Pengikut

Kamis, 22 Maret 2012

JAM SATU



                       
Mami:  Nanti pulang sekolah, adek mau di jemput jam berapa?
Syifa: Jam 1 aja
Mami: kalo jam 10?
Syifa: ndak mau adek
Mami: jam 11?
Syifa: jangan, jam 1..
Mami: jam 12 aja ya mami jemput biar cepat
Syifa: ga mau, pokoknya jam 1
Mami: kenapa mesti jam 1 di jemput dek? Kan lebih cepat jam 10, jam 11 dan jam 12?

Syifa: banyak kali angkanya. Adek mau jam 1 saja. Kan angka 1 pertama dari angka laen. Adek mau yang pertama, iya kan mi?

Ha ha syifa syifa..seandainya dia tahu kalo jam yang disebutkan maminya lebih awal waktunya dari jam yang dia mau, tentu dia berubah pikiran dan minta di jemput jam 10…

Minggu, 18 Maret 2012

CATATANKU TENTANG CATATANKU


Apa yang kau rasakan bila kita kehilangan? Apa yang kau rasakan bila kita ditinggalkan? Kecewakah? sakit hatikah? Iya…pasti…tentu itu jawaban rata-rata yang kita dapatkan. Dalam hidup ini kehilangan dan di tinggalkan adalah lumrah adanya tapi begitu berat diterima. Seakan ada beribu beban berat yang menghimpit tubuh dan membuat sulit untuk bernafas.  Jangankan bernafas, bergerakpun tak sanggup. Hanya kesabaran dan keikhlasan kepada Allah semata yang mampu membuat bertahan, yakin dan percaya Allah yang menentukan jalannya.
Aku tahu ini sulit, sangat sulit, begitu rumit ibarat benang kusut yang semakin coba ku urai semakin kusut. Kucoba bertahan sekuat hati seperti karang yang dihempaskan ombak. Tapi ada saja celah yang coba di cari dan membuat aku seperti tak berarti. Setiap langkah yang kulakukan tetap dianggap tak bermakna dan tidak maksimal. Aku hanya manusia biasa yang juga punya batas-batas kemampuan. Kalau saja bisa disadari aku sudah mencoba untuk bisa sedikit sempurna. Tapi apa dayaku? Seperti yang kukatakan aku manusia biasa dan akhirnya harus rela melepaskan semua.
Jujur aku marah dengan keadaan ini…marah dengan ketidakpastian, keegoisan dan rasa gengsi yang dimiliki oleh banyak pihak yang menjadi bumerang bagiku.
Aku sadari aku salah…begitu banyak kesalahan yang telah ku lakukan. Tapi aku ingin berubah, aku tidak ingin menambah  lagi kesalahan yang baru. Walau ada yang tidak percaya aku bisa berubah menjadi lebih baik, aku maklum karena memang sangat sulit meyakinkan orang lain atas niat ini…aku terima. Walau kadang ada hal-hal yang dikatakan dan itu tidak pernah kulakukan…aku terima semua itu. Orang tidak akan pernah mengerti dan memahami kita sejauh ini bila dia tidak pernah mau mencoba memahami. Satu yang kuyakini Allah Maha pengampun dan Maha pemaaf , Dia akan memaafkan kesalahan umatnya yang memang punya niat bulat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga aku… aku akan memaafkan orang lain yang telah  menyakitiku. Walau banyak yang telah menyakiti hatiku baik secara umum atau personal. Aku tidak mau membalas dendan atas semua yang telah torehkan luka dalam kehidupanku. Percuma juga kita balas dendam karena semakin coba kita balas akan semakin besar rasa dendam itu bersemayam dalam sanubari dan pasti akan ada perasaan atau bisikan-bisikan yang coba pengaruhi untuk melakukan pembalasan lagi dan lagi. Dan itu tak kan ada habisnya karena manusia tak pernah puas. Mungkin lebih baik kita sabar dan ikhlas dan percaya Allah punya kuasa. Hanya Dia yang tahu kapan waktunya dan dengan cara apa yang akan dilakukan.
Pernah ada seseorang yang mengatakan padaku tentang perjalanan hidup manusia. Ibarat kita berada di depan jurang yang dalam. Tidak ada jalan lain dan kita harus melewati jurang itu bagaimanapun caranya. Ada dua pilihan. Kalau kita berbalik arah atau mundur kita akan menjadi pecundang dan dianggap tidak berani, dan kalau kita maju terus bisa jadi kita masuk jurang. Sepertinya pilihan kedua lebih tepat walau kita tahu akan masuk jurang dan itu lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Bukan berarti ingin mati konyol namun yang paling penting ada rasa optimis untuk bangkit dan merangkak ke atas walau luka di sekujur tubuh. Dan keyakinan Allah akan selalu menolong umatnya yang mau berusaha sepahit apapun itu.
Berat memang untuk melewati ini semua..tapi inilah proses yang semoga bisa membuat kita lebih bijak dalam menyikapi persoalan hidup.Mungkin dengan cara ini Tuhan memberikan pengampunan. Seseorang itu juga mengatakan padaku Tuhan akan memberikan rasa sakit itu kepada kita sebagai pertanda Allah mengampuni kesalahan kita. Semakin banyak sakit yang kita dera akan semakin banyak ampunan yang kita dapat.
Kuyakini itu benar adanya dan aku hanya bisa mengharapkan ridha illahi Rabbi atas semua ini..

Ada juga yang mengatakan biarlah semua mengalir seperti air dan biarkan waktu yang akan menjawab semua ini dan kapan jawabannya itu? Lagi lagi kita kembali kepada kesabaran dan keikhlasan. Yah…. dua kata itulah yang bisa menyejukan hati dan jiwa serta tetap berdoa kepada Allah semata. Tumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya setiap saat setiap detik…pasti akan banyak kenikmatan yang didapat setelah semua terjadi dalam hidup kita.. InsyaAllah.

Selasa, 13 Maret 2012







Bunga matahari adalah bunga yang setia, dia selalu mengikuti sinar matahari. Walaupun mungkin si Lily atau Tulip menoleh ke kiri atau ke kanan, bunga matahari akan tetap mengikuti arah sinar matahari.

Katakanlah sinar matahari ini adalah suara hati si bunga, begitu juga dengan kita, diam dan dengarkan suara hati. semoga pilihan dari suara hati adalah yang terbaik:-)

PURNAMA DI RANTING CEMARA


Purnama di ranting cemara
desir angin mengalunkan simponi
alam pantai di kala temaram
kerlip lampu kapal di kejauhan
Menambah suasana syahdu terasa

Dikala sepi menyiksa diri
Ingin titipkan pesan pada kunang-kunang
yang menari riang menemani
sang dewi malam
adakah sang nahkoda datang menemani??

