Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

♪♥♥ KETIKA SEBUAH KEYAKINAN LUNTUR (A TRUE STORY) ♥♥



(Episode 1)
Malam beranjak naik dan sayup sayup suara kendaraan di jalan raya terdengar tak begitu ramai. Angin malam berhembus dan masuk ke sebuah kamar melalui jendela yang terbuka sedikit. Suara tombol keyboard komputer mengisi ruang kamar. Kamila menghentikan kegiatannya mengetik ketika terdengar nada panggilan dari ponselnya. Dia melihat nama yang tertera di layar, Farah! Senyumnya merekah dan Kamila menghentikan ketikannya dan berjalan ke tempat tidur sembari mengangkat telpon.
“Assalamualaikum, Halooo..” Katanya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.
“Wa’alaikumsalam,.. lagi ngapain kamu…?” Terdengar suara Farah di gendang telinganya.
“Lagi bikin tugas dari kantor” Jawab Kamila.
“Aku kangen lah pengen ketemu”
“Yah kesini aja”
“Ugh..mana sempat, sibuk kali ni. Yahh, kalo aku ada waktu, kapan-kapan aku akan maen ke kotamu.” Kamila tersenyum mendengar ucapan Farah. Kalau saja rumah mereka berdekatan. Tentu hampir tiap hari dia akan bertemu dengan si gadis tomboy ini.
“Iya aku tunggu ya..” Ujar Kamila.
Setelah berbasa-basi menceritakan kegiatan masing-masing. Kamila menyudahi obrolannya dengan Farah. Kamila beranjak dari tempat tidur dan kembali ke depan meja komputer melanjutkan ketikannya. Tapi dia tidak memulai untuk mengetik lagi. Kamila masih memikirkan percakapannya dengan Farah. Sahabat yang di kenalnya ketika mengikuti pelatihan di kota Bandung, beberapa tahun yang lalu. Ada satu peristiwa yang membuatnya masih berfikir tentang sebuah keyakinan. Betapa mudahnya seseorang berubah hanya demi sebuah cinta. Dan itulah yang terjadi.

Pertengahan April Tahun 2003
Suara pramugari terdengar merdu menyuruh semua penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.
”Eh Mila, bangun..udah nyampe ni” Farah mengoyang-goyangkan bahu Kamila. Kamila membuka mata dan memandang keluar jendela, Pesawat sudah menjejakkan rodanya di landasan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan masih mencari tempat yang pas untuk berhenti. Sayup sayup masih terdengar suara pramugari yang mengingatkan untuk tidak membuka sabuk pengaman sebelum roda pesawat benar-benar berhenti. Tapi dasar penumpang bandel, sebagian malah sudah membuka sabuk pengaman dan malah sudah menghidupkan ponsel, padahal itu akan mengganggu sistem dalam pesawat. Kamila hanya menghela nafas melihat itu semua. Dia dan Farah tetap memilih untuk duduk. Setelah roda pesawat sudah berhenti, Mereka segera mengambil tas rangsel di bagasi atas tempat duduk dan melangkah mengikuti penumpang lain yang berjalan keluar dari pesawat dan  menuju ke terminal kedatangan. 
Kamila dan Farah akan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan di salah satu Universitas swasta terkenal di kota kembang itu. Mereka di undang lembaga internasional non provit. Pada tahun 2003, beberapa daerah di Indonesia sedang mengalami konflik. Seperti Aceh, Kalimantan, Maluku dan Papua. Lembaga swadaya masyarakat atau LSM mengundang Radio-radio swasta dari masing-masing daerah konflik. Kenapa radio?, karena radio adalah media penyiaran yang dekat dengan masyarakat dan di harapkan bisa membantu meredam konflik yang terjadi di daerahnya. Karena Kamila dan Farah berasal dari daerah paling ujung Pulau Sumatera dan bekerja di radio swasta di kota kecil tempat mereka tinggal, maka di pilihlah mereka berdua. Kamila sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini dan juga sangat beruntung bisa terpilih. Dia akan mendapatkan ilmu dan berdiskusi dengan teman-teman yang lain.
Di bandara Soekarno Hatta ini, mereka akan di jemput oleh utusan dari Universitas. Kamila melihat-lihat dan mencari orang yang akan menjemput. Terlihat seorang Bapak memegang kertas karton bertuliskan nama universitas  dan lembaga yang menjadi funding acara itu. Kamila mengamit tangan Farah dan menghampiri bapak itu. Sambil tersenyum Kamila memperkenalkan diri.
“Hallo pak, saya Kamila dan ini Farah dari Aceh” Ujar Kamila sambil menjabat erat tangan bapak itu.
“Hallo, Saya Dian Nugraha, panggil saja Pak Dian ” Kata Pak Dian dengan ramah.
Farah juga menjabat tangan pak Dian. Pak Dian mengajak Kamila dan Farah menemui teman-teman yang lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Ada Moses dan Edo dari Papua, Nordin dan Paulinus dari Kalimantan, Vita dan Andre dari Sulawesi, Said dan Nuri dari Maluku. Mereka saling bersalaman, sebentar saja keakraban sudah terjalin diantara semua. Pak Dian dan temannya, Pak Yoga mengajak semuanya untuk berangkat. Rombongan di bagi dua, sebagian ikut mobil Pak Dian dan sebagian ikut Pak Yoga. Kamila, Farah, Said dan Nuri ikut dengan Pak Dian.
“Kita lewat Purwakarta aja ya”?
“Kenapa pak? Tanya Farah
“Ini akhir pekan neng, kalau lewat jalan puncak pasti ramai dan macet pisan, bisa berjam-jam atuh neng kita di jalan” Jawab Pak dian.
“Yah..padahal kita mau lihat puncak, sekali-kalinya ke bandung kan pengen lihat pemandangannya…” Sela nuri
“Gampang atuh mah, kan waktu pulang teh bisa jalan puncak” Ujar Pak Dian dengan logat sundanya.
“Oke deh, kalo gitu pak…kita nurut aja” kata Kamila dengan tersenyum.
Mereka pun segera meluncur meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Bandung, mobil satunya yang di kemudikan Pak Yoga berada di belakang mobil yang di kemudikan Pak Dian. Sepanjang perjalanan Kamila memilih tidur karena dia masih merasa pusing dengan perjalanan dengan pesawat tadi. Sementara Farah ngobrol dengan Said dan Nuri. Farah memang termasuk cewek yang mudah akrab dengan siapa saja dan dia juga paling suka bercanda. Gelak tawa terdengar kalau Farah menceritakan kejadian lucu.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, sampailah rombongan di kota yang juga di juluki Paris van Java ini. Menurut Pak Dian, mereka akan di antar menuju wisma milik universitas. Semua peserta workshop dan pelatihan ini memang menginap di wisma yang disediakan oleh universitas. Bukan hanya peserta saja, bahkan moderator dan trainer juga akan menginap ditempat yang sama.
Sesampainya di wisma, mereka di sambut oleh pengelolanya yang bernama Bu Monik yang langsung  memberikan kunci kamar. Satu kamar di isi oleh dua orang, dan lagi-lagi Kamila tersenyum karena dia tidak akan berpisah kamar dengan Farah. Tapi sebelumnya Bu Monik mengajak makan malam walaupun sudah telat. Setelah itu baru semuanya ke kamar melepaskan kepenatan selama perjalanan.
       
                                *******
(Episode 2)
Pagi hari udara sejuk Bandung terasa sampai ke tulang. Kamila merapatkan selimut untuk lebih menghangatkan tubuh. Tapi dia harus bangun dan mandi untuk mengikuti pelatihan. Kamila menoleh ke tempat tidur satu lagi, di sana Farah masih bergelung  dengan selimut.
“Far….!” Panggil Kamila
“Hmmmm….” Sahut Farah dengan suara malas.
“Udah bangun..?”
“Blom….” Kata Farah sambil menggeliatkan badannya “Masih ngantuk dan dingin banget” Farah memejamkan kembali matanya.
“Tapi ini udah waktunya kita siap-siap…entar di marahin lho”
“Kamu mandi aja dulu, entar baru aku” Farah kembali menarik selimutnya.
Mila segera bangun dan berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan keran air panas dan dingin sekaligus biar airnya menjadi hangat, dia  tak tahan mandi dengan air yang dingin.
Keluar dari kamar Kamila dan Farah bertemu dengan Nuri dan Vita yang juga baru keluar dari kamar mereka dan sudah berpakaian rapi.
“Pagi…” Sapa Vita
“Pagi Vita, gimana tidurnya semalam? Nyenyakkah tidurmu ? Tanya Farah
“Lumayan…”
“Lumayan ngorok…” Sambung Nuri  “Enak aja…”  Vita nyengir.
Kamila dan Farah tersenyum dan mengajak Vita dan Nuri ke ruang makan. Pagi ini Kamila baru bisa melihat dengan jelas lokasi wisma ini.. Bangunannya bertingkat dua yang di pisahkan oleh taman kecil di tengah. Ada 15 kamar . sementara ruang makan gabung dengan lobi kecil dan dibelakang didekat dapur adalah tempat istirahat bu Monik dan karyawannya yang semuanya perempuan.
Di ruang makan akhirnya mereka bisa bertemu dengan trainer yang berasal dari Afrika Selatan, namanya Fiona. Orangnya ramah dan cantik. Sementara pendampingnya dari Indonesia adalah mbak Maya. Mbak Maya ini bertugas sebagai penerjemah buat Miss Fiona.
Setelah makan pagi, semua peserta dan trainer di antar oleh pak Dian dan Pak Yoga menuju kampus tempat berlangsungnya acara. Setelah acara pembukaan dan perkenalan masing-masing peserta, Miss Fiona langsung mengadakan pelatihan. Pelatihan ini sangat menyenangkan karena ada banyak permainan yang dilakukan oleh peserta. Bahkan Miss Fiona juga membagi peserta dengan beberapa kelompok. Tujuannya adalah untuk bagaimana peserta bisa menerapkan semua pengalaman dan empati ketika kembali lagi ke daerah masing-masing yang sedang konflik.
