Pak Dian.
“Kita lewat
Purwakarta aja ya”?
“Kenapa pak? Tanya
Farah
“Ini akhir pekan
neng, kalau lewat jalan puncak pasti ramai dan macet pisan, bisa berjam-jam
atuh neng kita di jalan” Jawab Pak dian.
“Yah..padahal kita
mau lihat puncak, sekali-kalinya ke bandung kan pengen lihat pemandangannya…” Sela
nuri
“Gampang atuh mah,
kan waktu pulang teh bisa jalan puncak” Ujar Pak Dian dengan logat sundanya.
“Oke deh, kalo
gitu pak…kita nurut aja” kata Kamila dengan tersenyum.
Mereka pun segera
meluncur meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Bandung, mobil satunya yang
di kemudikan Pak Yoga berada di belakang mobil yang di kemudikan Pak Dian.
Sepanjang perjalanan Kamila memilih tidur karena dia masih merasa pusing dengan
perjalanan dengan pesawat tadi. Sementara Farah ngobrol dengan Said dan Nuri.
Farah memang termasuk cewek yang mudah akrab dengan siapa saja dan dia juga
paling suka bercanda. Gelak tawa terdengar kalau Farah menceritakan kejadian
lucu.
Setelah menempuh
perjalanan yang melelahkan, sampailah rombongan di kota yang juga di juluki
Paris van Java ini. Menurut Pak Dian, mereka akan di antar menuju wisma milik
universitas. Semua peserta workshop dan pelatihan ini memang menginap di wisma
yang disediakan oleh universitas. Bukan hanya peserta saja, bahkan moderator dan
trainer juga akan menginap ditempat yang sama.
Sesampainya di
wisma, mereka di sambut oleh pengelolanya yang bernama Bu Monik yang langsung memberikan kunci kamar. Satu kamar di isi oleh
dua orang, dan lagi-lagi Kamila tersenyum karena dia tidak akan berpisah kamar
dengan Farah. Tapi sebelumnya Bu Monik mengajak makan malam walaupun sudah
telat. Setelah itu baru semuanya ke kamar melepaskan kepenatan selama
perjalanan.
*******
(Episode 2)
Pagi hari udara
sejuk Bandung terasa sampai ke tulang. Kamila merapatkan selimut untuk lebih
menghangatkan tubuh. Tapi dia harus bangun dan mandi untuk mengikuti pelatihan.
Kamila menoleh ke tempat tidur satu lagi, di sana Farah masih bergelung dengan selimut.
“Far….!” Panggil
Kamila
“Hmmmm….” Sahut
Farah dengan suara malas.
“Udah bangun..?”
“Blom….” Kata
Farah sambil menggeliatkan badannya “Masih ngantuk dan dingin banget” Farah
memejamkan kembali matanya.
“Tapi ini udah
waktunya kita siap-siap…entar di marahin lho”
“Kamu mandi aja
dulu, entar baru aku” Farah kembali menarik selimutnya.
Mila segera bangun
dan berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan keran air panas dan dingin
sekaligus biar airnya menjadi hangat, dia
tak tahan mandi dengan air yang dingin.
Keluar dari kamar
Kamila dan Farah bertemu dengan Nuri dan Vita yang juga baru keluar dari kamar
mereka dan sudah berpakaian rapi.
“Pagi…” Sapa Vita
“Pagi Vita, gimana
tidurnya semalam? Nyenyakkah tidurmu ? Tanya Farah
“Lumayan…”
“Lumayan ngorok…”
Sambung Nuri “Enak aja…” Vita nyengir.
Kamila dan Farah
tersenyum dan mengajak Vita dan Nuri ke ruang makan. Pagi ini Kamila baru bisa
melihat dengan jelas lokasi wisma ini.. Bangunannya bertingkat dua yang di
pisahkan oleh taman kecil di tengah. Ada 15 kamar . sementara ruang makan
gabung dengan lobi kecil dan dibelakang didekat dapur adalah tempat istirahat
bu Monik dan karyawannya yang semuanya perempuan.