Purnama di pucuk cemara
Air laut masih biru
Dingin angin semakin sendu
kerlip lampu kapal semakin menjauh
adakah sang nakhoda mau menemani ??
sekeping hatidi landa  rindu

Cerita Cinta



“ Kenapa sih kak, kisah kita selalu sama?” maksudnya? Ada aja yg buat sama..mulai dari Karakter cowok yang sama, hingga putuspun kita barengan”.
Glek…aku menelan ludah mendengar pertanyaan dari teman yang sudah kuanggap seperti adik perempuanku sendiri. Benarkah kisah hidup kami sama? Apa memang ada kisah yang sama dan terjadi secara kebetulan?
Mungkin benar kisahnya sama. Tapi detil dan prosesnya pasti berbeda.
“Kenapa kak, susah sekali melupakan dia? Sementara dia saat ini sedang bersenang-senang dengan pilihan hatinya”.
Kau tak sendiri sister, kepedihan yang kau rasakan pernah kualami dulu. Aku tau kau akan kuat hadapi ini karena dari dulu kau sudah siap dengan segala resiko yg terjadi. Jangan bersedih sister. Aku slalu ada walo sekarang kesibukan yang buat kita tak bisa setiap saat bertemu. Aku akan tetap jadi tempat curhatmu yang paling baek…
Itu adalah sepenggal kata yang pernah kutulis distatusku di fb, ketika mendengar kabar yang disampaikannya. Sungguh aku meyesal tak ada disampingnya ketika kesedihan melanda hatinya. Tapi aku yakin dia cukup kuat menghadapi semua ini. Bukan Cuma dia sahabatku yang sudah kuanggap seperti saudara. Tapi kuharap teman-teman, sahabat-sahabat yang perempuan yang mengenalku, teman-teman yang jauh, semua bisa tetap kuat menghadapi masalah cintanya. Kuyakin ini adalah proses yang sangat berharga bila diambil hikmahnya.
Baru aku tau kisah sedih itu juga hampirimu..baru aku sadar kisahku juga melintas dl dekapanmu dan akhirnya terburai…baru kusesali aku tak ada saat kau sepi dalam hening…tenangkan dirimu sis…kita akan segera nikmati hari ceria tanpa kesedihan..

Kalimat itu kutulis ketika sahabatku yang lain mencurahkan isi hatinya. Lagi-lagi aku tak disampingnya, bersamanya mengurai kisah indahnya yang berujung perpisahan. Dan seperti yang kuutarakan diatas, aku juga yakin dia pasti bisa menghadapinya.

Cinta akan kehilangan maknanya jika belum mengalami rasa sakit dan berhasil mengatasinya. Betapa kalimat itu menjadi cambuk dan memacu semangat yang sering padam karena cinta. Kalau memang tak mau merasakan sakit, jangan jatuh cinta. Jangan bayangkan cinta itu keindahan semata. Jangan maunya resapi wangi bunga mawar tapi durinya tak dihiraukan. Jangan juga berkhayal kisah cinta itu seperti Cinderella atau putri salju yang menemukan pangeran impian dan hidup bahagia selamanya. Ada juga kisah cinta yang tragis seperti Romeo dan Juliet atau Khais dan Laila. Bila saat ini cintamu pupus tak terabaikan. Yakinlah suatu hari akan hadir cinta baru yang lebih baik. Percayalah kepada yang Maha Pencipta, yang Maha menciptakan cinta. Segalanya tak akan terwujud bila tiada campur tangan dari-Nya. Nikmati rasa sakit ini sebagai pengalaman yang paling berharga. Dan suatu saat akan kau kenang hingga ingin kau ceritakan kepada anak cucumu kelak.
Betapa cinta itu keindahan, kesedihan dan lara hati. Bila ada yang punya cinta yang kandas, pasti ingin menguburnya sebagai masa lalu.

Setiap orang pasti punya masa lalu. Masa lalu takkan pernah kujadikan sesalan karena dari situlah introspeksi dimulai. Walau penyesalan hampiri belakangan. Betapa Allah sayang kita dan sangat sayang kita dengan hadirkan masalalu yang semoga dijadikan pelajaran dan berharap tidak akan terulang lagi. Masa lalu, baik atau buruk, pahit atau manis, janganlah jadi penyesalan. Terserah orang dan sekeliling nilai apa dengan masa laluku dan masa lalumu. Jangan pernah malu dengan masa lalu. Ambil hikmahnya dan terus melangkah karena jalan ini masih panjang.
Sekarang nikmati hidup ini dengan tetap tersenyum. Lihatlah, betapa manisnya senyum itu apalagi bila kau bagi dengan orang lain. Mungkin saja ketika melihat senyummu, orang yang sedang sedih dan punya banyak masalah akan sedikit terhibur. Dengan tersenyum kau akan terlihat lebih berseri dan segar. Bayangkan kalau kau terus-terusan cemberut dan marah-marah. Otot-otot wajahmu akan menegang sampai 70, sementara untuk tersenyum hanya memerlukan 8 otot saja. So, tersenyumlah. Akan hadir cinta yang yang lain yang pasti akan dipilihkan untuk kita.



Senin, 12 Maret 2012

TEMAN ATAU SAHABAT?