                                        ----------
Acara berlanjut hingga jam 5 sore, setelah itu mereka akan kembali ke wisma untuk beristirahat karena malam memang tidak ada kegiatan. Peserta cowok mengajak Kamila dan Farah untuk jalan-jalan di kota Bandung. Namun karena Farah kurang enak badan, Kamila memilih untuk menemani Farah kembali ke wisma sementara Nuri dan Vita bergabung dengan cowok-cowok untuk jalan-jalan. Jadi yang ikut ke wisma hanya Miss Fiona dan Mbak Maya.
“Kamu tidak ikut jalan-jalan Kamila?” Tanya Miss Fiona dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.
“Tidak miss, agak ngantuk ni, lagipula Farah tidak enak badan”
“Mungkin masuk angin” Sela Mbak Maya
“Iya mbak, saya tidak terbiasa dengan udara dingin, disini sangat dingin. Mana badan masih capek karena perjalanan jauh…” Kata Farah
“Ntar istirahat aja terus, jaga staminanya..soalnya acara kita masih beberapa hari lagi, sayang kan kalo kamu sakit dan tidak bisa ikut” Kata Mbak Maya
“Iya mbak” Ujar Farah
Sesampai di Wisma, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Farah membuka baju dan jilbabnya dan menganti dengan baju santai. Dia meminta Kamila untuk mengoleskan minyak kayu putih dan memijat badannya.
“Ni, minum obat dulu, tadi aku minta ama Bu Monik..” Kata Kamila sembari memberi gelas berisi air putih. Farah mengambil obat dan memasukan kedalam mulutnya dan juga mengambil gelas di tangan Kamila dan menenggak airnya sekali teguk. Farah membaringkan badannya dan Kamila segera memijat punggungnya.
“Aku benar-benar tidak tahan disini, keringat gak keluar, kalo keringatku udah keluar..sudah pasti aku tuh sehat..” kata Farah
“Makanya kamu istirahat dulu, entar besok pagi gerak-gerakan badan biar keringatan..” Ujar Kamila.
Setelah selesai memijat Farah, Kamila menyuruh Farah untuk tidur biar cepat sembuh. Kamila lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan biar lebih segar.
Saat makan malam tiba, semua sudah berkumpul di ruang makan. Canda tawa mewarnai suasana santap malam itu.
“Gimana jalan-jalannya tadi Vit..?” Tanya Kamila kepada Vita. Vita menghentikan suapannya unttuk menjawab pertanyaan Kamila.
“Seru dan heboh..dan….. capek ketawa”
“Gimana engga, orang kampong liat kota..jadi bingung…” Timpal Andre.
“Moses lain lagi, gak bisa liat cewek cantik…di liatin terus…ampe cowoknya marah-marah karena Moses liatin pacarnya hahaha…” Cerita Edo. Semua jadi tertawa, sementara moses hanya tersipu sambil garuk-garuk kepala.
“Pada belanja nggak?” Tanya Kamila
“Blom…entar aja deh pas hari terakhir, kita pergi rame-rame..” Kata Nuri.
Mereka kembali melanjutkan makan, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring “Farah, makananmu nggak di abiskan?” Tanya Nordin melihat Farah menaruh piringnya yang masih ada makanan  “Ngak selera” Farah menjawab pendek. “Masih sakit…?” kali ini Paulinus bertanya
“Udah agak enakan sih, cuman makanan disini kan manis-manis..gak ada pedas-pedasnya..tau sendiri aku orang Aceh suka pedas, kalo makan pedas pasti jadi keluar keringat dan semangat jadinya” ucap Farah dan mengelap mulutnya dengan serbet.
“Minta aja cabe rawit ama bu Monik” kata Vita
“Udah, entar mau masak mie instan aja dan di campur jeruk nipis dan cabe rawit yang banyak biar kepedesan” Ujar Farah dengan mimik serasa mau balas dendam. Semua tertawa melihat tampang gadis tomboy itu.
Malamnya sebelum tidur, Farah curhat tentang kehidupan cintanya. Dia lagi dekat dengan orang Makassar yang sedang bertugas di tempatnya.
“Namanya Dion, aku panggil dia Bang Dion karena dia lebih tua dari aku” Jelas Farah
“Kalo emang dia serius, tunggu apa lagi, nggak baek nunda-nuda..” Kata Kamila
“Masalahnya dia beda dengan kita..” Farah menjawab lesu, Air mukanya kelihatan sedih
“Beda gimana? Beda suku dan tempat tinggal nggak masalah kan? Yang penting kan masih sama-sama tinggal di Indonesia”
“Bukan itu non..”
“Lalu apa dong” Kamila penasaran dan dia memandang Farah lekat lekat. Farah merebahkan badannya dan memandang langit-langit kamar. “Kami berbeda keyakinan..” Ujarnya lirih.
Kamila memandang Farah dan dia melihat mata Farah yang berkaca-kaca. Kamila terenyuh dan  mengerti dengan apa yang di rasakan Farah.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?
“Entahlah mil, aku juga bingung..di satu sisi aku merasa nyaman dengannya, dia adalah orang yang mengerti dan sangat memahami sifatku..sementara di sisi lain aku juga tidak ingin mengecewakan orang-orang terkasihku terutama ibu..” Farah tersedu.
Kamila bangkit dan memeluk sahabatnya itu dengan lembut. Farah semakin tersedu dan menangis di pelukan Kamila.
“Ibu tahu tentang ini?” Tanya Kamila
“Ibu tau, Bang Dion udah pernah ke rumah. Ibu menyambutnya dengan ramah..tak pernah Ibu bersikap judes kepadanya”
“Ibu juga tahu kalo dia berbeda?”
“Tahu, tapi Ibu tak pernah menyinggungnya. Aku tahu dari kakakku kalo sebenarnya Ibu  tidak setuju aku berhubungan dengannya tapi ibu tak pernah mau menunjukkan sikap tidak setujunya kepadaku..dia tetap bersikap baik dengan bang Dion..” Kamila hanya terdiam mendengar cerita Farah. Farah melanjutkan ceritanya.
“Apa yang harus kulakukan Mil?, Kalo saja ibu marah dan menentang hubungan ini, aku bisa terima..tapi ini..aku jadi tersiksa mil..rasanya jadi serba salah…”
“Sabar ya, semua itu pasti ada jalan keluarnya…” Katanya mencoba menenangkan Farah. Farah mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Kamila.
“Sebaiknya kamu tenangkan diri dulu Far, dan coba jelaskan kepada bang Dion tentang masalah ini…apa kamu sudah pernah menjelaskan kepadanya?
“Belum Mil, aku takut bila akhirnya nanti menyakitkan..aku belum siap” Ujar Farah
“Kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini biar jelas. Tapi yang paling penting sekarang kamu harus bisa tenang dulu dan fokus dengan pelatihan ini dan jaga kesehatanmu ya?..”
“Iya..”
“Udah , sebaiknya kita tidur yuk…besok kita masih banyak kegiatan” Ajak Kamila
Farah mengangguk dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Kamila berlalu ke tempat tidurnya dan mengatur bantal biar lebih nyaman. Farah keluar dari kamar mandi, mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur. Mereka mencoba untuk tidur karena sudah larut malam dan keesokan harinya harus bangun pagi untuk pelatihan lagi.
                                        *********
(Episode 3)
Dua hari menjelang hari penutupan pelatihan, Farah dan Kamila di undang oleh Bu Dewi ke rumahnya. Bu Dewi adalah istri dari Pak Edi, salah satu petinggi di kampus. Bu Dewi sangat senang ketika mengetahui ada peserta yang datang dari daerah paling ujung Pulau Sumatra karena dia pernah tinggal cukup lama di Aceh menemani suaminya yang menjadi dosen. Bu  Dewi orang yang baik dan ramah. Bahkan dia pernah membawa makanan khas Aceh yaitu gulai Asam pedas untuk Farah yang waktu itu sedang sakit. Farah sudah cukup akrab dengan bu Dewi.
Bu Dewi menjemput mereka setelah acara pelatihan jam 5 sore, sementara teman-teman yang lain kembali ke wisma. Sebelum sampai ke rumahnya, Bu Dewi membeli sate padang di tempat langgananya. Hujan mewarnai perjalanan mereka menuju kediaman Bu Dewi. Sesampainya di rumah Bu Dewi, terlihat anjing pudel kecil menyambut mereka. Kamila menjauh ketika melihat anjing itu mau mendekatinya. Dia sangat takut dengan binatang itu. Untunglah seorang perempuan muda memanggil anjing itu dan merayunya untuk mau masuk ke kandangnya.
Bu Dewi mengajak Kamila dan Farah untuk masuk ke rumahnya, ada tangga kecil untuk ke ruang tamu. Walau ruang tamunya bersih dan rapi tapi entah mengapa Kamila merasa ada suasana lain ketika dia duduk di ruang tamu itu. Bukan perasaan ngeri atau pun takut, dia pun tak mengerti dengan apa yang di rasakannya. Cepat-cepat Kamila menepis perasaan anehnya dan mengajak ngobrol Farah. Perempuan muda tadi muncul kembali membawa minuman untuk mereka berdua. Perempuan itu mempersilahkan Kamila dan Farah untuk minum dan dia segera beranjak ke ruang dalam. Tak lama bu Dewi muncul dan duduk bersama mereka.
“Sur, Surti, tolong ambilkan piring dan sendok ya..?” Pinta Bu Dewi mungkin kepada perempuan muda tadi.
Tak lama kemudian perempuan muda itu atau Surti muncul membawa yang di minta Bu Dewi. Bu Dewi kemudian memberikan sendok dan piring kepada Kamila dan Farah lalu mengajak keduanya untuk makan sate yang di beli tadi.
Sambil makan sate, Bu dewi mengajak ngobrol. Dia bercerita tentang kisah cintanya dengan suaminya.