Di ruang makan
akhirnya mereka bisa bertemu dengan trainer yang berasal dari Afrika Selatan,
namanya Fiona. Orangnya ramah dan cantik. Sementara pendampingnya dari
Indonesia adalah mbak Maya. Mbak Maya ini bertugas sebagai penerjemah buat Miss
Fiona.
Setelah makan
pagi, semua peserta dan trainer di antar oleh pak Dian dan Pak Yoga menuju
kampus tempat berlangsungnya acara. Setelah acara pembukaan dan perkenalan
masing-masing peserta, Miss Fiona langsung mengadakan pelatihan. Pelatihan ini
sangat menyenangkan karena ada banyak permainan yang dilakukan oleh peserta.
Bahkan Miss Fiona juga membagi peserta dengan beberapa kelompok. Tujuannya
adalah untuk bagaimana peserta bisa menerapkan semua pengalaman dan empati
ketika kembali lagi ke daerah masing-masing yang sedang konflik.
----------
Acara berlanjut
hingga jam 5 sore, setelah itu mereka akan kembali ke wisma untuk beristirahat
karena malam memang tidak ada kegiatan. Peserta cowok mengajak Kamila dan Farah
untuk jalan-jalan di kota Bandung. Namun karena Farah kurang enak badan, Kamila
memilih untuk menemani Farah kembali ke wisma sementara Nuri dan Vita bergabung
dengan cowok-cowok untuk jalan-jalan. Jadi yang ikut ke wisma hanya Miss Fiona
dan Mbak Maya.
“Kamu tidak ikut
jalan-jalan Kamila?” Tanya Miss Fiona dengan bahasa Indonesia yang
terpatah-patah.
“Tidak miss, agak
ngantuk ni, lagipula Farah tidak enak badan”
“Mungkin masuk
angin” Sela Mbak Maya
“Iya mbak, saya
tidak terbiasa dengan udara dingin, disini sangat dingin. Mana badan masih
capek karena perjalanan jauh…” Kata Farah
“Ntar istirahat
aja terus, jaga staminanya..soalnya acara kita masih beberapa hari lagi, sayang
kan kalo kamu sakit dan tidak bisa ikut” Kata Mbak Maya
“Iya mbak” Ujar
Farah
Sesampai di Wisma,
mereka langsung menuju kamar masing-masing. Farah membuka baju dan jilbabnya
dan menganti dengan baju santai. Dia meminta Kamila untuk mengoleskan minyak
kayu putih dan memijat badannya.
“Ni, minum obat
dulu, tadi aku minta ama Bu Monik..” Kata Kamila sembari memberi gelas berisi
air putih. Farah mengambil obat dan memasukan kedalam mulutnya dan juga
mengambil gelas di tangan Kamila dan menenggak airnya sekali teguk. Farah
membaringkan badannya dan Kamila segera memijat punggungnya.
“Aku benar-benar
tidak tahan disini, keringat gak keluar, kalo keringatku udah keluar..sudah
pasti aku tuh sehat..” kata Farah
“Makanya kamu
istirahat dulu, entar besok pagi gerak-gerakan badan biar keringatan..” Ujar
Kamila.
Setelah selesai
memijat Farah, Kamila menyuruh Farah untuk tidur biar cepat sembuh. Kamila lalu
pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan biar lebih segar.
Saat makan malam
tiba, semua sudah berkumpul di ruang makan. Canda tawa mewarnai suasana santap
malam itu.
“Gimana
jalan-jalannya tadi Vit..?” Tanya Kamila kepada Vita. Vita menghentikan
suapannya unttuk menjawab pertanyaan Kamila.
“Seru dan
heboh..dan….. capek ketawa”
“Gimana engga,
orang kampong liat kota..jadi bingung…” Timpal Andre.
“Moses lain lagi,
gak bisa liat cewek cantik…di liatin terus…ampe cowoknya marah-marah karena
Moses liatin pacarnya hahaha…” Cerita Edo. Semua jadi tertawa, sementara moses
hanya tersipu sambil garuk-garuk kepala.
“Pada belanja
nggak?” Tanya Kamila
“Blom…entar aja
deh pas hari terakhir, kita pergi rame-rame..” Kata Nuri.