Pernahkah kamu menghitung berapa banyak teman yang kau punya? Seratus, seribu atau sejuta? Dan pernah jugakah kamu menghitung berapa orang yang benar-benar jadi sahabatmu? Satu …dua…atau lebih dari tiga…mengapa bisa begitu ya…apa ada perbedaan antara sahabat dan teman?
Teman kita  mungkin banyak, namun berapa banyak di antara mereka yang benar-benar setia? Hal itu yang patut dipertanyakan. Ada banyak teman dan kenalan yang kita miliki, namun sayangnya tidak semuanya memiliki keloyalan yang tinggi. Tentu saja untuk menjadi sahabat yang benar-benar setia dalam suka dan duka bersama kita tidaklah begitu mudah. Sahabat ada saat kita merayakan kesuksesan kita, demikian juga dengan teman-teman atau kenalan kita. Sahabat juga ada saat kita mengalami musibah, namun teman-teman belum tentu ada.
Setiap hari kita bertemu dengan orang baru…kenalan dan akhirnya menjadi teman. Dan teman itu terbatas dan bisa dikotak-kotakkan, maksudnya ada teman hanya disekolah, tempat kuliah, ditempat kerja…teman bermain, tuk gaul dsb. Dengan teman kita hanya bercerita hal yang penting, misalnya dengan teman kerja pastilah kita lebih banyak sharing tentang kerja, dengan teman kuliah bisa diskusi tentang mata kuliah. Begitu juga dengan teman gaul ato teman bermain, serunya cerita tentang trend saat ini ato game online terbaru. Sementara dengan sahabat, kita bisa bebas cerita dan curhat tanpa merasa takut cerita kita akan bocor ke orang lain. Bahkan kalo kita punya gank pastilah ga ke semua anggota gank kita ceritain hal pribadi, paling juga cuman satu ato dua aja.
Jadi apa yang membedakannya? Ini adalah tentang tingkat kepercayaan. Kepercayaan kita kepada sahabat lebih tinggi levelnya daripada kepada teman. Bahkan kita lebih percaya kepada sahabat daripada orangtua maupun saudara kandung kita. Mungkin karena dengan sahabat, kita lebih nyaman bercerita tanpa rasa malu, lebih nyambung dan alasan lainnya yang memang intinya lebih asik aja curhat pada sahabat. Walaupun ada juga yang menjadikan orang tua atau saudara kandung sebagai sahabat sejati…yah tergantung orangnya juga.
Sebenarnya seorang teman bisa menjadi sahabat bila sudah ada kepercayaan dan keloyalan . Seperti layaknya naek kelas. Pertama tentu kita kenalan dulu, bisa secara tak sengaja disuatu tempat, dikenalin ma teman ato sodara. Setelah itu menjadi teman, kalo memang merasa cocok dan nyambung…bisa diangkat menjadi sahabat.
Lalu gimana dengan pertemanan didunia maya..apakah akan sama adanya?...hmm satu yang harus kita percaya bahwa pertemanan didunia maya begitu abstrak, tidak nyata.
Memang banyak kejadian negatif bila kita mempunyai teman didunia maya, misalnya lewat jejaring sosial. Penipuan dan bahkan sampai terjadi penculikan segala…ihhhh takut. Tapi sebenarnya kalau kita pintar memilih teman dan tidak terpedaya, hal negatif itu pasti bisa kita hindari.
Pastilah teman-teman punya pengalaman dengan pertemanan di jejaring sosial seperti facebook karena emang ni salah satu jejaring sosial yang populer disemua kalangan. Kita punya ribuan teman dari seluruh penjuru dunia, tapi tentu tak semua yang betul-betul care ama kita. Mungkin banyak yang add atau  kita yg menambahkan teman.  Tentu tak semua kita kenal, kita tau atau ketemu. Ada yang kita samasekali tak kenal, beda kota beda kebiasaan bahkan tak pernah sekalipun bertemu, bisa sangat-sangat akrab layaknya sahabat. bahkan dari status teman-teman itu, kita bisa tau sifat dan pribadinya walo cuma sedikit, apakah dia seorang periang, kalem ato lagi sensi he he he..
Dengan komentar yang lucu, saling mengejek dengan tidak bermaksud menghina, semuanya menjadi lebih asik. Ini memang menjadi menarik untuk dibicarakan karena kadang terus terang komentar yang hadir bisa jadi jail, lucu, gila dan juga saling nyela, padahal tidak pernah bertemu samasekali. Sementara yang memang sudah kenal atau temanan, komentar-komentar kadang lebih gila lagi.
Bukan cuman komentar yang lucu ato jahil. Kadang ada juga komentar tuk menenangkan, sharing, beri masukan ato apalah yg sifatnya perhatian. Bahkan ada seorang teman mengaku dia sangat senang punya teman di fb, karena bisa berbagi ilmu, dapat pelajaran yg positif walo waktunya sangat terbatas dan harus curi-curi waktu karena dia seorang ibu rumah tangga.
Sebenarnya pasti banyak cerita seru tentang pertemanan di fb.. walau hanya didunia maya dan teman itu berada nun jauh dari kita, bahkan ada dibelahan negeri seberang, tapi bukan tidak mungkin bila memang pertemanan dan persahabatan itu tulus bisa saling bertemu satu hari nanti.
Kembali lagi seperti yang disampaikan diawal. Pertemanan ataupun persahabatan dimanapun, dalam bentuk apapun, asal tidak saling menyakiti, bisa menerima apa adanya dan yang paling penting jujur serta saling percaya, tentu akan menghasilkan sebuah hubungan yang sejati yang sangat berharga. Akan lebih indah bila dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang berteman, bersahabat dengan tulus.
Sahabat dan teman yang baik adalah anugrah Tuhan yang sangat berharga. Mereka berjalan berdampingan dengan kita. mereka tidak menghakimi atau menyalahkan. Mereka saling menasehati dan mengingatkan ketika salah seorang melakukan kesalahan. Alangkah beruntungnya kita bila pertemanan dan persahabatan menjadi ikatan persaudaraan dengan nuansa yang lain yang terkadang terasa lebih erat.

                        ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Rasa Ini...Benarkah ini?????


Kupikir takkan kurasa nyaman ini
Setelah hati ini beku dan tinggalkan jejak perih
Kupikir takkan ada indah ini
Setelah pendar merah jambu berubah biru
Geliat rasa dihati menyeretku jauh
Memaksa tuk terima getar ini lagi
Sensasi hangat ini mengalir bak sinar mentari
Kurasa nuansa musim semi yang bak pelangi

Kau hadir saat ku rapuh
Rapuh dari keterpurukan
Rapuh dari keputus asaan
Ada asa yang coba ditawarkan
Walau ini hanya awal yang ku tak tau
Kemana langkah ini akan berujung

Aku takut melambungkan asa
Melambungkan hasrat hingga ke bintang
Karena ketika terjatuh akan sakit
Aku takut tuk pejamkan mata dan bermimpi
Karena ketika terjaga semua akan sirna

Haruskah kuyakinkan langkah
Yang dulu pernah kususuri
Dan akhirnya tak mampu kulewati
Sanggupkah kau selami dasar hatiku
Dan berlayar arungi asa dan harapan
Yang pernah pupus ditelan gerimis hati
Aku ragu….
Aku bimbang…..
Bagaimana ini?

