Pengikut

Kamis, 24 Mei 2012

♪♥♥ KETIKA SEBUAH KEYAKINAN LUNTUR (A TRUE STORY) ♥♥



(Episode 1)
Malam beranjak naik dan sayup sayup suara kendaraan di jalan raya terdengar tak begitu ramai. Angin malam berhembus dan masuk ke sebuah kamar melalui jendela yang terbuka sedikit. Suara tombol keyboard komputer mengisi ruang kamar. Kamila menghentikan kegiatannya mengetik ketika terdengar nada panggilan dari ponselnya. Dia melihat nama yang tertera di layar, Farah! Senyumnya merekah dan Kamila menghentikan ketikannya dan berjalan ke tempat tidur sembari mengangkat telpon.
“Assalamualaikum, Halooo..” Katanya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.
“Wa’alaikumsalam,.. lagi ngapain kamu…?” Terdengar suara Farah di gendang telinganya.
“Lagi bikin tugas dari kantor” Jawab Kamila.
“Aku kangen lah pengen ketemu”
“Yah kesini aja”
“Ugh..mana sempat, sibuk kali ni. Yahh, kalo aku ada waktu, kapan-kapan aku akan maen ke kotamu.” Kamila tersenyum mendengar ucapan Farah. Kalau saja rumah mereka berdekatan. Tentu hampir tiap hari dia akan bertemu dengan si gadis tomboy ini.
“Iya aku tunggu ya..” Ujar Kamila.
Setelah berbasa-basi menceritakan kegiatan masing-masing. Kamila menyudahi obrolannya dengan Farah. Kamila beranjak dari tempat tidur dan kembali ke depan meja komputer melanjutkan ketikannya. Tapi dia tidak memulai untuk mengetik lagi. Kamila masih memikirkan percakapannya dengan Farah. Sahabat yang di kenalnya ketika mengikuti pelatihan di kota Bandung, beberapa tahun yang lalu. Ada satu peristiwa yang membuatnya masih berfikir tentang sebuah keyakinan. Betapa mudahnya seseorang berubah hanya demi sebuah cinta. Dan itulah yang terjadi.

Pertengahan April Tahun 2003
Suara pramugari terdengar merdu menyuruh semua penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.
”Eh Mila, bangun..udah nyampe ni” Farah mengoyang-goyangkan bahu Kamila. Kamila membuka mata dan memandang keluar jendela, Pesawat sudah menjejakkan rodanya di landasan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan masih mencari tempat yang pas untuk berhenti. Sayup sayup masih terdengar suara pramugari yang mengingatkan untuk tidak membuka sabuk pengaman sebelum roda pesawat benar-benar berhenti. Tapi dasar penumpang bandel, sebagian malah sudah membuka sabuk pengaman dan malah sudah menghidupkan ponsel, padahal itu akan mengganggu sistem dalam pesawat. Kamila hanya menghela nafas melihat itu semua. Dia dan Farah tetap memilih untuk duduk. Setelah roda pesawat sudah berhenti, Mereka segera mengambil tas rangsel di bagasi atas tempat duduk dan melangkah mengikuti penumpang lain yang berjalan keluar dari pesawat dan  menuju ke terminal kedatangan. 
Kamila dan Farah akan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan di salah satu Universitas swasta terkenal di kota kembang itu. Mereka di undang lembaga internasional non provit. Pada tahun 2003, beberapa daerah di Indonesia sedang mengalami konflik. Seperti Aceh, Kalimantan, Maluku dan Papua. Lembaga swadaya masyarakat atau LSM mengundang Radio-radio swasta dari masing-masing daerah konflik. Kenapa radio?, karena radio adalah media penyiaran yang dekat dengan masyarakat dan di harapkan bisa membantu meredam konflik yang terjadi di daerahnya. Karena Kamila dan Farah berasal dari daerah paling ujung Pulau Sumatera dan bekerja di radio swasta di kota kecil tempat mereka tinggal, maka di pilihlah mereka berdua. Kamila sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini dan juga sangat beruntung bisa terpilih. Dia akan mendapatkan ilmu dan berdiskusi dengan teman-teman yang lain.