“Bapak orangnya pendiam, entah kenapa ibu bisa cocok dengan dia, padahal sifat kami berdua sangat beda..” Bu Dewi terkekeh
“Trus yang mulai duluan siapa bu?” Tanya Kamila penasaran.
“Ibu malu bilangnya, tapi emang ibu yg mulai duluan ha ha ha.” Ujar Bu Dewi sambil tertawa.
“Gimana cara ibu waktu menarik perhatian bapak? Tanya Farah. Bu Dewi mengambil air minum dan meminumnya. “ Seperti yang ibu bilang bapak orangnya pendiam, tak banyak omong..” Bu Dewi memulai ceritanya. Tangannya mengambil setusuk sate dan melumuri sate tersebut dengan kuah sate yang ada di piringnya. Kamila dan Farah juga melanjutkan makan sembari telinga mereka juga siaga dengan cerita Bu Dewi. Bu Dewi bercerita kalau Pak Edi adalah mahasiswa yang pintar “Sehari-hari kerjanya hanya belajar dan menghabiskan waktu di perpustakaan, tak pernah sekalipun ibu lihat bapak tuh kumpul dengan teman-teman lain ..becanda ato ngabisin waktu tuk have fun. Mungkin karena itu juga yang buat ibu jadi suka ama bapak…waktu pacaran pun lama-lama ibu kok ngerasa nyaman dan cocok dengannya. …pemikirannya, pandangannya tentang hidup dan masa depan..pokoknya memang calon suami impian deh…” Ujar Bu Dewi sambil tersenyum membayangkan masa-masa sewaktu dulu.
”Wah seru ya bu. Trus gimana waktu nikahnya?” Tanya Kamila
”Kami udah pacaran cukup lama, kami selalu merasa cocok. Bapak sudah merasa ibu adalah pasangan jiwanya..begitu juga ibu nganggap bapak sebagai pelindung..Cuma satu yang membedakan kami yaitu…masalah keyakinan, sama seperti yang di alami oleh Farah sekarang……”
Kamila memandang Farah, ternyata Farah sudah cerita juga kepada Bu Dewi tentang masalahnya. Sementara Farah hanya terdiam menyimak cerita bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan ceritanya “Pihak keluarga awalnya tidak setuju bila kami menikah Karena perbedaan agama ini.. setelah perundingan dan diskusi yang cukup lama dan mereka juga melihat bahwa kami tidak bisa di pisahkan lagi, akhirnya keluarga ibu mengijinkan pernikahan ini…”
“Lalu bagaimana jadinya bu? Apakah ibu  mengikuti agama bapak atau bapak mengikuti agama ibu?”  Kamila semakin penasaran.
“Oh tidak, kami tetap di agama masing- masing, tapi akad nikah dilakukan secara Islam, tapi bapak tidak masuk Islam….” Jelas Bu Dewi lagi.
Kamila tersentak dengan penjelasan Bu Dewi. Bagaimana bisa? Batinnya. Dia melirik Farah yang duduk disampingnya, Farah menunduk dan akhirnya mengangkat mukanya. “Lalu bu? Bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya kami menikah di kampung ibu, kemudian kami tinggal di bandung dan bapak mendapatkan pekerjaan sebagai dosen. Bapak kan pintar jadi cepat dapat kerjaan. Kami tetap menjalani kehidupan dan agama yang di anut… Bapak ke gereja sementara ibu masih menjalani shalat dan puasa”
Kamila semakin tak mengerti, bagaimana bisa menjalani kehidupan dengan pasangan yang beda agama apalagi yang suami bukan Islam dan tidak bisa menjadi imam? Hilang sudah selera makan Kamila. Dia hanya terdiam dan menunggu kelanjutan cerita dari bu Dewi.
“Setelah ibu melahirkan Budi, anak laki-laki ibu satu-satunya, ibu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, ngurus rumah…anak dan suami..tapi ibu merasa tetap tidak baik bila dalam satu rumah ada dua keyakinan, rasanya jadi timpang….” Bu Dewi memandang Kamila dan Farah yang menyimak ceritanya.
“Ibu sering ikuti bapak bila ke gereja dan pelajari bagaimana kehidupan umat Christian. Lama-lama atas inisiatif sendiri akhirnya ibu milih jalan yang sama dengan bapak, bapak tak pernah maksa ibu., sekalipun tak pernah.. Dan bagi ibu semua agama itu sama baiknya….”
Kamila tersentak mendengar ucapan Bu Dewi. Dia memandang wajah bu Dewi yang masih cantik di usianya mungkin sekitar 40-an. Kamila merasa menemukan jawaban dari suasana yang dirasakannya ketika baru pertamakali menginjak rumah ini. Suasana yang berbeda bila dia masuk kerumah orang muslim.
“Ibu cerita ini bukan karena Farah sedang mengalami hal yang sama dengan ibu dulu, dan bukan juga untuk mengajak Farah agar mengikuti seperti yang ibu jalani sekarang… Ibu hanya ingin berbagi dengan apa yang ibu alami. Masalah kamu hanya kamu yang bisa selesaikan, berdoalah pada Allah bila kamu shalat, semoga akan ada jalan terbaik. Dan bagi ibu, ini adalah jalan terbaik yang ibu pilih….”
“Apakah ibu bahagia?” Tanya Kamila dengan pelan. Kamila juga takut bila Bu Dewi tersinggung dengan pertanyaanya. Bu Dewi tersenyum memandang Kamila. Sepertinya dia tahu apa yang di rasakan Kamila  “Tentu ibu bahagia, kalo ibu tidak bahagia. Tak mungkin ibu masih bersama bapak…”
Kamila dan Farah hanya tersenyum  memandang bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan ucapannya “Kami saling mencintai, selalu menghabiskan waktu bersama, kemana bapak pergi bertugas, ibu selalu ikut” Bu Dewi terdiam dan menghela nafas  “Inilah pilihan ibu, ibu tak perduli apa kata orang lain… Selama keluarga ibu dan bapak baek saja. Ini lah yang memberi kebahagian. Keluarga ibu di kampung juga tidak masalah dengan pilihan ibu… ibu sangat bahagia…”
Kamila dan Farah kembali tersenyum. Bu Dewi meraih tangan Farah dan mengusap jarinya dengan hangat  “Ambillah keputusan yang paling baik dan bijaksana, jangan sampai kamu salah langkah dan akhirnya menyesal, bagaimanapun juga ini adalah untuk kebahagian kamu nantinya” Farah mengangguk.
Pak Edi muncul dan bergabung dengan mereka. Benar seperti yang di katakan Bu Dewi bahwa Pak Edi orangnya tak banyak bicara. Tapi dari ucapannya terlihat bahwa dia orang yang pintar dan berpendidikan. Kamila dan Farah menyudahi kunjungan mereka di rumah Bu Dewi. Bu Dewi mengantar mereka kembali ke wisma dan ternyata Pak Edi juga mau mengantar. Sepanjang perjalanan memang hanya Bu Dewi yang banyak bicara, Pak Edi sesekali menimpali atau tersenyum kecil. Farah yang pada dasarnya bawel juga mulai membawakan diri dengan ceritanya yang lucu. Sedikit berbeda ketika tadi masih dirumah Bu Dewi.
Sampai di wisma, terlihat beberapa teman sedang duduk santai di kursi taman sembari main gitar dan bernyanyi. Pak Edi dan Bu Dewi langsung pamit. Kamila dan Farah kembali ke kamar untuk ganti baju dan mandi. Setelah itu mereka bergabung dengan teman-teman yang lain dan  membicarakan acara perpisahan besok pagi.
Pukul sepuluh malam semua kembali ke kamar masing-masing. Kamila yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati Farah yang sedang menelpon, kelihatannya dengan pacarnya. Kamila tak ingin mengganggu Farah dan dia pun segera ketempat tidurnya.
“Kamu sudah tidur mil?” Usik Farah
Kamila membalikkan badannya menghadap Farah.  “Gimana dengan cerita bu Dewi tadi mil?” Farah melanjutkan pertanyaanya “Kalo menurutmu, gimana?” Kamila balik bertanya. Farah mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu mau mengatakan apa.
“Kamu tau Far apa yang kurasakan? Aku sangat terkejut dengan cerita bu Dewi ..mungkin dia merasa bahagia dengan kehidupannya sekarang, tapi aku yakin, jauh di dasar hatinya..pasti ada rasa yang kosong..rasa yang hilang..tapi itulah pilihannya… jalannya…”
“Iya, bu Dewi sempat cerita ke aku sebelumnya kalo aku harus tetap kuat dengan masalahku.. tapi aku bener-bener nggak tahu sampai dia cerita tadi, ku pikir dia sama dengan kita karena dia tahu banyak tentang Islam, eh ternyata..”
“Pantesan waktu masuk rumahnya aku ngerasa aneh banget” Kamila membayangkan situasi sewaktu di rumah Bu Dewi.
“Iya, aku juga gitu” ujar Farah.
“Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa yang akan kamu lakukan dengan bang Dion?”
“Entahlah mil, aku belum menentukan apapun..mungkin setelah kembali ke kampung aku akan bicara dengannya..semoga aku cukup kuat apapun yang terjadi..”
“InsyaAllah ya far..semoga ada jalan terbaik dan kamu tak salah dalam memilih..pikirkan dengan lebih jernih apa yang terbaik..”
“Iya mil, terus terang cerita bu Dewi tadi memberi pelajaran baru buatku..”
Kamila tersenyum dan memandang Farah yang juga tersenyum. Kamila yakin Farah pasti bisa meyelesaikan masalahnya itu. Mereka segera merebahkan badan untuk tidur.
Kamila tersentak dan memandang sekeliling, tidak ada bayangan Farah. Dia bangun dan heran dia ada di kamarnya dan di tempat tidurnya. Dia sadar ternyata tadi dia sedang mengetik ketika Farah menelponnya. Tanpa dia sadari dia tertidur ketika mengingat semua kejadian di Bandung dulu. Kamila melihat jam weker disamping dipan yang menunjukkan angka 3. “Sudah jam tiga pagi rupanya, pantesan sepi” batinnya.