Tolong, biarkan aku resapi dingin embun pagi
Biarkan aku bersimpuh di sudut malamku
Semoga akan ada hangatnya mentari
Semoga akan ada sinaran bulan
Semoga akan ada pendaran gemintang
Yang temaniku saat bersamamu

~~~~~~LENTERA DUA HATI~~~~~~~


Daun itu akhirnya luruh setelah angin tak henti-hentinya menggoyangkan dahan tempatnya bernaung. Syaira menatapnya dengan miris, “ Begitukah aku saat ini? Seperti daun itu yang akhirnya melayang jatuh ketanah”. Syaira menghembuskan nafas dan melihat sekeliling. Sudah lebih dari dua jam dia ditempat ini, tempat yang menjadi favoritnya. Sebuah taman disudut kota, tempat dia tinggal sekarang. Taman itu ditumbuhi bunga beraneka warna, juga rindang dengan pepohonan yang menyejukkan. “Akhirnya aku disini….sendiri, sepi dan mencoba menata kepingan hati yang hancur. Entah bisa utuh kembali atau makin terpuruk dan semakin jatuh. Ibarat cermin retak yang walaupun dicoba direkatkan, tetap saja ada garisnya”. Gumamnya dihati sambil menatap langit.
Syaira menutup buku yang dari tadi satu barispun belum dia baca. Pikirannya melayang mengingat kenangan pahit yang coba dia hilangkan tapi, tak bisa. Sampai saat ini dia tak habis pikir mengapa semua ini terjadi dalam hidupnya. Apa ini takdir dan jalan hidup yang digariskan Sang Maha Kuasa? Huff…lagi-lagi Syaira menghela nafas
“ Sepertinya ini sudah kali kesepuluh aku melihat kau menghela nafas”, Sebuah suara menyelinap keruang dengarnya dan menyentak lamunannya. Syaira menoleh ke samping kanan. Sepasang kaki terbungkus sepatu olahraga berdiri tak jauh dari duduknya. Terlihat wajah yang berkeringat dengan sorot mata yang jenaka dibalik kacamata bingkai pink, sangat kontras dengan warna baju yang kuning benderang. Kerudung putihnya sedikit basah. Syaira melirik sebal dengan usikan si penganggu itu. Dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Tapi dia merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Syaira berbalik kebelakang dan lagi lagi wajah yang sedang tersenyum dengan kaca mata pink yang sangat kontras itu. “Kenapa kau mengikutiku?’ “ Aku hanya ingin berkenalan denganmu, bolehkan? Lagian aku dari tadi lihat wajahmu yang cemberut aja, kamu lagi ada masalah ya?. “ Apa urusanmu? Tukas Syaira dengan ketus.
“ Jangan marah dong. Aku hanya ingin berkenalan denganmu, syukur syukur kamu mau berteman denganku. kamu tinggal di jalan Anggrek kan? Dirumahnya Tante Lies kan? Aku Afifa. Panggil aja ifa aku tinggal di jalan Melur, seberang jalan anggrek”. Ujar cewek itu sambil mengulurkan tangan mengajak Syaira berkenalan. Dengan setengah hati Syaira membalas jabatan tangan Afifa dan menyebutkan namanya. Afifa dengan serta merta mengajaknya berjalan. Sepanjang perjalanan, bibir Afifa tidak berhenti berceloteh, ada saja yang dibicarakan terutama hal-hal yang lucu. Dan mau tidak mau Syaira pun ikut tersenyum dengan tingkah Afifa. Syaira merasa teman barunya ini adalah orang yang menyenangkan. Tidak terasa sampailah mereka di persimpangan jalan antara jalan Anggrek dan jalan Melur. Setelah berjanji untuk bertemu lagi, akhirnya Syaira dan Afifa berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Perasaan Syaira yang tadi gundah mulai berkurang berganti dengan keceriaan. Apalagi dia sekarang sudah mempunyai teman baru. Syaira memang baru tinggal sebulan di tempat Tante Lies, adik mama yang paling kecil. Syaira sengaja datang ke kota ini karena ingin melupakan kejadian yang menyakitkan dalam hidupnya. Om dan Tantenya berusaha menghibur Syaira yang sedang terluka. Walaupun dirumah tante Lies ada Haikal, anak tante yang berusia 2 tahun. Tapi tetap saja Syaira merasa sendiri dan belum bisa melupakan luka hatinya. Setiap hari kegiatannya hanya pergi ke taman kecil yang tak jauh dari rumah Tante Lies, sampai akhirnya Syaira bertemu dengan Afifa. Mengingat Afifa membuat Syaira tersenyum.
“ Duh, kak Syaira senyum-senyum sendiri, lihat tuh dek, kakakmu. Kenapa ya?” suara Tante lies mengejutkan Syaira. Syaira tersipu menyadari dia sudah sampai di depan rumah tante. Syaira melihat Om Arman dan Tante Lies sedang duduk santai di teras rumah menikmati suasana sore sembari minum teh. Haikal yang sedang bermain mobil-mobilan berlari menyambut Syaira. Syaira langsung memeluk dan mencium bocah kecil itu. Sambil menggendong haikal, dia menghampiri tante dan om. “ Sepertinya kamu sedang gembira ya Sya?” tanya om Arman.
“enggak kok om” Syaira menjawab sambil berusaha menenangkan Haikal yang ingin turun dari gendongannya.
“ lah terus kenapa kamu senyum-senyum dari tadi, tante perhatikan sejak kamu di ujung jalan sampai ke gerbang, tingkah kamu lucu deh” ujar tante lies. “ Oh itu karena syaira teringat kejadian di taman, tadi sewaktu Syaira di taman. Syaira berkenalan dengan seorang cewek, namanya Afifa, katanya dia anak jalan Melur, tante kenal?” oh Afifa, siapa sih yang tidak kenal Afifa, itu lho bi, anaknya kak Lia” ujar Tante Lies sembari menjelaskan kepada suaminya. “oh Ifa yang pake kacamata itu ya? Anaknya lucu dan bawel kan? Tapi orangnya baik kok, dulu dia sering kesini ya mi?” ujar Om Arman. “iya bi, Cuma sekarang dia sibuk, kata bundanya, ifa lagi ke luar kota, kalo engga, dia ampir tiap hari kesini maen ama haikal, maklum ifa anak bungsu, abangnya kerja di kota lain. Otomatis dia tinggal berdua ama bundanya” tante lies menjelaskan. Emang papanya kemana tan? Tanya Syaira. Papanya ifa udah lama meninggal” “oh”  syaira manggut-mangut. “Tante  senang lho kalo kamu bisa berteman dengan ifa, entar kamu jalan-jalan aja ama ifa, biar pikiran kamu lebih fresh gak di rumah terus..iya bi ya?” “Iya umiku” kata om arman dengan manja kepada istrinya. Syaira jadi tertawa lihat tingkah polah omnya, sementara Haikal terlihat tidak rela abinya bertingkah seperti itu kepada uminya. Haikal langsung memeluk Tante lies. Syaira berinisiatif segera menghindar dari teras sebelum menyaksikan adegan Haikal ngambek dan menangis. “Syaira mau mandi dulu ah,” katanya sambil berjalan masuk kedalam.