Di bandara Soekarno Hatta ini, mereka akan di jemput oleh utusan dari Universitas. Kamila melihat-lihat dan mencari orang yang akan menjemput. Terlihat seorang Bapak memegang kertas karton bertuliskan nama universitas  dan lembaga yang menjadi funding acara itu. Kamila mengamit tangan Farah dan menghampiri bapak itu. Sambil tersenyum Kamila memperkenalkan diri.
“Hallo pak, saya Kamila dan ini Farah dari Aceh” Ujar Kamila sambil menjabat erat tangan bapak itu.
“Hallo, Saya Dian Nugraha, panggil saja Pak Dian ” Kata Pak Dian dengan ramah.
Farah juga menjabat tangan pak Dian. Pak Dian mengajak Kamila dan Farah menemui teman-teman yang lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Ada Moses dan Edo dari Papua, Nordin dan Paulinus dari Kalimantan, Vita dan Andre dari Sulawesi, Said dan Nuri dari Maluku. Mereka saling bersalaman, sebentar saja keakraban sudah terjalin diantara semua. Pak Dian dan temannya, Pak Yoga mengajak semuanya untuk berangkat. Rombongan di bagi dua, sebagian ikut mobil Pak Dian dan sebagian ikut Pak Yoga. Kamila, Farah, Said dan Nuri ikut dengan Pak Dian.
“Kita lewat Purwakarta aja ya”?
“Kenapa pak? Tanya Farah
“Ini akhir pekan neng, kalau lewat jalan puncak pasti ramai dan macet pisan, bisa berjam-jam atuh neng kita di jalan” Jawab Pak dian.
“Yah..padahal kita mau lihat puncak, sekali-kalinya ke bandung kan pengen lihat pemandangannya…” Sela nuri
“Gampang atuh mah, kan waktu pulang teh bisa jalan puncak” Ujar Pak Dian dengan logat sundanya.
“Oke deh, kalo gitu pak…kita nurut aja” kata Kamila dengan tersenyum.
Mereka pun segera meluncur meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Bandung, mobil satunya yang di kemudikan Pak Yoga berada di belakang mobil yang di kemudikan Pak Dian. Sepanjang perjalanan Kamila memilih tidur karena dia masih merasa pusing dengan perjalanan dengan pesawat tadi. Sementara Farah ngobrol dengan Said dan Nuri. Farah memang termasuk cewek yang mudah akrab dengan siapa saja dan dia juga paling suka bercanda. Gelak tawa terdengar kalau Farah menceritakan kejadian lucu.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, sampailah rombongan di kota yang juga di juluki Paris van Java ini. Menurut Pak Dian, mereka akan di antar menuju wisma milik universitas. Semua peserta workshop dan pelatihan ini memang menginap di wisma yang disediakan oleh universitas. Bukan hanya peserta saja, bahkan moderator dan trainer juga akan menginap ditempat yang sama.
Sesampainya di wisma, mereka di sambut oleh pengelolanya yang bernama Bu Monik yang langsung  memberikan kunci kamar. Satu kamar di isi oleh dua orang, dan lagi-lagi Kamila tersenyum karena dia tidak akan berpisah kamar dengan Farah. Tapi sebelumnya Bu Monik mengajak makan malam walaupun sudah telat. Setelah itu baru semuanya ke kamar melepaskan kepenatan selama perjalanan.
       
                                *******
(Episode 2)
Pagi hari udara sejuk Bandung terasa sampai ke tulang. Kamila merapatkan selimut untuk lebih menghangatkan tubuh. Tapi dia harus bangun dan mandi untuk mengikuti pelatihan. Kamila menoleh ke tempat tidur satu lagi, di sana Farah masih bergelung  dengan selimut.
“Far….!” Panggil Kamila
“Hmmmm….” Sahut Farah dengan suara malas.
“Udah bangun..?”
“Blom….” Kata Farah sambil menggeliatkan badannya “Masih ngantuk dan dingin banget” Farah memejamkan kembali matanya.
“Tapi ini udah waktunya kita siap-siap…entar di marahin lho”
“Kamu mandi aja dulu, entar baru aku” Farah kembali menarik selimutnya.