Dia beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah shalat tahajjud dia pun ingin mengungkapkan perasaanya kepada Allah.
“Ya Rabb, Alhamdulillah hamba masih di beri kesempatan untuk bisa menghadap-Mu. Alhamdulillah atas hidup yang Kau berikan, masalah-masalah yang buat hamba kuat. Pengalaman-pengalaman yang menjadi pelajaran buat hamba. Hamba juga ingin memohon ya Allah, jangan pernah runtuhkan keimanan di hati hamba, kuatkan selalu agar hamba tetap di jalan-Mu. Apapun yang terjadi, hamba ingin tetap berada dalam ridho-Mu, beriman hanya kepada-Mu dan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Jangan bolak balikkan hati ini kearah yang tidak semestinya. Biarkan iman ini tetap kuat di dalamnya..Aamin ya Rabbal’Alamin..”
Ada kesejukan dan kelegaan di dalam dada ketika dia melepas mukena yang di pakainya. Sambil melipat sajadah dia teringat ucapan Farah. Farah pernah mengatakan kepadanya bahwa dia takkan menukar rasa cinta kepada seseorang dengan keyakinan yang dianutnya.
“Aku tuh bukan orang yang alim banget, tapi mengaji aku bisa, sedikit dikit aku juga tau tentang hukum dan peraturan Islam..walau kadang sering juga tinggalin sholat dan puasa, tapi bukan berarti aku mau pindah keyakinan demi seorang cowok….Aku gak pengen liat ibu menangis dan menyesal telah melahirkanku, senakal-nakalnya aku..tak ingin aku menjadi anak yang tak di anggap oleh ibu kandungku… “ Ujarnya waktu itu. Farah juga mengatakan biarlah cintanya kandas dan meninggalkan semua kenangan dan duka lara, ia yakin seiring berjalannya waktu, duka itu akan sembuh.
Kamila menyadari cinta itu memang buta dan bisa membutakan segalanya bila tidak ada keyakinan dan keimanan yang kuat. Dia bersyukur bahwa Farah akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan Dion. Walaupun sampai sekarang Farah juga belum menikah,  Kamila yakin masih banyak cowok seiman yang mau menikah dengan Farah. Jodoh itu sudah di tentukan Allah. Kapan datangnya hanya Allah lah yang tahu. Dan Kamila percaya itu.
                                      
                        ****SELESAI****


Jumat, 06 April 2012

~~~~~~PENJAGA HATI (Sebuah kisah)~~~~~~



(Bagian 1)
Fikar sedang membereskan buku-buku kuliahnya ketika matanya melihat bayangan Adinda di depan pintu. Segera dia memasukkan buku ke dalam tas rangsel dan berjalan keluar ruangan.
“Assalamualaikum, bang” Sapa Adinda dengan santun “Wa’alaikumsalam, udah lama?”
“Baru sekitar sepuluh menit, ada yang ingin adek bicarakan bang….”
“Tentang apa?”
“Sebaiknya kita memilih tempat untuk bicara. Apa Abang punya waktu?” Tanya Adinda
Fikar melihat jam tangannya. Dia harus segera pergi menemui dosen pembimbing yang akan merevisi judul skripsinya. Dan satu jam lagi dia harus rapat di mesjid dengan Remaja mesjid di lingkungan rumahnya. Bisa di katakan Fikar salah satu pembina yang mengurusi remaja dan adik-adik dalam kegiatan di kampungnya.
“Kalau abang sibuk, biar nanti saja kita bicara.”
“Bisa kok. Ayo kita cari tempat duduk” Ujar Fikar sembari mengisyaratkan Adinda untuk melangkah terlebih dahulu.”
Setelah Adinda beranjak, baru Fikar menyusul di belakangnya. Sambil berjalan Fikar berfikir mengapa Adinda mencarinya, pasti ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan. Adinda adalah adik kelasnya di SMA dulu. Sejak SMA Fikar sudah menitipkan hatinya untuk di jaga. Sudah cukup lama hubungan mereka, tapi mereka tak pernah berjalan berdua. Hubungan mereka lebih bisa di katakan seperti kakak adik saja atau teman biasa saja. Tak ada kencan mesra seperti hubungan kekasih. Kalaupun ingin nonton film, mereka akan mengajak teman-teman dan duduknya tak pernah berdekatan. Fikar hanya mencoba menjaga semuanya agar tidak melenceng keluar jalur. Adinda seorang gadis yang manis dan santun, tutur katanya lembut dan dia tak pernah tertawa terbahak-bahak bila mendengar cerita yang lucu.
Adinda memilih tempat duduk di bangku panjang di depan perpustakaan. Fikar duduk di ujung bangku itu.
Mereka saling diam, sepertinya masing-masing ingin salah satu memulai percakapan. Fikar tidak tahan dengan suasana ini dan mulai membuka percakapan.
”Ada apa sebenarnya….? Apa yang ingin adek bicarakan?”
Adinda menunduk dan akhirnya membuka mulutnya untuk berkata ”Aku ingin mengembalikan hati yang abang titipkan” Ucapan Adinda begitu pelan dan lembut tapi cukup membuat Fikar tersentak “Coba diulangi lagi, maksudnya apa?” Fikar meminta Adinda untuk mengulangi lagi ucapannya. Dia juga heran dengan ucapan Adinda barusan, tak biasanya Adinda menyebut kata aku setiap kali mereka berbicara.
“Bang, aku minta maaf, tak bisa menjaga hati abang dengan baik” Adinda mengambil nafas sejenak.
“Aku ingin menyerahkan kembali kepada abang. Aku ingin kita tak punya hubungan lagi kecuali hanya sebatas teman”. Ujar Adinda. Fikar menekur. Dia  mencoba mencerna kata-kata Adinda. Ada rasa nyeri di dadanya ketika memahami maksud perkataan adinda.
“Apa adek sudah punya yang lain?”
“Tidak bang, bukan itu….. adek hanya ingin konsentrasi dengan kuliah…banyak sekali tugas kuliahku yang harus aku kerjakan.”
“Tapi, kan selama ini semua tugas-tugas kuliah adek baik-baik saja. Dan abang bisa membantumu seperti biasa kalau ada kesulitan….”
“Maaf bang, Aku tidak bisa membagi waktu dan hatiku dengan yang lain. Aku benar-benar tidak bisa. Maukan abang menerima hati abang kembali?” Desak Adinda.
Fikar terdiam sejenak dan akhirnya dia berucap ”Kalau memang itu keputusan adek dan itu jalan yang terbaik, abang akan menerimanya….”
Adinda memandang Fikar, dilihatnya wajah Fikar yang tetap tenang. Tak ada gurat kesedihan disana. Dia tidak tahu kalau Fikar berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang kacau. Adinda kembali menundukkan pandangannya “Terimakasih bang, atas waktunya selama ini, aku berharap kita masih bisa berteman…. Abang mau kan?”
“InsyaAllah…” Sahut Fikar mencoba tersenyum
“Alhamdulillah, kalau begitu aku permisi bang, sampai jumpa lagi, Assalamualaikum”  Adinda bangkit dan menyampirkan tas di bahunya,  kemudian dia melangkah pergi.
“Wa’alaikumsalam” Fikar berkata lirih dan memandang kepergian Adinda. Jilbab dan rok lebarnya terayun-ayun di terpa angin. Bayangan Adinda hilang di ujung gedung pustaka kampus.
Fikar masih duduk di kursi merenungi keputusan tadi yang notabene adalah keputusan Adinda. Dan sekarang dia harus bisa menerima keputusan itu. Walau ada sedih dan kecewa, dia akan mencoba sabar untuk menjalani. Semoga akan banyak kesibukannya dan dia bisa melupakan kisah hatinya yang perih. Fikar melihat jam tangan, dia tidak bisa ketemu Pak Sis untuk bicara tentang skripsinya karena sekarang waktunya sudah lewat. Tapi dia masih punya waktu dengan pengurus Remaja mesjid. Dia pun bergegas pergi ketempat parkir motor dan berangkat ke tempat rapat.
                                                ------------------------------
Fikar sedang membersihkan motor kesayangannya ketika ada yang mengucap salam di belakangnya. Sambil menjawab salam dia menoleh. Terlihat seorang gadis berbaju gamis biru tosca dengan kerudung warna putih.
“Lagi sibuk bang?” Senyum gadis itu merekah melihat Fikar. Fikar mematikan selang yang ada di tangannya.
“Eh ada si pipi tembem..”
“Abang tuh yang tembem…” Si gadis mendelik kesal.
Fikar tertawa “Kebetulan kamu datang Chit, ayo bantuin abang”
“Enak aja, orang udah rapi gini, sorry ya” Astrid mencibir kearah Fikar. Astrid adalah tetangga Fikar. Abangnya Astrid, Rio adalah teman Fikar. Sekarang Rio lagi meneruskan kuliah ke Mesir, jadi dia jarang pulang. Otomatis Astrid sering meminta bantuan kepada Fikar, lagipula Rio pernah berpesan padanya untuk menjaga Astrid selama dia pergi.
Fikar kembali melanjutkan kerjaanya membersihkan motor, dia menuangkan cairan pembersih khusus ke kain lap dan mulai menyapukan ke badan motor dan seluruh bagian yang kotor. Astrid kemudian duduk di bangku teras rumah fikar.
 “Bang, dengar-dengar kabar burung ya..katanya abang udah nggak lagi ama Dinda ya?....”
Fikar diam saja. Sepertinya dia sengaja tak ingin menjawab pertanyaan Astrid. Dia malah mulai menghidupkan selang air.
“Baaaangg”  Teriak Astrid kesal karena dicuekin.
“Apa sih Chit? nggak liat Abang lagi sibuk..lagian kabar burung didengerin.. Mending denger suara burung yang berkicau di pagi hari”
“Jawab dong pertanyaan Achit”
“Pertanyaan yang mana?”
“Tuh kan, Abang sengaja gak mau jawab ya?
“Katanya kamu mau pergi, hayo sana..ntar telat lagi” Fikar mengusir Astrid agar segera pergi.