Mereka kembali
melanjutkan makan, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring
“Farah, makananmu nggak di abiskan?” Tanya Nordin melihat Farah menaruh
piringnya yang masih ada makanan “Ngak
selera” Farah menjawab pendek. “Masih sakit…?” kali ini Paulinus bertanya
“Udah agak enakan
sih, cuman makanan disini kan manis-manis..gak ada pedas-pedasnya..tau sendiri
aku orang Aceh suka pedas, kalo makan pedas pasti jadi keluar keringat dan
semangat jadinya” ucap Farah dan mengelap mulutnya dengan serbet.
“Minta aja cabe
rawit ama bu Monik” kata Vita
“Udah, entar mau
masak mie instan aja dan di campur jeruk nipis dan cabe rawit yang banyak biar
kepedesan” Ujar Farah dengan mimik serasa mau balas dendam. Semua tertawa
melihat tampang gadis tomboy itu.
Malamnya sebelum
tidur, Farah curhat tentang kehidupan cintanya. Dia lagi dekat dengan orang
Makassar yang sedang bertugas di tempatnya.
“Namanya Dion, aku
panggil dia Bang Dion karena dia lebih tua dari aku” Jelas Farah
“Kalo emang dia
serius, tunggu apa lagi, nggak baek nunda-nuda..” Kata Kamila
“Masalahnya dia
beda dengan kita..” Farah menjawab lesu, Air mukanya kelihatan sedih
“Beda gimana? Beda
suku dan tempat tinggal nggak masalah kan? Yang penting kan masih sama-sama
tinggal di Indonesia”
“Bukan itu non..”
“Lalu apa dong”
Kamila penasaran dan dia memandang Farah lekat lekat. Farah merebahkan badannya
dan memandang langit-langit kamar. “Kami berbeda keyakinan..” Ujarnya lirih.
Kamila memandang
Farah dan dia melihat mata Farah yang berkaca-kaca. Kamila terenyuh dan mengerti dengan apa yang di rasakan Farah.
“Lalu apa yang
akan kamu lakukan?
“Entahlah mil, aku
juga bingung..di satu sisi aku merasa nyaman dengannya, dia adalah orang yang
mengerti dan sangat memahami sifatku..sementara di sisi lain aku juga tidak
ingin mengecewakan orang-orang terkasihku terutama ibu..” Farah tersedu.
Kamila bangkit dan
memeluk sahabatnya itu dengan lembut. Farah semakin tersedu dan menangis di
pelukan Kamila.
“Ibu tahu tentang
ini?” Tanya Kamila
“Ibu tau, Bang
Dion udah pernah ke rumah. Ibu menyambutnya dengan ramah..tak pernah Ibu
bersikap judes kepadanya”
“Ibu juga tahu
kalo dia berbeda?”
“Tahu, tapi Ibu
tak pernah menyinggungnya. Aku tahu dari kakakku kalo sebenarnya Ibu tidak setuju aku berhubungan dengannya tapi
ibu tak pernah mau menunjukkan sikap tidak setujunya kepadaku..dia tetap
bersikap baik dengan bang Dion..” Kamila hanya terdiam mendengar cerita Farah.
Farah melanjutkan ceritanya.
“Apa yang harus
kulakukan Mil?, Kalo saja ibu marah dan menentang hubungan ini, aku bisa
terima..tapi ini..aku jadi tersiksa mil..rasanya jadi serba salah…”
“Sabar ya, semua
itu pasti ada jalan keluarnya…” Katanya mencoba menenangkan Farah. Farah
mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Kamila.
“Sebaiknya kamu
tenangkan diri dulu Far, dan coba jelaskan kepada bang Dion tentang masalah
ini…apa kamu sudah pernah menjelaskan kepadanya?
“Belum Mil, aku
takut bila akhirnya nanti menyakitkan..aku belum siap” Ujar Farah
“Kamu harus bisa
menyelesaikan masalah ini biar jelas. Tapi yang paling penting sekarang kamu
harus bisa tenang dulu dan fokus dengan pelatihan ini dan jaga kesehatanmu ya?..”