                        --------------------------------------------------------------

Mentari pagi menyapa hari yang sudah ramai dengan kicau burung. Syaira membuka jendela kamarnya. Angin segar menyerbu memasuki kamar. Dia membentangkan kedua tangannya seakan ingin menyambut angin yang menerpa wajahnya. Sebenarnya kota kecil tempat om dan tantenya ini sangat indah. Pemandangannya masih asri. Tidak ada asap knalpot yang mengganggu pernafasan. Jalan raya pun tidak seramai di kota metropolitan. Siapapun yang merasa suntuk dan sumpek dengan kebisingan kota, pasti betah tinggal disini. Tapi karena Syaira masih terluka, jadi dia tidak begitu memperhatikan keindahan lingkungan barunya ini.
Syaira baru selesai mandi ketika terdengar suara Tante Lies menjawab salam dan membuka pintu depan. Setelah selesai berpakaian dan memakai jilbab, ia keluar dan mendapati Tante sedang duduk dengan Afifa.
“ Tuh syaira” ujar Tante lies yang menyadari kehadirannya. “oh hai Syaira, baru mandi ya? Aku kangen haikal, makanya pagi-pagi kemari. Tapi kata tante,  haikal blom bangun.  Lagian aku juga pengen ngobrol ama kamu” celoteh afifa dengan riang. Syaira hanya tersenyum dan duduk di samping Tante Lies. Tante Lies beranjak ke dapur untuk melanjutkan memasak. “ ntar kamu makan disini kan fa?” Tanya Tante. “Iya dong tan, jatah makanku disini belom berkurang kan?” sahut Afifa. Tante lies hanya tertawa kecil. Tinggallah Syaira dan Afifa. Syaira menyadari betapa akrabnya Afifa dengan keluarga tante. Tapi itu bisa di maklumi mengingat Afifa orangnya sangat supel.
“Ntar sore kamu ke taman kan? Barengan ya? Tanya Afifa. “ boleh,” jawab Syaira.
“ Ayo Syaira, Afifa makan dulu” terdengar suara Tante Lies memanggil mereka untuk makan. Kedua gadis itupun beranjak ke ruang makan dan melanjutkan obrolan ringan setelah makan sembari mencuci piring.

Sore itu langit berwarna biru. Semilir angin menerbangkan daun daun kering yang terinjak sepatu Syaira. Syaira membetulkan letak kerudungnya yang sedikit melorot. Dia mengedarkan pandangan sekeliling taman. Tampak beberapa orang sedang melakukan olahraga voli, sepasang orang tua berjalan santai di bebatuan taman, sementara ibu-ibu muda membawakan kereta bayi “ Mana dia? Blom kliatan juga” gumamnya dalam hati sembari duduk. “ doorrr” sebuah suara mengagetkannya.
“Astaghfirullah..Astaghfirullah” Syaira mengusap dada. Afifah tertawa melihat tingkah Syaira yang terkejut. Syaira langsung memukul lengan Afifah yang jahil kepadanya.
 “ Kamu sih kebanyakan ngelamun, jadinya kaget kan?”.
“ Siapa yang ngelamun, aku tadi perhatikan sekitar sini, siapa tau kamu udah nyampe nggak taunya..ughhh”. Syaira masih sebel melihat Afifa yang masih nyengir. Afifa duduk sambil meletakkan tas dan peralatan yang dia bawa. “ Kamu bawa apa tuh?” Tanya Syaira. Afifa mengeluarkan peralatan yang dia bawa yang ternyata adalah kanvas dan bingkai. Dia juga mengeluarkan kuas, cat dan pinsil.
“ oh kamu mau ngelukis ya? Kok nggak bilang kalo kamu pinter ngelukis?”
“ kamu nggak pernah nanya” jawab Afifa cuek sambil mulai mencampur warna di dalam palet. Syaira tersenyum malu mengingat betapa tidak pedulinya dia dengan kehidupan afifa.  Dia tidak pernah bertanya kepada Afifa dan kegiatannya. Afifa mulai mengurat kanvas dengan pinsil dan mulai melukis, Karena tidak ingin menganggu, Syaira mengeluarkan buku yang dibawanya dan mulai membaca.
“ Pulang yuk, udah mau maghrib” Ajak afifa yang sepertinya sudah mulai membereskan peralatan lukisnya. Syaira melihat hasil lukisan afifa, dia melukis anak kecil yang sedang bermain bola dengan latar kolam bunga yang ada di tengah taman itu. Tapi masih belum sempurna.
“ Aku akan menyelesaikan di rumah aja. Entar kamu datang kerumahku untuk melihat hasil akhirnya ya sekalian aku ingin menunjukan padamu lukisanku yang lain”.
” Baiklah” ujar Syaira.
Dan mereka pun segera pulang meninggalkan taman yang sudah mulai sepi.
                                    --------------------------------------------------------
Malamnya ketika Syaira sedang mendengarkan suara lembut Maher Zain dengan Thank you Allahnya, Hpnya berbunyi. Mama nelpon. “Assalamualaikum, Apa kabarmu nak?” Wa’alaikumsalam Baik ma, Alhamdulillah” jawab Syaira. Mendengar suara mama, membuatnya kangen senyum mama, kangen hangatnya pelukan mama.
“ Mama kangen sya, tapi mama tak ingin kamu pulang kalau kamu belum bisa melupakan kejadian itu. Mama hanya ingin kamu menjadi sosok perempuan yang lebih tegar dan bijaksana” ujar Mama.
“Iya ma, Syaira senang disini, om dan tante sangat baik. Syaira juga sering bermain dengan haikal. Syaira juga punya teman baru disini ma, namanya Afifa orangnya seru dan lucu”.
 “Tapi jangan sampai seperti kejadian yang kemarin ya, kamu punya teman yang akhirnya..” tukas mama.
” Engga ma, afifa orangnya baik kok ma, lagian ga semua orang itu sama kan ma?”.
” Iya sayang, mama paham itu, mama hanya takut kamu di manfaatkan lagi oleh orang lain”.
“InsyaAllah ma, sya sudah belajar dari pengalaman dan semoga tak akan terulang kedua kali,”
 “Syukurlah sya, mama senang mendengar kamu sudah bisa lebih bijak sekarang. Semoga luka hatimu cepat sembuh dan kamu bisa kembali ke rumah, sayang lho masakan mama ga ada yang habisin”.
 ” Kan ada papa”. “Duh sya, kamu kan tau sendiri papa nggak boleh makan banyak-banyak, ntar penyakitnya kambuh lagi. Ya sudah, salam buat om dan tante ya, kalo papa punya waktu, mama akan ajak papa tuk liat kamu disana”, “beneran ya ma? Cihuiiii”. Syaira berteriak gembira.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, syaira menutup telpon. Telpon dari mama membuat dia senang sekaligus menyisakan pedih. Betapa dia telah membuat sedih dan malu keluarganya.