“Ihh..Abang ni bikin gondok aja..ni kan super duper penting, menyangkut hak hidup orang banyak” Astrid menghentakkan kakinya. Dia mulai keliatan cemberut.
Fikar tertawa mendengar kalimat terakhir yang di lontarkan Astrid. Hak hidup orang banyak? Yang benar saja?
“Yee, dia malah ketawa” Astrid menghentakkan kakinya kembali, pipinya sudah memerah menahan marah. Fikar kembali tertawa melihat tingkah Astrid. Fikar tahu bagaimana sifat Astrid. Dia akan terus mengejar segala rasa ingin tahunya. Walaupun kelihatan Astrid marah, dia yakin itu Cuma akal-akalan Astrid untuk bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
“Oke Abang jawab, kamu tanya apa tadi?” Akhirnya Fikar mengalah.
Astrid masih diam. Mulutnya manyun dan membentuk kerucut. Fikar tersenyum melihat aksi adik temannya itu. Kalau waktu kecil dulu, biasanya langsung dia mencubit gemas pipi Astrid. Tapi sekarang dia tidak berani melakukan karena pasti Astrid akan ngambek dan marah besar. Apalagi sekarang dia sudah rapi. Bisa terjadi perang dunia ketiga kalau itu terjadi.
“Kamu tanya tentang Dinda ya? Iya, abang udah enggak sama dia lagi. Kami memutuskan untuk berteman sekarang”
“Kok bisa bang? Bukannya kalian baik-baik saja?” Astrid heran dengan apa yang didengarnya. Dulu Astrid termasuk orang yang setuju dengan hubungan Fikar dan Adinda. Astrid dan Adinda satu kelas waktu SMP dan SMA. Berkat Astrid juga Adinda bisa dekat dengan Fikar.
Fikar telah selesai membersihkan motornya. Dia pun duduk di lantai dan bersandar di tiang teras rumahnya.
“Dia meminta abang untuk memilih jalan masing-masing, katanya dia mau serius dengan kuliahnya, abang mau bilang apa? Kalau memang itu jalan terbaik untuk dia dan abang, abang terima”
“Bener hanya pengen konsentrasi dengan kuliah? Bukannya ada yang lain?” Selidik Astrid.
“Emangnya ada hal lain apa? Maksudmu abang punya yang lain? Kamu kan tau sendiri Chit. bang  Fikar selalu sibuk, mana ada waktu untuk cewek lain”
“Maksud Achit bukan itu, dari adindanya sendiri” Fikar memandang Astrid. Dari tatapan Astrid, Fikar tahu ada yang disembunyikan oleh Astrid.
”Memang ada apa sebenarnya Chit?” Tanya Fikar
Astrid menghela nafas dan mencari kata-kata yang tepat. “Hmm sejak putus ama dia, abang masih sering ketemu ama dia?”
“Sejak kami bicara tentang hal itu, abang nggak pernah ketemu lagi. Pernah abang telpon katanya lagi ada dosen, trus abang sms, gak pernah dibalas…. Ya sudah, abang pikir dia pasti betul-betul lagi fokus ama kuliah”
“Iya, Dinda fokus dengan cowoknya yang baru” Sela Astrid cepat.
“Maksudmu Chit? kamu jangan nuduh gitu dong, nggak baek”
“Aduh abang Fikar, abang tuh udah di permainkan ama dia..dia tuh udah punya yang baru, jadi.. yang katanya mau serius di kuliahnya itu hanya alasan yang dibuat-buat ama dia…”
Fikar terdiam mendengar ucapan astrid. Separuh hatinya masih mencoba percaya dengan alasan Adinda, sementara separuhnya lagi dia memikirkan kata-kata Astrid. Selama ini Astrid tak pernah bohong.
”Biarlah Chit, abang tidak mau menyalahkan siapapun. Mungkin memang ini yang terbaik buat abang, mungkin abang mendapat teguran dari Allah,… nggak boleh pacaran sebelum nikah. Mungkin memang abang yang salah yang nggak bisa menjaga hati ini..”
“Lho, selama ini kan abang nggak pernah macam-macam ama dia?”
“Iya abang tau, tapi tetap saja abang merasa sudah salah karena tidak bisa menjaga pikiran dan perasaan…. Abang lebih mementingkan perasaan abang kepadanya dari pada urusan kuliah dan skripsi”
Astrid memandang Fikar dengan kagum. Fikar yang dia kenal adalah pribadi yang baik, tak pernah meninggalkan sholat dan sering puasa senin kamis. Kalau bulan Ramadhan, juga sering bikin acara bersama remaja-remaja di lingkungannya. Baginya, Fikar adalah sosok pria yang baik dan sholeh walau jahilnya tak pernah hilang.
“Iya sih bang, Cuma kan bukan kali ini saja Dinda melakukan hal ini kepada abang. Dulu juga dia minta putus…abang terima, trus minta balik…abang juga terima. Sekarang dia minta putus lagi.. heran deh tuh cewek hobinya putus nyambung kayak lagu aja” Astrid nyerocos dengan sebel.
“Sudah Chit, nggak boleh di ingat-ingat yang dulu, biar menjadi pengalaman buat abang. Abang terlalu bodoh dengan semua ini. Seperti yang abang bilang tadi, ini adalah teguran dari Allah dan semoga bisa buat abang introspeksi.”
“Abang nggak kecewa?”
“Enggaklah…ngapain kecewa, itu sudah lewat. kamu kayak nggak tahu aja abangmu ini”
“Iya deh, bang Fikar emang paling top deh”. Astrid bertepuk tangan dengan riang. Tapi sejurus kemudian dia menghentikan aksinya. Hidungnya mengendus-endus mencium sesuatu.
“Bau apa ini? Abang blom mandi ya” Katanya sambil menutup hidung.
“Iya, kan baru selesai bersihin motor, he he” Fikar tertawa
Ihhhh…mandi sana gihhhh..” Astrid ngomel
“Emang bau ya” Kata Fikar sembari mengangkat ketiak dan menciumnya. Astrid langsung lari menghindari Fikar. Dia takut Fikar akan melakukan hal jahil kepadanya.
“Hei Chit, mau kemana? Nggak mau ngobrol lagi?”
“Abang mandi dulu sana..yang bersih dan wangi, baru Achit mau ngobrol lagi” ujar Astrid sembari berjalan.
“Ayolah Chit, tanggung nih”
“Udah ah, Achit pergi dulu ya, Assalamualaikum” Tanpa memperdulikan teriakan Fikar, Astrid ngacir
“Wa’alaikumsalam,” Fikar tersenyum melihat tingkah tetangganya itu. Dia kembali memeriksa motor kesayangannya. Setelah puas dengan kerjaannya tadi, Fikar masuk ke rumah untuk mandi.
                                                            ******
(Bagian 2)

Matahari bersinar garang. Fikar bergegas melangkah menghindari panasnya matahari. Dia berlari kecil menaiki anak tangga. Ups hampir saja bertabrakan dengan sesosok tubuh,  segera dia memegang dinding untuk menahan keseimbangan. Dilihatnya siapa yang hampir menabraknya. Ternyata itu Adinda bersama seorang cowok. Benar seperti yang di katakan Astrid bahwa Adinda sekarang punya cowok baru. Adinda terlihat kikuk dan salah tingkah. Namun Fikar tetap tersenyum dan menyapanya dengan ramah.. Setelah berbasa-basi sekedarnya, Fikar segera menaiki anak tangga menuju ruang dosen.
Hari ini dia masih berurusan dengan Pak Sis tentang skripsinya. Kalau semuanya lancar, dua minggu lagi dia akan naik sidang. Walaupun ada luka di hatinya, dia tidak ingin membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Untunglah kesibukannya menyusun skripsi membuat dia melupakan pengalaman cintanya yang kandas. Apalagi Astrid selalu membuatnya tertawa bila ada cerita yang lucu. Entah kenapa dia selalu merasa nyaman bila bersama Astrid.

Tanpa terasa hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh mahasiswa yang sudah menyelesaikan sidang skripsi. Beban berat selama ini terlepas sudah berganti dengan kebahagian. Fikar sedang berkumpul dengan teman-teman ketika Roji, salah satu temannya memberitahu kalau Ayah dan ibu sudah datang. Dia melihat Ayah dan Ibu, di samping Ibu ada Astrid dan Mamanya. Fikar bergegas menemui mereka. Sementara wisudawan dan wisudawati sudah memadati aula, tempat akan dilaksanakan acara. Ibu memandang Fikar dengan senyum bangga, sementara ayah menepuk-nepuk punggung Fikar sebagai tanda dia juga bangga dengan keberhasilan putranya. Astrid dengan sigap menyuruh Fikar dan keluarga untuk berfoto bersama.
”Ntar aja deh Chit, setelah selesai acara…” Tolak Fikar.
“Ntar poto lagi, sekarang mumpung muka bang Fikar masih segar…” Sela Astrid sembari mempersiapkan kamera.
Fikar pun merangkul ayah dan ibu dan bersiap untuk difoto. Setelah selesai Ayah berinisiatif untuk menyuruh Astrid berfoto bersama Fikar. Astrid terlihat ragu-ragu, dia melihat Fikar yang juga enggan untuk berfoto.
“Ayo Achit, foto dengan abangmu. Fikar ayo berdiri yang betul..!” Desak Ibu.
Dengan pelan Fikar melangkah mendekati Astrid. Astrid akhinya menarik tangan mamanya.
“Mama ikutan foto juga ya…nah, mama di tengah… nah.. gini” Atur astrid dengan antusias
Fikar tersenyum melihat Astrid. Ayahpun segera memotret mereka. Terdengar pengumuman bahwa acara akan segera di mulai. Fikar mengantarkan orangtuanya, Astrid dan mamanya ketempat duduk yang disediakan untuk orang tua. Sementara dia segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Prosesi wisuda pun dimulai sampai akhirnya pembawa acara mengumunkan mahasiswa yang mendapat nilai terbaik
“Para hadirin semuanya, mahasiswa yang mendapatkan nilai terbaik adalah Zulfikar Kurniawan” Tepuk tangan membahana di seluruh penjuru aula. Ayah dan ibu berkali-kali mengucap syukur Alhamdulillah. Astrid bahkan berdiri dan berteriak saking senangnya, bahkan dia harus ditarik duduk kembali oleh mamanya. Sementara Fikar mendapat ucapan selamat dari teman-temannya.