“Iya..”
“Udah , sebaiknya
kita tidur yuk…besok kita masih banyak kegiatan” Ajak Kamila
Farah mengangguk
dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Kamila berlalu ke tempat
tidurnya dan mengatur bantal biar lebih nyaman. Farah keluar dari kamar mandi,
mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur. Mereka mencoba untuk tidur karena
sudah larut malam dan keesokan harinya harus bangun pagi untuk pelatihan lagi.
*********
(Episode 3)
Dua hari menjelang
hari penutupan pelatihan, Farah dan Kamila di undang oleh Bu Dewi ke rumahnya.
Bu Dewi adalah istri dari Pak Edi, salah satu petinggi di kampus. Bu Dewi
sangat senang ketika mengetahui ada peserta yang datang dari daerah paling
ujung Pulau Sumatra karena dia pernah tinggal cukup lama di Aceh menemani
suaminya yang menjadi dosen. Bu Dewi
orang yang baik dan ramah. Bahkan dia pernah membawa makanan khas Aceh yaitu
gulai Asam pedas untuk Farah yang waktu itu sedang sakit. Farah sudah cukup
akrab dengan bu Dewi.
Bu Dewi menjemput
mereka setelah acara pelatihan jam 5 sore, sementara teman-teman yang lain
kembali ke wisma. Sebelum sampai ke rumahnya, Bu Dewi membeli sate padang di
tempat langgananya. Hujan mewarnai perjalanan mereka menuju kediaman Bu Dewi.
Sesampainya di rumah Bu Dewi, terlihat anjing pudel kecil menyambut mereka.
Kamila menjauh ketika melihat anjing itu mau mendekatinya. Dia sangat takut dengan
binatang itu. Untunglah seorang perempuan muda memanggil anjing itu dan
merayunya untuk mau masuk ke kandangnya.
Bu Dewi mengajak
Kamila dan Farah untuk masuk ke rumahnya, ada tangga kecil untuk ke ruang tamu.
Walau ruang tamunya bersih dan rapi tapi entah mengapa Kamila merasa ada
suasana lain ketika dia duduk di ruang tamu itu. Bukan perasaan ngeri atau pun
takut, dia pun tak mengerti dengan apa yang di rasakannya. Cepat-cepat Kamila
menepis perasaan anehnya dan mengajak ngobrol Farah. Perempuan muda tadi muncul
kembali membawa minuman untuk mereka berdua. Perempuan itu mempersilahkan
Kamila dan Farah untuk minum dan dia segera beranjak ke ruang dalam. Tak lama bu
Dewi muncul dan duduk bersama mereka.
“Sur, Surti,
tolong ambilkan piring dan sendok ya..?” Pinta Bu Dewi mungkin kepada perempuan
muda tadi.
Tak lama kemudian
perempuan muda itu atau Surti muncul membawa yang di minta Bu Dewi. Bu Dewi
kemudian memberikan sendok dan piring kepada Kamila dan Farah lalu mengajak keduanya
untuk makan sate yang di beli tadi.
Sambil makan sate,
Bu dewi mengajak ngobrol. Dia bercerita tentang kisah cintanya dengan suaminya.
“Bapak orangnya
pendiam, entah kenapa ibu bisa cocok dengan dia, padahal sifat kami berdua
sangat beda..” Bu Dewi terkekeh
“Trus yang mulai duluan
siapa bu?” Tanya Kamila penasaran.
“Ibu malu
bilangnya, tapi emang ibu yg mulai duluan ha ha ha.” Ujar Bu Dewi sambil
tertawa.
“Gimana cara ibu
waktu menarik perhatian bapak? Tanya Farah. Bu Dewi mengambil air minum dan
meminumnya. “ Seperti yang ibu bilang bapak orangnya pendiam, tak banyak
omong..” Bu Dewi memulai ceritanya. Tangannya mengambil setusuk sate dan
melumuri sate tersebut dengan kuah sate yang ada di piringnya. Kamila dan Farah
juga melanjutkan makan sembari telinga mereka juga siaga dengan cerita Bu Dewi.