Adalah Maudy, sahabatnya yang menjadi alasan dia menenangkan diri disini. Maudy yang selalu setia. Kemana-mana mereka selalu berdua, suka dan duka selalu bersama. Bahkan memilih kuliah pun selalu bersama. Dan karena selalu bersama hingga akhirnya sekarang berpisah hanya karena seorang Andre. Andre adalah kekasih Syaira. Namun memilih Maudy untuk menjadi istrinya. Ternyata selama ini mereka diam-diam berhubungan di belakang Syaira. Betapa sakit dan hancurnya hati dan perasaan Syaira mengetahui hal itu. Ditambah lagi mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan. Syaira tidak kuat. Syaira tidak sanggup melihat sahabat dan kekasih duduk berdampingan di pelaminan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiran di rumah tante lies.
Kejadian itu sudah enam bulan yang lalu, namun masih membekas diingatannya ketika Maudy dan Andre mengantarkan surat undangan pernikahan mereka. Walaupun mereka sudah mengucapkan kata maaf, tapi tetap saja Syaira belum bisa menerima perlakuan mereka kepadanya. Rasa sakit hati itu masih terasa sampai sekarang. Syaira hanya mencoba menata hatinya yang hancur. Masih terbayang betapa malunya Papa dan Mama dengan perlakuan Andre dan Maudy kepada mereka. Tapi Papa dan Mama tetap berusaha tegar dan bijaksana. Beruntung dia punya orang tua yang sangat pengertian, kalau tidak dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa menjalani semua ini.
                                    -------------------------------------------------------
Hari- hari Syaira semakin terasa menyenangkan sejak kehadiran Afifa. Dia juga sudah sering ke rumah Afifa. Dan bunda Alia baik dan ramah. Karena Syaira tidak punya kegiatan. Dia sering menghabiskan waktu di rumah Afifa. Walau Afifa tidak ada, Syaira menemani bunda Alia di rumahnya yang asri. Syaira juga sudah melihat koleksi lukisan Afifa. Namun Syaira heran mengapa setiap lukisan Afifa selalu tidak kelihatan wajah orang yang dilukisnya. Yang terlihat,hanya punggung dari obyek dalam lukisannya. Apapun bentuk dan kegiatan yang ada dalam lukisan itu. Seperti lukisan yang di taman itu, tentang anak-anak yang sedang bermain, tetap tidak terlihat raut wajah obyek yang dilukis. Pernah Syaira menanyakan tentang hal itu, tapi Afifa tak pernah mau menjawabnya. Dia hanya tersenyum bila Syaira menanyakannya lagi.

“Assalamaualaikum” terdengar suara riang afifa membahana sampai kedapur. “halooooo, anybody home?????”
”Wa’alaikumsalam masuk fa, aku lagi didapur ni,” jawab Syaira. “Emang tante lies kemana?”. ”lagi kepasar… Tunggu di kamar aja fa, aku entar lagi selesai kok”.
 “Oke deh” ujar Afifa sambil berlalu kekamar Syaira. Syaira pun kembali membereskan kegiatannya mencuci piring. Setelah selesai, dia pun ke kamar menemui Afifa.
 “Ifa apa yang kau lakukan?” Suara Syaira mengagetkan Afifa yang sedang membaca buku harian Syaira. Syaira lalu merebut buku itu dari tangan afifa. Afifa terpaku dengan reaksi Syaira. Dengan tergagap Afifa mencoba berkata ”maafkan aku sya a..aku tidak bermaksud membaca diarimu. Tadi kulihat buku itu terletak di meja. Aku hanya ingin memindahkannya dan…….”
“Dan kamu ingin membacanya kan? Kamu ingin tahu isinya…apa yang kutulis dan segala yang kucurahkan, iya kan?”. Syaira memotong ucapan Afifa.
“Sya, bukan gitu. Aku hanya…….”.
“Keluar” tukas Syaira. Afifa terhenyak ketika melihat betapa dinginnya sorot mata Syaira. “Sya, maaf……”. Syaira berpaling dan tidak menghiraukan Afifa. Afifa terlihat menyesal. Dia tidak menyangka Syaira begitu marah. Afifa pun pergi meninggalkan Syaira.
Sepeninggal Afifa, Syaira terduduk di tepi tempat tidur, nafasnya memburu menahan emosi yang masih terasa di dada. Dia paling tidak suka barang pribadinya di lihat dan di otak atik oleh orang lain, dan tindakan Afifa sudah kelewat batas. Baginya hal itu sama saja dengan Afifa tidak mempercayainya. Dan dia tidak suka itu. Sejak kejadian dengan Maudy, kepercayaanya kepada orang lain berkurang.
                                                -----------------------------------------------

Hujan mengguyur bumi setelah sekian lama kemarau. Dari balik jendela kamar Syaira menyaksikan titik-titik air hujan membasahi taman bunga Tante lies. “Sepertinya bunga berpesta pora dengan adanya hujan”. Syaira masih bermain-main dengan pikirannya. Tanpa sadar tangannya menulis sesuatu di kaca jendela. Guratan tangan syaira membentuk kata yang sangat dia kenal “Afifa”. Syaira tersadar ternyata dia masih memikirkan sahabatnya itu. Syaira tidak pernah bertemu dengan Afifa lagi semenjak kejadian itu. Dia pun sudah jarang pergi ke taman. Ada rasa rindu ingin mendengar tawa dan ceria gadis berkacamata itu. Tapi egonya mengalahkan semua rasa itu. Syaira masih belum bisa menerima perbuatan Afifa kepadanya. Dan Afifa juga tidak pernah menghubunginya. Bosan juga rasanya tidak ada yang menemani.
Sekarang Syaira hanya lebih sering bermain dengan Haikal dan sesekali membantu Tante Lies merawat kebun bunganya. Tante Lies juga pernah menanyakan kepada Syaira mengapa Afifa tidak pernah datang. Syaira menjawab bahwa Afifa sedang sibuk. Syaira merasa bersalah telah berbohong kepada Tante Lies, tapi dia tidak mau Tante Lies mengetahui perselisihannya denga Afifa.
Ketika hujan sudah reda, Syaira pergi ke toko bunga. Dia bermaksud untuk membeli bunga Anggrek untuk Tante lies, biar taman bunga tante semakin indah dan cantik. Syaira sedang bertanya kepada penjual bunga ketika ada yang menepuk bahunya. Dia menoleh dan didepannya berdiri seorang perempuan paruh baya memakai gamis warna hijau dan jilbab kuning pucat yang serasi. “ eh Bunda Lia apa kabar?” Seru Syaira sembari mencium tangan Bunda Lia. “ Alhamdulillah baik, kamu sedang apa disini?”, “Ini bun, lagi liat bunga. Kali aja ada yang bagus dan bisa dibeli untuk nambah koleksi bunga tante” jawab syaira.
“Wah, pasti Tantemu sangat senang menerimanya”. Kata Bunda Alia. Syaira tersenyum.
“Setelah ini kamu mau kemana Sya?”
“Langsung pulang, emang kenapa bunda”
“Temenin bunda yuk, bunda mau ke apotik”
“Boleh, ntar ya, Sya bayar dulu”
Setelah Syaira selesai membayar bunga yang dibelinya. Bunda Lia mengajak syaira ke apotik untuk mengambil obat pesanannya. “Selamat pagi bunda. Mau ambil obat pesanan bunda ya. Ini dia” Kata penjaga apotik sambil menyerahkan sebuah kota berukuran sedang. “Bagaimana kabar Afifa bunda? Apakah obatnya masih rajin diminum?” Tanya penjaga itu lagi. “Hari ini habis, syukurlah stoknya udah nyampe” , makasih ya” Jawab Bunda Lia dan dia mengajak syaira meninggalkan apotik.