“Kepada saudara Zulfikar dan yang mewakili dari pihak keluarga agar segera ke depan” Pembawa acara menyuruh Fikar dan Ayah untuk maju kedepan. Fikar beranjak dari tempat duduknya dan menjemput ayahnya untuk bersama menuju ke atas pentas. Secara simbolis Rektor menyerahkan Ijazah kepada Fikar. Fikar mengucapkan terimakasih dan dia segera memeluk ayah dengan bangga. Astrid berlari kedepan untuk mengabadikan momen penting itu. Ibu menatap Fikar dengan mata berkaca-kaca, dibibirnya tersungging senyum.

Acara akhirnya selesai juga. Mereka sekarang ada di depan gedung. Masih ada para sarjana baru yang mengabadikan keberhasilan mereka lulus kuliah dengan foto bersama keluarga dan juga teman. Gelak tawa terdengar riuh rendah di halaman. Fikar  juga sudah selesai berfoto dengan keluarga dan teman-temannya. Dia berencana untuk pulang bersama keluarganya ketika ada yang memanggil namanya. Adinda!
Adinda menghampiri Fikar dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Dia juga mengucapkan salam kepada orangtua Fikar, Astrid dan mamanya. Astrid mengajak Ayah dan Ibu Fikar juga mamanya untuk ke mobil dan menunggu Fikar selesai ngobrol dengan Adinda.
“Akhirnya abang berhasil lulus” Ujar Adinda sambil tersenyum manis.
“Iya…Alhamdulillah” Sahut Fikar pendek.
“Selamat juga atas nilai terbaik yang abang dapat”
“Terimakasih” Masih dengan jawaban pendek
“Pasti ada acara makan-makannya ni..”
“Itu semua urusan ibu, InsyaAllah dalam dua hari ini akan dibikin syukuran  kecil-kecilan di rumah sambil mengundang anak yatim…”
“Adek nggak di undang bang?” Tanya Adinda.
“Datang aja…”
“Engga ah, malu,…kan bukan anak yatim”
“Kenapa mesti malu….ntar di rumah kan ada Astrid, biasanya juga kamu sering main dengan Astrid kan?” Ujar fikar.
“Iya deh, entar adek usahain datang” Ucap adinda.
“Okelah, abang duluan ya, kasihan keluarga udah nunggu lama di mobil”
“Iya bang… “
Setelah mengucap salam, Fikar berjalan meninggalkan Adinda yang masih terpaku menatap kepergian Fikar. Tampak senyum penuh arti terlukis di bibir manis Adinda.
                                                ------------------

Kesibukan mulai terasa di dapur rumah Fikar. Ibu dan beberapa ibu-ibu tetangga lainnya berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing. Celotehan ibu-ibu mewarnai suasana pagi itu. Fikar yang sesekali melintas didapur menjadi sasaran ibu-ibu. Apalagi kalau bukan tentang calon istri buat Fikar.
“Nak Fikar blom punya pacar kan? Sama anak saya aja si Nani ya?” Kata Bu Tati dengan genit.
“Jangan nak, si Nani kan baru masuk SD, mending sama anak saya saja, si Putri… Dia sekolah di pesantren lho…” Sela Bu Sri.
“Apalagi itu, anak masih giat-giatnya belajar, masak mau di kawinin….” Derai tawa membahana di antara ibu-ibu itu
Fikar hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah ibu-ibu itu, Dia tahu mereka hanya bercanda. Dan ketika Astrid muncul di dapur, dia pun menjadi bahan godaan berikutnya.
“Aduh neng Astrid udah gede ya, sepertinya cocok ni kalo berpasangan dengan nak Fikar….” celoteh Bu sri sambil mencolek Bu Tati. Bu Tati pun langsung mengerti dan ikut menimpali  “Bener ni jeng.. rumah udah dekat, jadi ngga perlu kendaraan  untuk antar pengantin… orang tinggal jalan saja…..”
“Ih..apaan sih bu…” Astrid menjadi malu. Pipinya  bersemu merah mendengar celotehan Bu Sri dan Bu Tati. Sementara ibu dan mama Astrid hanya tersenyum saja. Fikar terpana melihat semburat merah dipipi Astrid. Mereka sempat beradu pandang dan secara reflek keduanya segera mengalihkan pandangan dengan kikuk. Astrid segera menghindar dari dapur sebelum percakapan ibu-ibu itu semakin panjang. Dia pun menata meja, piring dan sendok di atur dengan rapi. Fikar menyusul Astrid di luar.

Di beranda, tanpa banyak bicara mereka bekerja. Sesekali astrid menatap Fikar, namun dia segera menyibukkan diri mengatur sendok ketika Fikar menoleh kepadanya. Fikar pun jengah dengan perasaanya. Dia merasa aneh dan tak tahu mau berbuat apa.
“Assalamualaikum..” Terdengar suara lembut seorang gadis.
“Wa’alaikumsalam….” Fikar dan Astrid berbarengan menjawab salam. Yang datang rupanya Adinda.
Dia mengenakan gamis longgar di padu rompi panjang sampai kaki, jilbabnya di buat modis menambah kemanisan wajahnya. Astrid tertegun melihat Adinda. Dia heran mengapa bisa Adinda datang. Fikar tersenyum melihat Adinda dan mempersilahkan Adinda masuk. Melihat keramahan Fikar kepada mantan kekasihnya, membuat Astrid tidak suka. Dia merasa tidak rela kedekatan Fikar dengan Adinda lagi “Ups ada apa dengan hatiku…Astaghfirullahal ‘Azhim” Astrid berusaha menepis prasangka buruk di hatinya dan mencoba tersenyum kepada Adinda.
“Ayo sini Din, kebetulan kamu datang, kamu bisa bantu aku mengatur air minum, sebentar lagi, anak-anak yatim itu akan datang” Ujarnya kepada Adinda.
Adinda pun melangkah ke arah Astrid dan segera membantu Astrid mengatur meja. Astrid masuk ke dalam untuk mengambil masakan yang sudah matang. Sementara Fikar membawa tempat nasi. Kelihatannya baru masak dan masih mengepul karena Fikar tergopoh-gopoh membawanya. Adinda mendekati Fikar yang sedang memeriksa jari tangannya “Tangannya kenapa bang” Tanya Adinda “Agak sedikit melepuh, mungkin karena tadi membawa bakul nasi yang masih panas”  “Sudah diobati?” “Sudah”  Jawab Fikar.
“Kapan rombongan anak yatim itu datang bang?”
“Sebentar lagi, Ayah sedang menjemput mereka”
Diam sejenak. Fikar masih memijit tangannya yang masih terasa sakit.
“Apa rencana abang setelah lulus kuliah?” Adinda mengalihkan pertanyaan
“Mungkin akan melanjutkan S2 di Luar Negeri…”
“Apa tidak ada rencana untuk menikah?...”
Fikar hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Adinda. Dia mengalihkan pandangan kemeja dan tertegun melihat Astrid yang sedang menatapnya yang duduk dengan Adinda. Astrid kembali kedalam rumah. Fikar beranjak untuk membantu Astrid, dia tidak enak hati melihat Astrid yang sibuk kerja sendirian.
“Ada yang ingin kutanyakan pada abang…” Terdengar suara Adinda menghentikan langkahnya. Fikar duduk kembali  “ Bicaralah…”
“Masih bisakah adek menjaga hati abang?”
Fikar terdiam mendengar permintaan Adinda. Dia tak menyangka Adinda memintanya untuk kembali menjalin hubungan.
“Kalau tidak ada yang menjaga hati abang sekarang…adek mau menjaga dan merawatnya. Kita mulai lagi seperti dulu..”
Fikar menghela nafas dan berkata ”Kita bicarakan nanti saja ya, abang harus siap-siap. Sebentar lagi anak-anak yatim akan datang, tidak enak melihat semuanya kerja, ni kan acara syukuran kelulusan abang”
“ oh maaf bang, adek malah mengganggu, baiklah aku akan menunggu jawaban abang nanti”  Kata Adinda. Dia pun langsung beranjak menuju meja membantu Astrid.

Acara syukuran untuk kelulusan Fikar sudah selesai. Anak-anak Yatim Piatupun sudah diantar pulang. Kali ini Fikar yang mengantarnya. Astrid dan Adinda pun sudah selesai dengan tugas mereka membersihkan meja, mereka juga sudah mengumpulkan piring dan gelas dan membawa masuk kedalam.
“Aku mau pulang Din, mau mandi… udah gerah sekali ni badan, ntar aku balik lagi kesini..” Kata Astrid.
“Aku ikut kamu ya Chit, nunggu bang Fikar sepertinya masih lama,..nggak enak juga kalo nungguin dia, apalagi di rumahnya” Ujar Adinda.
“Ya udah yuk“ Ajak Astrid.
Mereka pun berjalan beriringan. Sebenarnya Astrid ingin menanyakan tentang pembicaraan antara Fikar dan Adinda tadi yang sepertinya sangat serius. Tapi dia berusaha menahan rasa ingin tahunya karena tidak ingin dianggap mencampuri urusan pribadi orang lain.
“Oya Din, kamu masih dengan Tommy?” Tanya Astrid kepada Adinda.
“Udah enggak” Jawab Adinda santai.
Astrid berniat menanyakan lagi ketika Adinda berkata ”Aku pingin balik ama bang Fikar..”
Deg! Jantung Astrid berdetak “Ternyata aku salah..aku nyesal banget udah mutusin bang Fikar. Dia emang laki-laki yang baik ya Chit” Adinda kembali melanjutkan ucapannya tanpa menyadari raut muka Astrid yang berubah.