Bu Dewi bercerita kalau Pak Edi adalah mahasiswa yang pintar “Sehari-hari
kerjanya hanya belajar dan menghabiskan waktu di perpustakaan, tak pernah
sekalipun ibu lihat bapak tuh kumpul dengan teman-teman lain ..becanda ato
ngabisin waktu tuk have fun. Mungkin karena itu juga yang buat ibu jadi suka
ama bapak…waktu pacaran pun lama-lama ibu kok ngerasa nyaman dan cocok
dengannya. …pemikirannya, pandangannya tentang hidup dan masa depan..pokoknya
memang calon suami impian deh…” Ujar Bu Dewi sambil tersenyum membayangkan
masa-masa sewaktu dulu.
”Wah seru ya bu.
Trus gimana waktu nikahnya?” Tanya Kamila
”Kami udah pacaran
cukup lama, kami selalu merasa cocok. Bapak sudah merasa ibu adalah pasangan
jiwanya..begitu juga ibu nganggap bapak sebagai pelindung..Cuma satu yang
membedakan kami yaitu…masalah keyakinan, sama seperti yang di alami oleh Farah
sekarang……”
Kamila memandang
Farah, ternyata Farah sudah cerita juga kepada Bu Dewi tentang masalahnya.
Sementara Farah hanya terdiam menyimak cerita bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan
ceritanya “Pihak keluarga awalnya tidak setuju bila kami menikah Karena
perbedaan agama ini.. setelah perundingan dan diskusi yang cukup lama dan
mereka juga melihat bahwa kami tidak bisa di pisahkan lagi, akhirnya keluarga ibu
mengijinkan pernikahan ini…”
“Lalu bagaimana
jadinya bu? Apakah ibu mengikuti agama
bapak atau bapak mengikuti agama ibu?” Kamila semakin penasaran.
“Oh tidak, kami
tetap di agama masing- masing, tapi akad nikah dilakukan secara Islam, tapi
bapak tidak masuk Islam….” Jelas Bu Dewi lagi.
Kamila tersentak
dengan penjelasan Bu Dewi. Bagaimana bisa? Batinnya. Dia melirik Farah yang
duduk disampingnya, Farah menunduk dan akhirnya mengangkat mukanya. “Lalu bu?
Bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya kami
menikah di kampung ibu, kemudian kami tinggal di bandung dan bapak mendapatkan
pekerjaan sebagai dosen. Bapak kan pintar jadi cepat dapat kerjaan. Kami tetap
menjalani kehidupan dan agama yang di anut… Bapak ke gereja sementara ibu masih
menjalani shalat dan puasa”
Kamila semakin tak
mengerti, bagaimana bisa menjalani kehidupan dengan pasangan yang beda agama
apalagi yang suami bukan Islam dan tidak bisa menjadi imam? Hilang sudah selera
makan Kamila. Dia hanya terdiam dan menunggu kelanjutan cerita dari bu Dewi.
“Setelah ibu
melahirkan Budi, anak laki-laki ibu satu-satunya, ibu menjalani peran sebagai
ibu rumah tangga, ngurus rumah…anak dan suami..tapi ibu merasa tetap tidak baik
bila dalam satu rumah ada dua keyakinan, rasanya jadi timpang….” Bu Dewi
memandang Kamila dan Farah yang menyimak ceritanya.
“Ibu sering ikuti
bapak bila ke gereja dan pelajari bagaimana kehidupan umat Christian. Lama-lama
atas inisiatif sendiri akhirnya ibu milih jalan yang sama dengan bapak, bapak
tak pernah maksa ibu., sekalipun tak pernah.. Dan bagi ibu semua agama itu sama
baiknya….”
Kamila tersentak
mendengar ucapan Bu Dewi. Dia memandang wajah bu Dewi yang masih cantik di
usianya mungkin sekitar 40-an. Kamila merasa menemukan jawaban dari suasana
yang dirasakannya ketika baru pertamakali menginjak rumah ini. Suasana yang
berbeda bila dia masuk kerumah orang muslim.