Mila segera bangun dan berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan keran air panas dan dingin sekaligus biar airnya menjadi hangat, dia  tak tahan mandi dengan air yang dingin.
Keluar dari kamar Kamila dan Farah bertemu dengan Nuri dan Vita yang juga baru keluar dari kamar mereka dan sudah berpakaian rapi.
“Pagi…” Sapa Vita
“Pagi Vita, gimana tidurnya semalam? Nyenyakkah tidurmu ? Tanya Farah
“Lumayan…”
“Lumayan ngorok…” Sambung Nuri  “Enak aja…”  Vita nyengir.
Kamila dan Farah tersenyum dan mengajak Vita dan Nuri ke ruang makan. Pagi ini Kamila baru bisa melihat dengan jelas lokasi wisma ini.. Bangunannya bertingkat dua yang di pisahkan oleh taman kecil di tengah. Ada 15 kamar . sementara ruang makan gabung dengan lobi kecil dan dibelakang didekat dapur adalah tempat istirahat bu Monik dan karyawannya yang semuanya perempuan.
Di ruang makan akhirnya mereka bisa bertemu dengan trainer yang berasal dari Afrika Selatan, namanya Fiona. Orangnya ramah dan cantik. Sementara pendampingnya dari Indonesia adalah mbak Maya. Mbak Maya ini bertugas sebagai penerjemah buat Miss Fiona.
Setelah makan pagi, semua peserta dan trainer di antar oleh pak Dian dan Pak Yoga menuju kampus tempat berlangsungnya acara. Setelah acara pembukaan dan perkenalan masing-masing peserta, Miss Fiona langsung mengadakan pelatihan. Pelatihan ini sangat menyenangkan karena ada banyak permainan yang dilakukan oleh peserta. Bahkan Miss Fiona juga membagi peserta dengan beberapa kelompok. Tujuannya adalah untuk bagaimana peserta bisa menerapkan semua pengalaman dan empati ketika kembali lagi ke daerah masing-masing yang sedang konflik.
                                        ----------
Acara berlanjut hingga jam 5 sore, setelah itu mereka akan kembali ke wisma untuk beristirahat karena malam memang tidak ada kegiatan. Peserta cowok mengajak Kamila dan Farah untuk jalan-jalan di kota Bandung. Namun karena Farah kurang enak badan, Kamila memilih untuk menemani Farah kembali ke wisma sementara Nuri dan Vita bergabung dengan cowok-cowok untuk jalan-jalan. Jadi yang ikut ke wisma hanya Miss Fiona dan Mbak Maya.
“Kamu tidak ikut jalan-jalan Kamila?” Tanya Miss Fiona dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.
“Tidak miss, agak ngantuk ni, lagipula Farah tidak enak badan”
“Mungkin masuk angin” Sela Mbak Maya
“Iya mbak, saya tidak terbiasa dengan udara dingin, disini sangat dingin. Mana badan masih capek karena perjalanan jauh…” Kata Farah
“Ntar istirahat aja terus, jaga staminanya..soalnya acara kita masih beberapa hari lagi, sayang kan kalo kamu sakit dan tidak bisa ikut” Kata Mbak Maya
“Iya mbak” Ujar Farah
Sesampai di Wisma, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Farah membuka baju dan jilbabnya dan menganti dengan baju santai. Dia meminta Kamila untuk mengoleskan minyak kayu putih dan memijat badannya.
“Ni, minum obat dulu, tadi aku minta ama Bu Monik..” Kata Kamila sembari memberi gelas berisi air putih. Farah mengambil obat dan memasukan kedalam mulutnya dan juga mengambil gelas di tangan Kamila dan menenggak airnya sekali teguk. Farah membaringkan badannya dan Kamila segera memijat punggungnya.
“Aku benar-benar tidak tahan disini, keringat gak keluar, kalo keringatku udah keluar..sudah pasti aku tuh sehat..” kata Farah
“Makanya kamu istirahat dulu, entar besok pagi gerak-gerakan badan biar keringatan..” Ujar Kamila.