“Bang Fikar udah tau kamu mau balikan ama dia?”  “Udah, tadi udah aku sampein ke dia”
“Trus apa kata bang Fikar? Kejar Astrid “Bang Fikar belum menjawabnya, aku sebenarnya pengen dia bisa segera menjawabnya. Kamu bantuin aku ya Chit, kayak dulu yakinkan bang Fikar. Aku serius mau balik ama dia”  Adinda memohon kepada Astrid.
“Entar kamu berubah lagi…”
“Enggak, kali ini aku yakin dengan kata hatiku. Aku yakin milih dia”  Kata Adinda mantap.
Astrid hanya menggangguk pasrah. Adinda tersenyum dan memeluk astrid “Kamu emang temanku yang paling baik” Astrid hanya tersenyum.
“Yuk masuk”  Kata Astrid ketika sampai didepan rumahnya.
“Aku pulang aja ya, ngantuk, pengen tidur…”
Oh. ..Ya udah, hati-hati di jalan…” Kata Astrid. Adinda pun berjalan meninggalkan Astrid.  Astrid terpaku menatap kepergian Adinda. Dalam hati dia bertanya apakah Fikar akan menerima kembali kehadiran Adinda dalam hidupnya? Ada rasa tak enak bila mengingat kedekatan Fikar dan Adinda. Astrid tak ingin Fikar terluka lagi oleh Adinda. Tapi dia juga sadar, dia tak berhak melarang Fikar. Astrid menghela nafas dan melangkah masuk ke rumahnya.

                                                            ******
(Bagian 3)
Fikar baru selesai sholat maghrib  dan mengaji. Setelah melipat sajadah dia berdiri di depan jendela kamar menatap gelapnya malam. Dia memikirkan ucapan Adinda tadi siang. Mengapa Adinda memintanya kembali? Berbagai pertanyaan berkecamuk dibenaknya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Ketika hendak beranjak keluar kamar, hapenya berbunyi, ternyata Adinda yang menelpon. “Assalamualaikum bang,” terdengar suara Adinda diseberang. “Walaikumsalam”
“Lagi sibuk ya bang…?”
“Enggak, baru selesai sholat dan mengaji, ada apa Din?”
“Adek ingin menanyakan tentang yang tadi kita bicarakan, bagaimana bang?”
Fikar diam, hanya suara nafasnya yang terdengar di telinga Adinda. Adinda  menunggu jawaban dari fikar. Tak lama kemudian terdengar suara Fikar ”Maaf ya din, kamu pasti tak sabar ingin tahu jawaban abang….”
“Iya bang…adek tak sabar ingin tau jawaban abang, adek benar-benar serius ingin balikan lagi ama abang, jika abang ajak adek menikah, adek siap kok”
“Dinda…”
“Iya bang…” Hati Adinda jadi berdebar
“Kenapa kamu ingin kembali lagi?”
“Dinda hanya merasa abang tuh baik….tak ada lelaki lain sebaik abang yang kukenal”
“Cuma itu..?” Tanya Fikar
“Abis apa lagi? abang emang baik. abang selalu mau membantu adek.”
“Trus kenapa dulu kamu minta putus?”
“Aku hanya ingin suasana baru. Sayangnya suasana baru yang kuharapkan tak seindah saat kita bersama”
Fikar terdiam mendengar penjelasan dinda. Baginya ini merupakan jawaban dari pertanyaanya selama ini dan semakin mantap untuk memutuskan.
“Sebenarnya abang sudah melupakan tentang kita, abang hanya menggangap kamu sebagai teman”
“Tapi bang….”
“Abang tak bisa Din, kita tak bisa kembali merajut hari-hari seperti dulu lagi. Semua sudah berlalu”
“Abang marah sama aku?” Terlihat Adinda tak rela Fikar berkata seperti itu.
“Abang bukan marah sama kamu, abang hanya tak ingin kembali ke masa lalu…abang hanya ingin belajar dari pengalaman yang dulu….abang tak ingin jatuh ke lubang yang sama…”
“Adek sekarang sudah berubah bang, adek benar-benar serius”
“Siapa yang bisa menjamin itu semua Din? Lagipula hati abang sudah tidak mau lagi di jaga ama kamu…karena abang yakin pasti ada hati yang lain yang ikhlas untuk menjaganya…” Tegas Fikar
“Siapa dia bang…?” suara Adinda lemah menahan tangis. Harapannya pupus sudah untuk mendapatkan Fikar kembali.
“ Abang belum yakin lagi apakah dia mau menjaga hati abang dengan baik…abang akan liat bagaimana hatinya dan kesungguhannya untuk abang”
“Berarti tidak ada harapan untuk dinda ya bang..?”
“Pasti ada harapan untuk kamu, tapi bukan dari abang..percayalah!..Maafkan abang ya..”
I”ya bang…maafin aku juga bang, aku nyesal pernah ninggalin abang, tapi apa daya kutak bisa memiliki abang..”
“Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan Din, cobalah kamu untuk belajar dari semua yang terjadi, semoga kamu akan mendapatkan yang lebih baik walaupun tanpa abang..” Jelas Fikar panjang lebar
“Iya bang, makasih ya atas jawabannya” Suara Adinda semakin lirih.
“Iya sama-sama, udah dulu ya, Assalamualaikum..”
“Wa’alaikumsalam” Jawab Adinda sambil menutup telponnya. Adinda terduduk di tempat tidur. Dia begitu terpukul dengan pembicaraannya dengan Fikar. Adinda tak menyangka kalau Fikar akan menolaknya. Selama ini dia yakin Fikar masih mau menerimanya karena dia tau Fikar tak pernah punya pacar lagi setelah putus denganya. Ternyata perkiraanya salah. Dia baru menyadari pengalaman dulu sangat berharga buat Fikar untuk di jadikan pelajaran. Adinda hanya bisa menangis mengingat kegagalannya.

Sementara Fikar menjadi lebih tenang setelah berbicara dengan Adinda. Dia sangat bersyukur bisa menangani masalahnya dengan baik. Dia juga lega bayangan Adinda sudah tidak menghantui pikirannya lagi sekarang. Sejak dia mulai memperhatikan seseorang yang lain.  Sejak dia memantapkan hati untuk yang lain yang lebih pantas untuknya. Dia  ingin menceritakan tentang niatnya ini kepada orangtuanya. Fikar merasa semakin cepat semakin baik. Dia juga ingin berbagi cerita tentang ini semua. Hanya ada satu orang yang dia yakin dia bisa bebas bercerita. Fikar tersenyum membayangkan sosok manis yang selalu di jahilinya.
                                                -------------------
Malam hari setelah acara syukuran tadi siang, keluarga Fikar dan keluarga Astrid berkumpul. Karena tadi siang Papa Astrid kerja  dan tidak bisa ikut acara syukuran bersama Anak Yatim piatu, Ayah pun berinisiatif untuk membuat acara makan malam bersama biar papanya Astrid bisa ikut merasakan syukuran kelulusan Fikar.
Setelah selesai makan, mereka berkumpul di teras belakang sambil minum teh dan makan kue.
“Lega sekarang ya bang, anaknya sudah lulus kuliah”  Kata papa Astrid.
“Iya lega dan bersyukur, satu fase sudah di lewati oleh Fikar” Ujar Ayah.
“Apa rencana selanjutnya? Mau nikah atau cari kerja?” Tanya Mama Astrid.
Astrid menatap Fikar. Dia ingin tahu apakah Fikar sudah kembali dengan Adinda. Apakah malam ini Fikar akan mengatakan untuk melamar Adinda? Berbagai pikiran berkecamuk di benak Astrid.
“Rencana mau melanjutkan S2 tante, mungkin akan keluar negeri” Jawab Fikar
“Wah, bagus itu, jika perlu ke tempat Rio aja di mesir”  Kata papa Astrid
“Belum tau juga ni om, ada juga kepikiran untuk kesana….tapi Negara lain juga bagus”
“Kalau Jeng Dewi dan dek Herman enak masih ada anak satu lagi disini, ni saya dan bang Iwan, punya anak cuma satu-satunya… tamat kuliah mau ditinggalin lagi. Sepi deh rumah” Semua tertawa mendengar ucapan ibu.
“Makanya si Fikar cepat-cepat disuruh nikah biar cepat dapat cucu, jadi nggak sepi lagi..” Kata mama Astrid.  Gelak tawa kembali berderai.
“Emang kamu sudah ada calonnya Fik?” Tanya ibu
Semua mata memandang fikar. Fikar berinisiatif untuk mengatakan hal yang menjadi pemikirannya.
Sambil berdehem dia berkata ”Sebenarnya saya senang sekali kita semua ngumpul disini malam ini, walaupun om, tante dan Astrid bukan keluarga, tapi saya sudah menggangap seperti keluarga sendiri….”
Astrid gelisah di tempat duduknya. Apakah ini saatnya Fikar mengutarakan maksudnya untuk mempersunting Adinda? Berarti mereka sudah jadian? Dia pun bangkit.
“Mau kemana Chit” Fikar menatapnya  “Mau kedapur bantu mak Inah nyuci piring…”
“Duduk aja dulu, abang kan belum selesai ngomong, ada hal penting yang ingin abang bicarakan di sini”  Astrid masih ragu.  Mama Astrid langsung menarik tangannya untuk duduk kembali “Sudah kamu duduk lagi, kalo Fikar bahagia kan kamu juga yang senang?..ayo duduk!” Kata mama. Astrid pun duduk dan menundukkan muka. Dia tak sanggup mendengar apa yang akan di katakan Fikar.
“Ayah ibu.. “ Fikar mengarahkan pandangan ke orang tuanya “Saya lega sudah bisa lulus kuliah. Saya sudah senang membuat ayah dan ibu bangga,..rencana saya memang ingin mengambil S2. Tapi itu masih rencana, karena ada hal lain yang penting yang saya pikirkan…” Katanya dengan tenang. Tutur katanya begitu sopan seakan sudah difikirkan terlebih dahulu.