Syaira terkejut ketika mendengar percakapan antara Bunda dan penjaga apotik tadi.
Apa??? Afifa sakit?, kok dia tidak pernah tahu. “Bunda, emang selama ini Afifa sakit apa?” Tanyanya kepada bunda Lia.
Bunda Lia menghentikan langkah dan menatap mata Syaira. Bunda mengajak Syaira ke taman dan mereka memilih duduk di bangku taman. Lama mereka terdiam. Ketika Syaira hendak bertanya kembali, Bunda menghela nafas dan berkata ”Sebenarnya Ifa tidak menginginkan cerita tentang penyakitnya di ketahui semua orang. Tapi karena kau adalah temannya sekarang, bunda ingin kamu juga harus tau ini.”. Syaira melihat kearah Bunda Lia. Bunda melanjutkan ceritanya.
”Dulu, lima tahun yang lalu, Afifa mengalami kecelakaan yang parah. Akibat kecelakaan itu, mata kirinya rusak dan dia buta. Dia hanya bisa memanfaatkan mata kanannya untuk bisa melihat. Tapi dasar Ifa, dia tetap ceria dan seperti tidak pernah merasa keberatan dengan kondisinya yang hanya bisa melihat dengan satu mata saja. Malah yang lebih sering nangis itu bunda, bunda selalu mengeluh kepada Naufal, abangnya tentang Ifa. Tapi Naufal selalu berusaha menyemangati bunda dan dia juga selalu memperhatikan kesehatan adiknya itu”. Bunda terdiam dan menghela nafas.
“Seminggu yang lalu, kami ke tempat Naufal untuk cek mata Ifa. Kamu tau apa kata dokter sya, dokter bilang Afifa akan mengalami kebutaan total karena mata kanannya akan mulai tidak berfungsi lagi”. Bunda Lia sesenggukan.
Syaira terkejut mendengar cerita bunda. Syaira memeluk bunda dan dia juga ikut menangis. Dia bisa membayangkan betapa menderitanya Afifa. Sambil menangis, bunda berusaha berbicara, ”Kalaupun dilakukan operasi pengangkatan mata. Hal itu juga tidak akan membantu. Karena nyawa taruhannya. Dan afifa juga tidak mau. Ifa bilang lebih baik dia buta selamanya daripada harus kehilangan kesempatan hidup..oh ifa, kasian sekali dirimu nak”. Bunda kembali menangis. Syaira memberikan saputangannya dan mengusap air mata di pipi bunda Alia. Dia bisa merasakan kesedihan bunda.
Setelah bunda bisa tenang kembali, dia meninggalkan Syaira yang memilih untuk tetap duduk di taman itu. Syaira merenungi keegoisannya selama ini kepada Afifa. Dia merasa bersalah. Dia ingin meminta maaf kepada sahabat terkasihnya itu. Syaira bergegas pulang untuk mengantar bunga yang baru di belinya dan menyerahkan kepada Tante lies. Tanpa menunggu reaksi Tante Lies, dia langsung pergi menuju rumah Afifa. Syaira mengucap salam, dia melangkah ke kamar Afifa. Disana ada bunda yang sedang memberikan obat kepada Afifa. Afifa melihat Syaira yang datang, “Ayo masuk sya,” Katanya riang seolah-olah selama ini mereka tidak bermusuhan. Syaira dengan canggung mendekati afifa yang terbaring di tempat tidur. Dia melihat sahabatnya itu minum obat yang di berikan bunda. Bunda Alia beranjak pergi setelah Afifa meminum obatnya. “gimana kabarmu sya? Tanya Afifa.  Syaira hanya terdiam melihat Afifa, “ heii, hallo..” Afifa mengguncang tangan Syaira. Syaira tersentak. “ Kok kamu ngeliatin aku seperti itu?” Afifa kembali bertanya. Syaira langsung memeluk Afifa sambil  menangis. Afifa jadi bingung dengan kelakuan Syaira.
“Hei sya, kamu kenapa?”
“Maafkan aku ya fa, selama ini aku sudah salah sama kamu. Aku udah nuduh kamu tanpa mau dengar penjelasan kamu..”. Syaira mengeluarkan uneg-unegnya. Afifa melepaskan pelukan syaira.
“Aku udah maafin kamu kok, aku tau kamu tuh orangnya sensitif dan sangat peka. Aku juga udah tau cerita tentang kamu dari tante lies jauh sebelum kejadian itu. Aku ngerti kok kenapa kamu bersikap seperti itu,“ Syaira mengusap airmatanya
”Udah stop..jangan nangis lagi..jelek tau..ntar bang Naufal nggak mau lagi liat kamu yang cengeng dan mewek kayak gini”. ledek Afifa. “Apaan sih” Syaira tersipu malu mendengar ledekan Afifa. “Ha ha”. Afifa tertawa senang melihat reaksi Syaira.
Naufal, abang Afifa yang kerja di kota lain sekali waktu pernah pulang dan bertemu dengan Syaira. Afifa selalu mengolok Syaira dan berusaha menjodohkan abangnya dengan sahabatnya itu. Naufal sepertinya tidak terganggu dengan aksi adiknya itu. Syaira juga tahu, Naufal sering mencuri pandang kepadanya bila mereka sedang duduk ngobrol bersama Bunda dan afifa. Syaira merasa Naufal ada perhatian kepadanya. Tapi dia belum memikirkan hal itu dulu, dia tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi bila dia memulai suatu hubungan. Sekarang dia mengharapakan agar Allah memberikan yang terbaik untuknya. Syaira lalu menatap Afifa yang masih nyengir memandangnya.
“fa, kamu kok nggak pernah cerita tentang penyakitmu? Jangan salahkah bunda kalo aku tau cerita ini dari bunda”. Syaira kembali berbicara ketika melihat Afifa akan membuka mulut untuk berbicara.
“ Kalau kamu tau sya, apakah kamu akan mengasihaniku?” Tanya Afifa
“Aku tak perlu mengasihanimu, kulihat kamu cukup tegar dengan ini semua” Jawab Syaira.
Afifa membetulkan letak kacamatanya. Sambil menatap Syaira, dia berkata.
“Dulu ketika pertama kali aku mendengar vonis dokter, aku tak terima. Tak bisa bayangin jadi buta. Aku sedih, aku marah dan merasa ini semua tidak adil. Aku lari dari rumah sakit padahal aku masih dalam perawatan, lukaku juga belum sembuh. Aku berlari dan menghindar dari bunda dan bang Naufal. Aku tau mereka panik karena tidak menemukanku. Aku tak peduli. Aku terus berlari hingga akhirnya aku sampai di suatu tempat”.
Afifa terdiam, dia bangun dan melangkah kearah jendela, Syaira masih tetap duduk memperhatikan tingkah Afifa. Sambil memandang keluar Afifa melanjutakan ceritanya.
“Disitu aku melihat pemandangan yang mengubah pemikiranku. Aku lihat seorang anak kecil berusia sekitar 8 tahun. Langkahnya pelan dan tertatih dibantu tongkat yang berfungsi sebagai penuntun jalannya. Ternyata dia tidak bisa melihat. Dia tetap bahagia, dia tetap ceria bercanda dengan teman-temanya. Aku baru tahu belakangan kalau semenjak lahir dia sudah buta. Kata orang-orang yang mengenalnya, dia tak pernah mengeluh. Dia hanya tersenyum bila ada yang mengejeknya”. Afifa kembali terdiam, terlihat ada senyum dibibirnya seakan membayangkan pertemuannya dengan gadis kecil itu. Dia kembali duduk di dekat Syaira.