Setelah selesai memijat Farah, Kamila menyuruh Farah untuk tidur biar cepat sembuh. Kamila lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan biar lebih segar.
Saat makan malam tiba, semua sudah berkumpul di ruang makan. Canda tawa mewarnai suasana santap malam itu.
“Gimana jalan-jalannya tadi Vit..?” Tanya Kamila kepada Vita. Vita menghentikan suapannya unttuk menjawab pertanyaan Kamila.
“Seru dan heboh..dan….. capek ketawa”
“Gimana engga, orang kampong liat kota..jadi bingung…” Timpal Andre.
“Moses lain lagi, gak bisa liat cewek cantik…di liatin terus…ampe cowoknya marah-marah karena Moses liatin pacarnya hahaha…” Cerita Edo. Semua jadi tertawa, sementara moses hanya tersipu sambil garuk-garuk kepala.
“Pada belanja nggak?” Tanya Kamila
“Blom…entar aja deh pas hari terakhir, kita pergi rame-rame..” Kata Nuri.
Mereka kembali melanjutkan makan, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring “Farah, makananmu nggak di abiskan?” Tanya Nordin melihat Farah menaruh piringnya yang masih ada makanan  “Ngak selera” Farah menjawab pendek. “Masih sakit…?” kali ini Paulinus bertanya
“Udah agak enakan sih, cuman makanan disini kan manis-manis..gak ada pedas-pedasnya..tau sendiri aku orang Aceh suka pedas, kalo makan pedas pasti jadi keluar keringat dan semangat jadinya” ucap Farah dan mengelap mulutnya dengan serbet.
“Minta aja cabe rawit ama bu Monik” kata Vita
“Udah, entar mau masak mie instan aja dan di campur jeruk nipis dan cabe rawit yang banyak biar kepedesan” Ujar Farah dengan mimik serasa mau balas dendam. Semua tertawa melihat tampang gadis tomboy itu.
Malamnya sebelum tidur, Farah curhat tentang kehidupan cintanya. Dia lagi dekat dengan orang Makassar yang sedang bertugas di tempatnya.
“Namanya Dion, aku panggil dia Bang Dion karena dia lebih tua dari aku” Jelas Farah
“Kalo emang dia serius, tunggu apa lagi, nggak baek nunda-nuda..” Kata Kamila
“Masalahnya dia beda dengan kita..” Farah menjawab lesu, Air mukanya kelihatan sedih
“Beda gimana? Beda suku dan tempat tinggal nggak masalah kan? Yang penting kan masih sama-sama tinggal di Indonesia”
“Bukan itu non..”
“Lalu apa dong” Kamila penasaran dan dia memandang Farah lekat lekat. Farah merebahkan badannya dan memandang langit-langit kamar. “Kami berbeda keyakinan..” Ujarnya lirih.
Kamila memandang Farah dan dia melihat mata Farah yang berkaca-kaca. Kamila terenyuh dan  mengerti dengan apa yang di rasakan Farah.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?
“Entahlah mil, aku juga bingung..di satu sisi aku merasa nyaman dengannya, dia adalah orang yang mengerti dan sangat memahami sifatku..sementara di sisi lain aku juga tidak ingin mengecewakan orang-orang terkasihku terutama ibu..” Farah tersedu.
Kamila bangkit dan memeluk sahabatnya itu dengan lembut. Farah semakin tersedu dan menangis di pelukan Kamila.
“Ibu tahu tentang ini?” Tanya Kamila
“Ibu tau, Bang Dion udah pernah ke rumah. Ibu menyambutnya dengan ramah..tak pernah Ibu bersikap judes kepadanya”
“Ibu juga tahu kalo dia berbeda?”
“Tahu, tapi Ibu tak pernah menyinggungnya. Aku tahu dari kakakku kalo sebenarnya Ibu  tidak setuju aku berhubungan dengannya tapi ibu tak pernah mau menunjukkan sikap tidak setujunya kepadaku..dia tetap bersikap baik dengan bang Dion..” Kamila hanya terdiam mendengar cerita Farah. Farah melanjutkan ceritanya.