“Ibu cerita ini bukan
karena Farah sedang mengalami hal yang sama dengan ibu dulu, dan bukan juga
untuk mengajak Farah agar mengikuti seperti yang ibu jalani sekarang… Ibu hanya
ingin berbagi dengan apa yang ibu alami. Masalah kamu hanya kamu yang bisa
selesaikan, berdoalah pada Allah bila kamu shalat, semoga akan ada jalan
terbaik. Dan bagi ibu, ini adalah jalan terbaik yang ibu pilih….”
“Apakah ibu bahagia?”
Tanya Kamila dengan pelan. Kamila juga takut bila Bu Dewi tersinggung dengan
pertanyaanya. Bu Dewi tersenyum memandang Kamila. Sepertinya dia tahu apa yang
di rasakan Kamila “Tentu ibu bahagia,
kalo ibu tidak bahagia. Tak mungkin ibu masih bersama bapak…”
Kamila dan Farah hanya
tersenyum memandang bu Dewi. Bu Dewi
melanjutkan ucapannya “Kami saling mencintai, selalu menghabiskan waktu
bersama, kemana bapak pergi bertugas, ibu selalu ikut” Bu Dewi terdiam dan
menghela nafas “Inilah pilihan ibu, ibu
tak perduli apa kata orang lain… Selama keluarga ibu dan bapak baek saja. Ini
lah yang memberi kebahagian. Keluarga ibu di kampung juga tidak masalah dengan
pilihan ibu… ibu sangat bahagia…”
Kamila dan Farah
kembali tersenyum. Bu Dewi meraih tangan Farah dan mengusap jarinya dengan
hangat “Ambillah keputusan yang paling
baik dan bijaksana, jangan sampai kamu salah langkah dan akhirnya menyesal,
bagaimanapun juga ini adalah untuk kebahagian kamu nantinya” Farah mengangguk.
Pak Edi muncul dan
bergabung dengan mereka. Benar seperti yang di katakan Bu Dewi bahwa Pak Edi
orangnya tak banyak bicara. Tapi dari ucapannya terlihat bahwa dia orang yang
pintar dan berpendidikan. Kamila dan Farah menyudahi kunjungan mereka di rumah
Bu Dewi. Bu Dewi mengantar mereka kembali ke wisma dan ternyata Pak Edi juga
mau mengantar. Sepanjang perjalanan memang hanya Bu Dewi yang banyak bicara,
Pak Edi sesekali menimpali atau tersenyum kecil. Farah yang pada dasarnya bawel
juga mulai membawakan diri dengan ceritanya yang lucu. Sedikit berbeda ketika
tadi masih dirumah Bu Dewi.
Sampai di wisma,
terlihat beberapa teman sedang duduk santai di kursi taman sembari main gitar
dan bernyanyi. Pak Edi dan Bu Dewi langsung pamit. Kamila dan Farah kembali ke
kamar untuk ganti baju dan mandi. Setelah itu mereka bergabung dengan teman-teman
yang lain dan membicarakan acara
perpisahan besok pagi.
Pukul sepuluh
malam semua kembali ke kamar masing-masing. Kamila yang baru saja keluar dari
kamar mandi mendapati Farah yang sedang menelpon, kelihatannya dengan pacarnya.
Kamila tak ingin mengganggu Farah dan dia pun segera ketempat tidurnya.
“Kamu sudah tidur
mil?” Usik Farah
Kamila membalikkan
badannya menghadap Farah. “Gimana dengan
cerita bu Dewi tadi mil?” Farah melanjutkan pertanyaanya “Kalo menurutmu,
gimana?” Kamila balik bertanya. Farah mengangkat bahunya pertanda dia tidak
tahu mau mengatakan apa.
“Kamu tau Far apa
yang kurasakan? Aku sangat terkejut dengan cerita bu Dewi ..mungkin dia merasa
bahagia dengan kehidupannya sekarang, tapi aku yakin, jauh di dasar
hatinya..pasti ada rasa yang kosong..rasa yang hilang..tapi itulah pilihannya…
jalannya…”
“Iya, bu Dewi
sempat cerita ke aku sebelumnya kalo aku harus tetap kuat dengan masalahku..
tapi aku bener-bener nggak tahu sampai dia cerita tadi, ku pikir dia sama
dengan kita karena dia tahu banyak tentang Islam, eh ternyata..”