“Pernah kutanyakan padanya tentang bagaimana perasaanya ketika ada yang mengejeknya. Dia menjawab bahwa ayah dan ibunya slalu mengajarkan padanya untuk tidak pernah sakit hati dan membalas perbuatan orang lain. Katanya biar Allah yang membalasnya. Dengan polos dia juga berkata kalau dia lebih baik tidak bisa melihat sehingga dia tak perlu melihat wajah orang yang menghinanya. Duh sya, kau tahu apa yang kurasakan. Sementara aku, Aku malah tidak mau menerima takdirku”. Mata Afifa berkaca-kaca. Syaira mengusap punggung Afifa.
“Sya, sekarang aku tak pernah menyalahkan siapapun dengan kejadian yang ku alami ini, juga aku tidak ingin menyalahkan Tuhan. Karena semua sudah terjadi. Aku juga tidak ingin menyesalinya. Bagiku diberi kesempatan hidup saja itu merupakan karunia yang tak ternilai harganya. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berguna, walau aku harus kehilangan penglihatan selamanya.” Ada nada optimis di balik kata-kata Afifa.
“Begitu juga dengan kamu sya, kalau emang gak mau ngerasain sakit, jangan jatuh cinta. Jangan bayangkan cinta itu keindahan semata. Jangan maunya resapi wangi bunga mawar tapi durinya tak dihiraukan. Jangan juga berkhayal kisah cinta itu seperti Cinderella atau Putri Salju yang menemukan pangeran impian dan hidup bahagia selamanya. Ada juga kisah cinta yang tragis seperti Romeo dan Juliet atau Khais dan Laila. Bila saat ini cintamu pupus. Yakinlah suatu hari akan hadir cinta baru yang lebih baik. Segalanya tak akan terwujud bila tiada campur tangan dari Allah. Nikmati rasa sakit ini sebagai pengalaman yang paling berharga. percayalah”. Ujar Afifa dengan bijak.
Syaira tergugu mendengar ucapan Afifa. “ Aku beruntung ya sya, punya bunda dan abang yang begitu menyayangiku, dan aku juga beruntung punya sahabat baru sepertimu”. Syaira memeluk Afifa. Sambil mengelus ujung jilbab Syaira, sahabat baiknya itu melanjutkan perkataanya. “Coba kamu bayangkan sya, banyak orang-orang di luar sana yang juga tidak sempurna tapi tetap semangat, banyak orang yang tidak beruntung dalam hidupnya, anak kecil yang kehilangan orang tua tapi dia tetap tegar”.  Afifa melepaskan pelukannya. “ Sya, aku ingin tetap tegar,”. Syaira tersenyum dan menggengam erat tangan Afifa.  “ Kamu pasti bisa fa, aku yakin kamu pasti bisa”. Afifa dan Syaira tersenyum. “ tapi kamu jangan mewek lagi ya sya” goda afifa..” Ifaaa..kamu ini…”. Syaira berteriak gemas. Gelak tawa Afifa membahana melihat sahabatnya itu kembali cemberut.
                                    -------------------------------------------

Sore itu langit indah sekali, Awan putih berarak dilatar bias matahari yang masih menyisakan warna emasnya. Syaira dan Afifa menyusuri jalan setapak di taman itu. Suasana taman masih sama seperti biasa kalau  tidak hujan. Tetap ramai dan banyak orang berolahraga. Ada anak- anak sedang bermain bola di rumput taman.
Syaira menuntun Afifa untuk duduk di bangku taman tempat pertama kali mereka bertemu. Penglihatan afifa mulai kabur. Menurut Dokter yang menanganinya, waktu untuk melihat bagi Afifa hanya tinggal dua bulan lagi. Setelah itu dia akan buta total. Syaira salut dengan Afifa. Dia tetap bisa menerima semua yang terjadi padanya. Kemarin, Afifa menghadiahi sebuah lukisan perempuan berkerudung yang ternyata itu adalah Syaira. Berbeda dengan lukisan-lukisannya terdahulu, Syaira dilukis dengan menampakkan muka keseluruhan. Afifa menjelaskan kenapa dia selalu melukis orang yang terlihat hanya punggungnya saja. Karena dia sudah merasa dia tidak akan bisa melihat lagi, dan dia tidak ingin melukis mata di obyek lukisannya. jadi dia selalu melukis dengan gaya seperti itu. Tapi untuk Syaira, Afifa bersedia melukisnya dengan menampilkan sosok Syaira yang anggun dan cantik. Lagi-lagi Syaira banyak belajar dari seorang Afifa. Afifa yang telah membuka mata hatinya yang selama ini selalu merasa orang yang paling sial dan merana di dunia ini. Dari afifa, dia belajar tentang keikhlasan dan kesabaran.. Syaira merasa menjadi makhluk paling kecil di balik kebesaran hati Afifa.
Afifa pernah berkata padanya kalau dia ingin seperti matahari yang selalu memberikan sinar kehangatan bagi orang-orang yang memerlukan. Dia ingin seperti hujan yang memberikan kesejukan dalam tiap tetesnya dan dia juga ingin seperti pelangi yang memberikan warna keindahan setelah hujan
Syaira bertekad akan selalu mendampingi Afifa. Walau pun dia tahu, Afifa tidak pernah meminta bantuan kepadanya. Tapi dia ingin menjalani hari-hari selanjutnya bersama sahabat terkasihnya itu.
“Kita pulang sya?” suara Afifa lembut di gendang telinganya.
“Ayolah, sudah mulai sepi keliatannya,”.
“Besok kita kesini lagi ya?” Pinta Afifa.
“Sip, kita akan kesini saban sore kalau…,
”Tidak hujan”. Sambung Afifa sambil tertawa. Syaira mencubit hidung Afifa dengan gemas. “Sya, sakit tauu”. Afifa sebel dengan perlakuan syaira. Syaira hanya tersenyum dan dia menarik lembut lengan Afifa dan membantunya berdiri. Mereka bergandengan tangan menyusuri jalan. Syaira yakin, hari-harinya akan berarti di masa datang. Masa lalunya akan dijadikan pengalaman yang tak akan terlupakan. Masa lalu takkan pernah dijadikan penyesalan karena dari situlah introspeksi dimulai. Walau penyesalan selalu datang belakangan. Betapa Allah begitu sayang dengan menghadirkan masa lalu yang semoga dijadikan pelajaran dan berharap tidak akan terulang lagi. Ambil hikmahnya dan terus melangkah karena jalan ini masih panjang.
Dia bersyukur punya pengalaman seperti itu. Karena membuat dia menjadi dewasa dan belajar lebih bijak. Belajar untuk bisa tegar dan belajar punya hati yang penuh lentera seperti Afifa.
                       
                                                SELESAI