“Apa yang harus kulakukan Mil?, Kalo saja ibu marah dan menentang hubungan ini, aku bisa terima..tapi ini..aku jadi tersiksa mil..rasanya jadi serba salah…”
“Sabar ya, semua itu pasti ada jalan keluarnya…” Katanya mencoba menenangkan Farah. Farah mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Kamila.
“Sebaiknya kamu tenangkan diri dulu Far, dan coba jelaskan kepada bang Dion tentang masalah ini…apa kamu sudah pernah menjelaskan kepadanya?
“Belum Mil, aku takut bila akhirnya nanti menyakitkan..aku belum siap” Ujar Farah
“Kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini biar jelas. Tapi yang paling penting sekarang kamu harus bisa tenang dulu dan fokus dengan pelatihan ini dan jaga kesehatanmu ya?..”
“Iya..”
“Udah , sebaiknya kita tidur yuk…besok kita masih banyak kegiatan” Ajak Kamila
Farah mengangguk dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Kamila berlalu ke tempat tidurnya dan mengatur bantal biar lebih nyaman. Farah keluar dari kamar mandi, mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur. Mereka mencoba untuk tidur karena sudah larut malam dan keesokan harinya harus bangun pagi untuk pelatihan lagi.
                                        *********
(Episode 3)
Dua hari menjelang hari penutupan pelatihan, Farah dan Kamila di undang oleh Bu Dewi ke rumahnya. Bu Dewi adalah istri dari Pak Edi, salah satu petinggi di kampus. Bu Dewi sangat senang ketika mengetahui ada peserta yang datang dari daerah paling ujung Pulau Sumatra karena dia pernah tinggal cukup lama di Aceh menemani suaminya yang menjadi dosen. Bu  Dewi orang yang baik dan ramah. Bahkan dia pernah membawa makanan khas Aceh yaitu gulai Asam pedas untuk Farah yang waktu itu sedang sakit. Farah sudah cukup akrab dengan bu Dewi.
Bu Dewi menjemput mereka setelah acara pelatihan jam 5 sore, sementara teman-teman yang lain kembali ke wisma. Sebelum sampai ke rumahnya, Bu Dewi membeli sate padang di tempat langgananya. Hujan mewarnai perjalanan mereka menuju kediaman Bu Dewi. Sesampainya di rumah Bu Dewi, terlihat anjing pudel kecil menyambut mereka. Kamila menjauh ketika melihat anjing itu mau mendekatinya. Dia sangat takut dengan binatang itu. Untunglah seorang perempuan muda memanggil anjing itu dan merayunya untuk mau masuk ke kandangnya.
Bu Dewi mengajak Kamila dan Farah untuk masuk ke rumahnya, ada tangga kecil untuk ke ruang tamu. Walau ruang tamunya bersih dan rapi tapi entah mengapa Kamila merasa ada suasana lain ketika dia duduk di ruang tamu itu. Bukan perasaan ngeri atau pun takut, dia pun tak mengerti dengan apa yang di rasakannya. Cepat-cepat Kamila menepis perasaan anehnya dan mengajak ngobrol Farah. Perempuan muda tadi muncul kembali membawa minuman untuk mereka berdua. Perempuan itu mempersilahkan Kamila dan Farah untuk minum dan dia segera beranjak ke ruang dalam. Tak lama bu Dewi muncul dan duduk bersama mereka.
“Sur, Surti, tolong ambilkan piring dan sendok ya..?” Pinta Bu Dewi mungkin kepada perempuan muda tadi.
Tak lama kemudian perempuan muda itu atau Surti muncul membawa yang di minta Bu Dewi. Bu Dewi kemudian memberikan sendok dan piring kepada Kamila dan Farah lalu mengajak keduanya untuk makan sate yang di beli tadi.
Sambil makan sate, Bu dewi mengajak ngobrol. Dia bercerita tentang kisah cintanya dengan suaminya.
“Bapak orangnya pendiam, entah kenapa ibu bisa cocok dengan dia, padahal sifat kami berdua sangat beda..” Bu Dewi terkekeh
“Trus yang mulai duluan siapa bu?” Tanya Kamila penasaran.