“Pantesan waktu
masuk rumahnya aku ngerasa aneh banget” Kamila membayangkan situasi sewaktu di
rumah Bu Dewi.
“Iya, aku juga
gitu” ujar Farah.
“Lalu, bagaimana
dengan dirimu? Apa yang akan kamu lakukan dengan bang Dion?”
“Entahlah mil, aku
belum menentukan apapun..mungkin setelah kembali ke kampung aku akan bicara
dengannya..semoga aku cukup kuat apapun yang terjadi..”
“InsyaAllah ya
far..semoga ada jalan terbaik dan kamu tak salah dalam memilih..pikirkan dengan
lebih jernih apa yang terbaik..”
“Iya mil, terus terang
cerita bu Dewi tadi memberi pelajaran baru buatku..”
Kamila tersenyum
dan memandang Farah yang juga tersenyum. Kamila yakin Farah pasti bisa
meyelesaikan masalahnya itu. Mereka segera merebahkan badan untuk tidur.
Kamila tersentak
dan memandang sekeliling, tidak ada bayangan Farah. Dia bangun dan heran dia
ada di kamarnya dan di tempat tidurnya. Dia sadar ternyata tadi dia sedang
mengetik ketika Farah menelponnya. Tanpa dia sadari dia tertidur ketika
mengingat semua kejadian di Bandung dulu. Kamila melihat jam weker disamping
dipan yang menunjukkan angka 3. “Sudah jam tiga pagi rupanya, pantesan sepi”
batinnya.
Dia beranjak ke
kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah shalat tahajjud dia pun ingin
mengungkapkan perasaanya kepada Allah.
“Ya Rabb,
Alhamdulillah hamba masih di beri kesempatan untuk bisa menghadap-Mu.
Alhamdulillah atas hidup yang Kau berikan, masalah-masalah yang buat hamba
kuat. Pengalaman-pengalaman yang menjadi pelajaran buat hamba. Hamba juga ingin
memohon ya Allah, jangan pernah runtuhkan keimanan di hati hamba, kuatkan
selalu agar hamba tetap di jalan-Mu. Apapun yang terjadi, hamba ingin tetap
berada dalam ridho-Mu, beriman hanya kepada-Mu dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi
Wasalam. Jangan bolak balikkan hati ini kearah yang tidak semestinya. Biarkan
iman ini tetap kuat di dalamnya..Aamin ya Rabbal’Alamin..”
Ada kesejukan dan
kelegaan di dalam dada ketika dia melepas mukena yang di pakainya. Sambil melipat
sajadah dia teringat ucapan Farah. Farah pernah mengatakan kepadanya bahwa dia
takkan menukar rasa cinta kepada seseorang dengan keyakinan yang dianutnya.
“Aku tuh bukan
orang yang alim banget, tapi mengaji aku bisa, sedikit dikit aku juga tau
tentang hukum dan peraturan Islam..walau kadang sering juga tinggalin sholat
dan puasa, tapi bukan berarti aku mau pindah keyakinan demi seorang cowok….Aku
gak pengen liat ibu menangis dan menyesal telah melahirkanku, senakal-nakalnya
aku..tak ingin aku menjadi anak yang tak di anggap oleh ibu kandungku… “
Ujarnya waktu itu. Farah juga mengatakan biarlah cintanya kandas dan
meninggalkan semua kenangan dan duka lara, ia yakin seiring berjalannya waktu,
duka itu akan sembuh.
Kamila menyadari
cinta itu memang buta dan bisa membutakan segalanya bila tidak ada keyakinan
dan keimanan yang kuat. Dia bersyukur bahwa Farah akhirnya bisa menyelesaikan
masalahnya dengan Dion. Walaupun sampai sekarang Farah juga belum menikah, Kamila yakin masih banyak cowok seiman yang
mau menikah dengan Farah. Jodoh itu sudah di tentukan Allah. Kapan datangnya hanya
Allah lah yang tahu. Dan Kamila percaya itu.
****SELESAI****