Semua terdiam mendengarkan perkataan Fikar. Sesekali Fikar menatap ayah, ibu, om tante dan juga Astrid. Astrid hanya menunduk terpaku, jari tangannya memainkan ujung bajunya.
“Benar kata ibu, rumah ini akan sepi kalo saya pergi, jadi saya bermaksud untuk meramaikan dengan tangis bayi..”
“Maksudmu, kamu akan menikah?”
“Iya bu…”
“Alhamdulillah” Semua lega mendengarnya. Tampak senyum dibibir Ayah dan Om, Ibu dan Tante saling memeluk bahagia. Astrid masih terpaku tak bergeming. Dia merasa lutunya lemas mendengar Fikar akan menikah.
“Memang calonnya siapa nak?”  Tanya ayah
Fikar terdiam dan kembali mengedarkan pandangan kesemua yang hadir. Ketika menatap Astrid, dia  melihat posisi gadis itu yang masih menunduk.
“Sebenarnya saya ingin membicarakan ini secara resmi. Tapi karena ini waktunya kita ngumpul, saya pikir ini waktu yang tepat. Saya sudah memikirkan ini. Walau saya belum tahu bagaimana jadinya nanti karena saya belum membicarakan ini kepada dia…Kalau  om dan tante tidak keberatan, dan ayah ibu setuju, saya ingin semua menjadi saksi untuk proposal pernikahan saya. Semoga saya bisa di terima..”
“Maksudmu nak? Ibu nggak ngerti? Kata ibu yang mengernyitkan dahi mendengar perkataan Fikar
“Saya ingin meminang Astrid untuk jadi istri saya,…” Hening terasa sesaat setelah Fikar menyampaikan maksudnya.
“Maksud kamu, kamu ingin melamar Astrid”? Tanya ayah untuk meyakinkan apa yang didengarnya tadi.
“Iya ayah”
“Om sih setuju saja, sepertinya tantemu juga tidak keberatan,” Ujar Papa Astrid sembari melihat istrinya yang mengangguk.
“Ayah dan ibu juga setuju dengan apa yang ingin kamu lakukan asal kamu serius menjalaninya”
“Saya serius ayah…”
“Bukannya kita belum mendengar jawaban yang punya badan..” Sela ibu.
Sekarang semua mata memandang kepada Astrid. Mama menyikut lengan Astrid yang masih tertunduk.  Astrid mendongakkan muka.  Dia melihat Fikar yang menatapnya lekat. Astrid kembali tertunduk. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fikar barusan, lututnya pun semakin lemas saja dan telapak tangannya sudah berkeringat.
“Bagaimana Chit, kamu mau menerima Fikar?” Tanya papa.
“Kok abang gak bilang sih..?” Astrid mendelik kearah Fikar.
“Ini kan udah dibilang..”
“Bukan gitu, maksudnya kan bisa kasih tau ke Achit dulu, nggak mendadak gini…bikin kaget tau…” Astrid mulai kesal.
“Abang memang sengaja bikin surprise seperti ini, kan seru..”  Fikar pun tak mau kalah. Sementara ayah, ibu papa, mama Astrid hanya terdiam dan tersenyum mendengar percakapan Fikar dan Astrid. Sepertinya mereka sudah paham dengan kelakuaan anak-anak mereka.
“Surprise nya nggak lucu..”  Sungut Astrid
“Jadi Achit ngga suka..?”
“Iya, ngga suka!!”
“Berarti nolak dong..”
“Kan nggak bilang nolak…”
“Jadi diterima?”
“Yee. Enak aja…”
“Abis maumu apa sih Chit?” Fikar mulai kesal. Dia tak sadar dengan adanya kedua orang tuanya dan orang tua Astrid
Orang tua masing-masing masih tetap diam, mereka sepertinya masih menunggu akan kemana kisah dua anak manusia yang selalu berdebat ini. Akhirnya ayah melerai mereka. Fikar dan Astrid terdiam  “Biarkan Astrid berfikir dulu” Ayah menenangkan Fikar. Fikar mengambil air teh dan meminumnya. Dia merasa bersalah, seharusnya memang dia mengatakan kepada Astrid terlebih dahulu. Dan sekarang harapannya tipis.
“Papa, mama, om, tante, maafkan Astrid bila suasananya menjadi seperti ini” Kata Astrid.
Sekarang giliran Fikar yang tertunduk. Astrid melanjutkan ”Terus terang, Achit sangat kaget dengan apa yang dikatakan bang Fikar, Achit benar-benar tak menyangka abang akan melamar Achit….Achit merasa belum saatnya untuk menikah…”
Kedua orang tua terdiam dan saling berpandangan. Sementara Fikar semakin menundukkan wajahnya. Ia yakin akan penolakan Astrid  “Tapi kalau memang bang Fikar adalah jodoh yang terbaik buat Achit….yang dipilihkan Allah untuk Achit…Achit menerimanya..” Sambung Astrid.
“Apa benar kamu mau menerima Fikar nak?” Tanya Papa
Fikar memandang Astrid yang mengganggukkan kepala. Pipinya bersemu merah. Astrid menyembunyikan mukanya di balik punggung mamanya.
“Alhamdulilah” Ucapan Hamdallah mengalir di bibir masing masing. Fikar kembali memandang Astrid. Astrid menjulurkan lidah dan kembali menyembunyikan mukanya dibelakang mamanya. Fikar hanya tersenyum melihat tingkah Astrid.  Astrid yang lucu, ceria dan berpipi tembem. Fikar juga tak menyangka mengapa dia bisa memilih seorang Astrid, adik temannya yang juga tetangganya. Tapi dia yakin ini semua sudah di atur sama Allah.
Fikar meminta ijin mengajak Astrid ke bangku yang lain, yang tidak jauh dari tempat duduk orang tuanya. Kedua orang tua mengijinkan, toh mereka masih bisa mengawasi dari tempat duduk mereka. Kedua orang tua juga mengerti bahwa sepasang sejoli itu perlu berbicara. Ayah pun mengatakan akan berbicara dengan papa dan mama Astrid tentang hari baik untuk lamaran yang resmi.
Begitu duduk Astrid langsung mencecar Fikar dengan pertanyaan yang ada di pikirannya.
“Bang, Achit pikir abang jadian lagi ama Adinda”
“Kok kamu tau tentang itu?”
“Tadi siang kan Adinda cerita ama Achit kalo dia pengen balik ama abang, kok nggak abang terima dia lagi sih…?”
“Emang Achit rela kalo abang balikan ama dia”?
“Yah..engga sih, Cuma kasihan aja…”
“Trus kamu juga kasihan nerima abang”
“Bukan gitu, ahh abang gimana sih”
“Udah deh Chit, yang lalu biarlah berlalu… abang hanya ingin menatap kedepan, abang ingin menata masa depan. Kamu ingat kan apa yang dikatakan abangmu Rio sebelum dia berangkat ke Mesir?” Astrid mengangguk.
“Dia bilang untuk selalu menjaga kamu, melindungi kamu adik satu-satunya. Kemarin abang sempat chating ama dia dan abang katakan maksud abang untuk melamar kamu, dia sangat setuju dan mengharapkan kita segera menikah dan bisa menyusulnya ke Mesir”
“Tapi kemarin bang Rio telpon, dia nggak bilang apa-apa tuh”
“Abang suruh dia untuk nggak kasih tahu dulu” Astrid tersenyum. Fikar meneruskan ucapannya “Yang penting sekarang itu adalah kita, bagaimaan kita menjalani ini semua, dulu abang pernah salah memberikan hati abang kepada gadis lain, sekarang abang hanya ingin Achit menjaga dan merawat hati abang ini biar tidak diminta orang lain, begitu juga dengan abang… abang akan menjaga hati Achit….”
“InsyaAllah bang, sebenarnya Achit juga masih tidak percaya dengan ini semua”
“Achit pikir abang nggak gitu? Sebenarnya tadi juga abang takut sekali kalau Achit menolak abang, abang sudah siap- siap aja tadi”
“Mau ngapain…?” Tanya Astrid
“Mau lari..” Jawab Fikar sambil tertawa kecil. Astrid pun ikut tertawa.
“Benar kata orang kalau cinta dan jodoh tidak bisa di prediksi kapan datangnya. Semua Allah yang ngatur. Yang dikatakan hati baik, baik dianya. Nyaman…nyamanlah dia.” Ujar Astrid sembari menatap bintang di langit. Fikar pun ikut-ikutan melihat bintang yang bersinar menerangi malam. Kemudian Fikar mengalihkan pandangan menatap Astrid.
“ Dek, tolong jaga hati abang ya…?”
“Ih..abang, sok mesra deh….” Astrid terkekeh melihat Fikar yang puitis
“Emang Achit nggak suka..?”
“Bukan nggak suka cuman geli aja dengarnya…. biasa aja lagi”  Fikar pun ikut tertawa
“ Makasih ya Chit, sudah mau menerima abang”
“Sama-sama bang..Achit juga makasih abang mau ama Achit” Mereka saling tersenyum.
Bunga-bunga cinta mulai merekah di hati. Astrid juga berfikir untuk memberitahu Adinda tentang ini. Bagaimanapun Adinda adalah temannya. Semoga Adinda bisa menerima ini, batinnya. Mama memanggil keduanya untuk bergabung kembali dengan kedua orang tua. Tampaknya penentuan tanggal untuk lamaran secara resmi sudah di tetapkan. Tentang tanggal pernikahan akan ditentukan pada saat acara lamaran nanti. Fikar dan Astrid hanya tersenyum mendengar penjelasan kedua orang tua mereka. Sesekali Fikar memandang penuh cinta kepada Astrid. Astrid meyakinkan Fikar melalui matanya kalau dia akan menjaga hati dan diri hanya untuk Fikar, suaminya kelak.

                                                SELESAI

Terima kasih banyak  yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini sampai akhir. Bila ada kekurangan di sana sini, kami mohon maaf, karena masih belajar.  Sampai jumpa lagi di kisah selanjutnyaJ

 Emmilia Rosda