“Ibu malu bilangnya, tapi emang ibu yg mulai duluan ha ha ha.” Ujar Bu Dewi sambil tertawa.
“Gimana cara ibu waktu menarik perhatian bapak? Tanya Farah. Bu Dewi mengambil air minum dan meminumnya. “ Seperti yang ibu bilang bapak orangnya pendiam, tak banyak omong..” Bu Dewi memulai ceritanya. Tangannya mengambil setusuk sate dan melumuri sate tersebut dengan kuah sate yang ada di piringnya. Kamila dan Farah juga melanjutkan makan sembari telinga mereka juga siaga dengan cerita Bu Dewi. Bu Dewi bercerita kalau Pak Edi adalah mahasiswa yang pintar “Sehari-hari kerjanya hanya belajar dan menghabiskan waktu di perpustakaan, tak pernah sekalipun ibu lihat bapak tuh kumpul dengan teman-teman lain ..becanda ato ngabisin waktu tuk have fun. Mungkin karena itu juga yang buat ibu jadi suka ama bapak…waktu pacaran pun lama-lama ibu kok ngerasa nyaman dan cocok dengannya. …pemikirannya, pandangannya tentang hidup dan masa depan..pokoknya memang calon suami impian deh…” Ujar Bu Dewi sambil tersenyum membayangkan masa-masa sewaktu dulu.
”Wah seru ya bu. Trus gimana waktu nikahnya?” Tanya Kamila
”Kami udah pacaran cukup lama, kami selalu merasa cocok. Bapak sudah merasa ibu adalah pasangan jiwanya..begitu juga ibu nganggap bapak sebagai pelindung..Cuma satu yang membedakan kami yaitu…masalah keyakinan, sama seperti yang di alami oleh Farah sekarang……”
Kamila memandang Farah, ternyata Farah sudah cerita juga kepada Bu Dewi tentang masalahnya. Sementara Farah hanya terdiam menyimak cerita bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan ceritanya “Pihak keluarga awalnya tidak setuju bila kami menikah Karena perbedaan agama ini.. setelah perundingan dan diskusi yang cukup lama dan mereka juga melihat bahwa kami tidak bisa di pisahkan lagi, akhirnya keluarga ibu mengijinkan pernikahan ini…”
“Lalu bagaimana jadinya bu? Apakah ibu  mengikuti agama bapak atau bapak mengikuti agama ibu?”  Kamila semakin penasaran.
“Oh tidak, kami tetap di agama masing- masing, tapi akad nikah dilakukan secara Islam, tapi bapak tidak masuk Islam….” Jelas Bu Dewi lagi.
Kamila tersentak dengan penjelasan Bu Dewi. Bagaimana bisa? Batinnya. Dia melirik Farah yang duduk disampingnya, Farah menunduk dan akhirnya mengangkat mukanya. “Lalu bu? Bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya kami menikah di kampung ibu, kemudian kami tinggal di bandung dan bapak mendapatkan pekerjaan sebagai dosen. Bapak kan pintar jadi cepat dapat kerjaan. Kami tetap menjalani kehidupan dan agama yang di anut… Bapak ke gereja sementara ibu masih menjalani shalat dan puasa”
Kamila semakin tak mengerti, bagaimana bisa menjalani kehidupan dengan pasangan yang beda agama apalagi yang suami bukan Islam dan tidak bisa menjadi imam? Hilang sudah selera makan Kamila. Dia hanya terdiam dan menunggu kelanjutan cerita dari bu Dewi.
“Setelah ibu melahirkan Budi, anak laki-laki ibu satu-satunya, ibu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, ngurus rumah…anak dan suami..tapi ibu merasa tetap tidak baik bila dalam satu rumah ada dua keyakinan, rasanya jadi timpang….” Bu Dewi memandang Kamila dan Farah yang menyimak ceritanya.
“Ibu sering ikuti bapak bila ke gereja dan pelajari bagaimana kehidupan umat Christian. Lama-lama atas inisiatif sendiri akhirnya ibu milih jalan yang sama dengan bapak, bapak tak pernah maksa ibu., sekalipun tak pernah.. Dan bagi ibu semua agama itu sama baiknya….”
Kamila tersentak mendengar ucapan Bu Dewi. Dia memandang wajah bu Dewi yang masih cantik di usianya mungkin sekitar 40-an. Kamila merasa menemukan jawaban dari suasana yang dirasakannya ketika baru pertamakali menginjak rumah ini. Suasana yang berbeda bila dia masuk kerumah orang muslim.
“Ibu cerita ini bukan karena Farah sedang mengalami hal yang sama dengan ibu dulu, dan bukan juga untuk mengajak Farah agar mengikuti seperti yang ibu jalani sekarang… Ibu hanya ingin berbagi dengan apa yang ibu alami. Masalah kamu hanya kamu yang bisa selesaikan, berdoalah pada Allah bila kamu shalat, semoga akan ada jalan terbaik. Dan bagi ibu, ini adalah jalan terbaik yang ibu pilih….”
“Apakah ibu bahagia?” Tanya Kamila dengan pelan. Kamila juga takut bila Bu Dewi tersinggung dengan pertanyaanya. Bu Dewi tersenyum memandang Kamila. Sepertinya dia tahu apa yang di rasakan Kamila  “Tentu ibu bahagia, kalo ibu tidak bahagia. Tak mungkin ibu masih bersama bapak…”
Kamila dan Farah hanya tersenyum  memandang bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan ucapannya “Kami saling mencintai, selalu menghabiskan waktu bersama, kemana bapak pergi bertugas, ibu selalu ikut” Bu Dewi terdiam dan menghela nafas  “Inilah pilihan ibu, ibu tak perduli apa kata orang lain… Selama keluarga ibu dan bapak baek saja. Ini lah yang memberi kebahagian. Keluarga ibu di kampung juga tidak masalah dengan pilihan ibu… ibu sangat bahagia…”
Kamila dan Farah kembali tersenyum. Bu Dewi meraih tangan Farah dan mengusap jarinya dengan hangat  “Ambillah keputusan yang paling baik dan bijaksana, jangan sampai kamu salah langkah dan akhirnya menyesal, bagaimanapun juga ini adalah untuk kebahagian kamu nantinya” Farah mengangguk.
Pak Edi muncul dan bergabung dengan mereka. Benar seperti yang di katakan Bu Dewi bahwa Pak Edi orangnya tak banyak bicara. Tapi dari ucapannya terlihat bahwa dia orang yang pintar dan berpendidikan. Kamila dan Farah menyudahi kunjungan mereka di rumah Bu Dewi. Bu Dewi mengantar mereka kembali ke wisma dan ternyata Pak Edi juga mau mengantar. Sepanjang perjalanan memang hanya Bu Dewi yang banyak bicara, Pak Edi sesekali menimpali atau tersenyum kecil. Farah yang pada dasarnya bawel juga mulai membawakan diri dengan ceritanya yang lucu. Sedikit berbeda ketika tadi masih dirumah Bu Dewi.
Sampai di wisma, terlihat beberapa teman sedang duduk santai di kursi taman sembari main gitar dan bernyanyi. Pak Edi dan Bu Dewi langsung pamit. Kamila dan Farah kembali ke kamar untuk ganti baju dan mandi. Setelah itu mereka bergabung dengan teman-teman yang lain dan  membicarakan acara perpisahan besok pagi.
Pukul sepuluh malam semua kembali ke kamar masing-masing. Kamila yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati Farah yang sedang menelpon, kelihatannya dengan pacarnya. Kamila tak ingin mengganggu Farah dan dia pun segera ketempat tidurnya.
“Kamu sudah tidur mil?” Usik Farah
Kamila membalikkan badannya menghadap Farah.  “Gimana dengan cerita bu Dewi tadi mil?” Farah melanjutkan pertanyaanya “Kalo menurutmu, gimana?” Kamila balik bertanya. Farah mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu mau mengatakan apa.
“Kamu tau Far apa yang kurasakan? Aku sangat terkejut dengan cerita bu Dewi ..mungkin dia merasa bahagia dengan kehidupannya sekarang, tapi aku yakin, jauh di dasar hatinya..pasti ada rasa yang kosong..rasa yang hilang..tapi itulah pilihannya… jalannya…”
“Iya, bu Dewi sempat cerita ke aku sebelumnya kalo aku harus tetap kuat dengan masalahku.. tapi aku bener-bener nggak tahu sampai dia cerita tadi, ku pikir dia sama dengan kita karena dia tahu banyak tentang Islam, eh ternyata..”
“Pantesan waktu masuk rumahnya aku ngerasa aneh banget” Kamila membayangkan situasi sewaktu di rumah Bu Dewi.
“Iya, aku juga gitu” ujar Farah.
“Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa yang akan kamu lakukan dengan bang Dion?”
“Entahlah mil, aku belum menentukan apapun..mungkin setelah kembali ke kampung aku akan bicara dengannya..semoga aku cukup kuat apapun yang terjadi..”
“InsyaAllah ya far..semoga ada jalan terbaik dan kamu tak salah dalam memilih..pikirkan dengan lebih jernih apa yang terbaik..”
“Iya mil, terus terang cerita bu Dewi tadi memberi pelajaran baru buatku..”
Kamila tersenyum dan memandang Farah yang juga tersenyum. Kamila yakin Farah pasti bisa meyelesaikan masalahnya itu. Mereka segera merebahkan badan untuk tidur.
Kamila tersentak dan memandang sekeliling, tidak ada bayangan Farah. Dia bangun dan heran dia ada di kamarnya dan di tempat tidurnya. Dia sadar ternyata tadi dia sedang mengetik ketika Farah menelponnya. Tanpa dia sadari dia tertidur ketika mengingat semua kejadian di Bandung dulu. Kamila melihat jam weker disamping dipan yang menunjukkan angka 3. “Sudah jam tiga pagi rupanya, pantesan sepi” batinnya.
Dia beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah shalat tahajjud dia pun ingin mengungkapkan perasaanya kepada Allah.
“Ya Rabb, Alhamdulillah hamba masih di beri kesempatan untuk bisa menghadap-Mu. Alhamdulillah atas hidup yang Kau berikan, masalah-masalah yang buat hamba kuat. Pengalaman-pengalaman yang menjadi pelajaran buat hamba. Hamba juga ingin memohon ya Allah, jangan pernah runtuhkan keimanan di hati hamba, kuatkan selalu agar hamba tetap di jalan-Mu. Apapun yang terjadi, hamba ingin tetap berada dalam ridho-Mu, beriman hanya kepada-Mu dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Jangan bolak balikkan hati ini kearah yang tidak semestinya. Biarkan iman ini tetap kuat di dalamnya..Aamin ya Rabbal’Alamin..”
Ada kesejukan dan kelegaan di dalam dada ketika dia melepas mukena yang di pakainya. Sambil melipat sajadah dia teringat ucapan Farah. Farah pernah mengatakan kepadanya bahwa dia takkan menukar rasa cinta kepada seseorang dengan keyakinan yang dianutnya.
“Aku tuh bukan orang yang alim banget, tapi mengaji aku bisa, sedikit dikit aku juga tau tentang hukum dan peraturan Islam..walau kadang sering juga tinggalin sholat dan puasa, tapi bukan berarti aku mau pindah keyakinan demi seorang cowok….Aku gak pengen liat ibu menangis dan menyesal telah melahirkanku, senakal-nakalnya aku..tak ingin aku menjadi anak yang tak di anggap oleh ibu kandungku… “ Ujarnya waktu itu. Farah juga mengatakan biarlah cintanya kandas dan meninggalkan semua kenangan dan duka lara, ia yakin seiring berjalannya waktu, duka itu akan sembuh.
Kamila menyadari cinta itu memang buta dan bisa membutakan segalanya bila tidak ada keyakinan dan keimanan yang kuat. Dia bersyukur bahwa Farah akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan Dion. Walaupun sampai sekarang Farah juga belum menikah,  Kamila yakin masih banyak cowok seiman yang mau menikah dengan Farah. Jodoh itu sudah di tentukan Allah. Kapan datangnya hanya Allah lah yang tahu. Dan Kamila percaya itu.
                                      
                        ****SELESAI****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar