Pengikut

Jumat, 06 April 2012

~~~~~~PENJAGA HATI (Sebuah kisah)~~~~~~



(Bagian 1)
Fikar sedang membereskan buku-buku kuliahnya ketika matanya melihat bayangan Adinda di depan pintu. Segera dia memasukkan buku ke dalam tas rangsel dan berjalan keluar ruangan.
“Assalamualaikum, bang” Sapa Adinda dengan santun “Wa’alaikumsalam, udah lama?”
“Baru sekitar sepuluh menit, ada yang ingin adek bicarakan bang….”
“Tentang apa?”
“Sebaiknya kita memilih tempat untuk bicara. Apa Abang punya waktu?” Tanya Adinda
Fikar melihat jam tangannya. Dia harus segera pergi menemui dosen pembimbing yang akan merevisi judul skripsinya. Dan satu jam lagi dia harus rapat di mesjid dengan Remaja mesjid di lingkungan rumahnya. Bisa di katakan Fikar salah satu pembina yang mengurusi remaja dan adik-adik dalam kegiatan di kampungnya.
“Kalau abang sibuk, biar nanti saja kita bicara.”
“Bisa kok. Ayo kita cari tempat duduk” Ujar Fikar sembari mengisyaratkan Adinda untuk melangkah terlebih dahulu.”
Setelah Adinda beranjak, baru Fikar menyusul di belakangnya. Sambil berjalan Fikar berfikir mengapa Adinda mencarinya, pasti ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan. Adinda adalah adik kelasnya di SMA dulu. Sejak SMA Fikar sudah menitipkan hatinya untuk di jaga. Sudah cukup lama hubungan mereka, tapi mereka tak pernah berjalan berdua. Hubungan mereka lebih bisa di katakan seperti kakak adik saja atau teman biasa saja. Tak ada kencan mesra seperti hubungan kekasih. Kalaupun ingin nonton film, mereka akan mengajak teman-teman dan duduknya tak pernah berdekatan. Fikar hanya mencoba menjaga semuanya agar tidak melenceng keluar jalur. Adinda seorang gadis yang manis dan santun, tutur katanya lembut dan dia tak pernah tertawa terbahak-bahak bila mendengar cerita yang lucu.
Adinda memilih tempat duduk di bangku panjang di depan perpustakaan. Fikar duduk di ujung bangku itu.
Mereka saling diam, sepertinya masing-masing ingin salah satu memulai percakapan. Fikar tidak tahan dengan suasana ini dan mulai membuka percakapan.
”Ada apa sebenarnya….? Apa yang ingin adek bicarakan?”
Adinda menunduk dan akhirnya membuka mulutnya untuk berkata ”Aku ingin mengembalikan hati yang abang titipkan” Ucapan Adinda begitu pelan dan lembut tapi cukup membuat Fikar tersentak “Coba diulangi lagi, maksudnya apa?” Fikar meminta Adinda untuk mengulangi lagi ucapannya. Dia juga heran dengan ucapan Adinda barusan, tak biasanya Adinda menyebut kata aku setiap kali mereka berbicara.
“Bang, aku minta maaf, tak bisa menjaga hati abang dengan baik” Adinda mengambil nafas sejenak.
“Aku ingin menyerahkan kembali kepada abang. Aku ingin kita tak punya hubungan lagi kecuali hanya sebatas teman”. Ujar Adinda. Fikar menekur. Dia  mencoba mencerna kata-kata Adinda. Ada rasa nyeri di dadanya ketika memahami maksud perkataan adinda.
“Apa adek sudah punya yang lain?”
“Tidak bang, bukan itu….. adek hanya ingin konsentrasi dengan kuliah…banyak sekali tugas kuliahku yang harus aku kerjakan.”
“Tapi, kan selama ini semua tugas-tugas kuliah adek baik-baik saja. Dan abang bisa membantumu seperti biasa kalau ada kesulitan….”
“Maaf bang, Aku tidak bisa membagi waktu dan hatiku dengan yang lain. Aku benar-benar tidak bisa. Maukan abang menerima hati abang kembali?” Desak Adinda.
Fikar terdiam sejenak dan akhirnya dia berucap ”Kalau memang itu keputusan adek dan itu jalan yang terbaik, abang akan menerimanya….”
Adinda memandang Fikar, dilihatnya wajah Fikar yang tetap tenang. Tak ada gurat kesedihan disana. Dia tidak tahu kalau Fikar berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang kacau. Adinda kembali menundukkan pandangannya “Terimakasih bang, atas waktunya selama ini, aku berharap kita masih bisa berteman…. Abang mau kan?”
“InsyaAllah…” Sahut Fikar mencoba tersenyum
“Alhamdulillah, kalau begitu aku permisi bang, sampai jumpa lagi, Assalamualaikum”  Adinda bangkit dan menyampirkan tas di bahunya,  kemudian dia melangkah pergi.
“Wa’alaikumsalam” Fikar berkata lirih dan memandang kepergian Adinda. Jilbab dan rok lebarnya terayun-ayun di terpa angin. Bayangan Adinda hilang di ujung gedung pustaka kampus.
Fikar masih duduk di kursi merenungi keputusan tadi yang notabene adalah keputusan Adinda. Dan sekarang dia harus bisa menerima keputusan itu. Walau ada sedih dan kecewa, dia akan mencoba sabar untuk menjalani. Semoga akan banyak kesibukannya dan dia bisa melupakan kisah hatinya yang perih. Fikar melihat jam tangan, dia tidak bisa ketemu Pak Sis untuk bicara tentang skripsinya karena sekarang waktunya sudah lewat. Tapi dia masih punya waktu dengan pengurus Remaja mesjid. Dia pun bergegas pergi ketempat parkir motor dan berangkat ke tempat rapat.
                                                ------------------------------
Fikar sedang membersihkan motor kesayangannya ketika ada yang mengucap salam di belakangnya. Sambil menjawab salam dia menoleh. Terlihat seorang gadis berbaju gamis biru tosca dengan kerudung warna putih.
“Lagi sibuk bang?” Senyum gadis itu merekah melihat Fikar. Fikar mematikan selang yang ada di tangannya.
“Eh ada si pipi tembem..”
“Abang tuh yang tembem…” Si gadis mendelik kesal.
Fikar tertawa “Kebetulan kamu datang Chit, ayo bantuin abang”
“Enak aja, orang udah rapi gini, sorry ya” Astrid mencibir kearah Fikar. Astrid adalah tetangga Fikar. Abangnya Astrid, Rio adalah teman Fikar. Sekarang Rio lagi meneruskan kuliah ke Mesir, jadi dia jarang pulang. Otomatis Astrid sering meminta bantuan kepada Fikar, lagipula Rio pernah berpesan padanya untuk menjaga Astrid selama dia pergi.
Fikar kembali melanjutkan kerjaanya membersihkan motor, dia menuangkan cairan pembersih khusus ke kain lap dan mulai menyapukan ke badan motor dan seluruh bagian yang kotor. Astrid kemudian duduk di bangku teras rumah fikar.
 “Bang, dengar-dengar kabar burung ya..katanya abang udah nggak lagi ama Dinda ya?....”
Fikar diam saja. Sepertinya dia sengaja tak ingin menjawab pertanyaan Astrid. Dia malah mulai menghidupkan selang air.
“Baaaangg”  Teriak Astrid kesal karena dicuekin.
“Apa sih Chit? nggak liat Abang lagi sibuk..lagian kabar burung didengerin.. Mending denger suara burung yang berkicau di pagi hari”
“Jawab dong pertanyaan Achit”
“Pertanyaan yang mana?”
“Tuh kan, Abang sengaja gak mau jawab ya?
“Katanya kamu mau pergi, hayo sana..ntar telat lagi” Fikar mengusir Astrid agar segera pergi.
“Ihh..Abang ni bikin gondok aja..ni kan super duper penting, menyangkut hak hidup orang banyak” Astrid menghentakkan kakinya. Dia mulai keliatan cemberut.
Fikar tertawa mendengar kalimat terakhir yang di lontarkan Astrid. Hak hidup orang banyak? Yang benar saja?
“Yee, dia malah ketawa” Astrid menghentakkan kakinya kembali, pipinya sudah memerah menahan marah. Fikar kembali tertawa melihat tingkah Astrid. Fikar tahu bagaimana sifat Astrid. Dia akan terus mengejar segala rasa ingin tahunya. Walaupun kelihatan Astrid marah, dia yakin itu Cuma akal-akalan Astrid untuk bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
“Oke Abang jawab, kamu tanya apa tadi?” Akhirnya Fikar mengalah.
Astrid masih diam. Mulutnya manyun dan membentuk kerucut. Fikar tersenyum melihat aksi adik temannya itu. Kalau waktu kecil dulu, biasanya langsung dia mencubit gemas pipi Astrid. Tapi sekarang dia tidak berani melakukan karena pasti Astrid akan ngambek dan marah besar. Apalagi sekarang dia sudah rapi. Bisa terjadi perang dunia ketiga kalau itu terjadi.
“Kamu tanya tentang Dinda ya? Iya, abang udah enggak sama dia lagi. Kami memutuskan untuk berteman sekarang”
“Kok bisa bang? Bukannya kalian baik-baik saja?” Astrid heran dengan apa yang didengarnya. Dulu Astrid termasuk orang yang setuju dengan hubungan Fikar dan Adinda. Astrid dan Adinda satu kelas waktu SMP dan SMA. Berkat Astrid juga Adinda bisa dekat dengan Fikar.
Fikar telah selesai membersihkan motornya. Dia pun duduk di lantai dan bersandar di tiang teras rumahnya.
“Dia meminta abang untuk memilih jalan masing-masing, katanya dia mau serius dengan kuliahnya, abang mau bilang apa? Kalau memang itu jalan terbaik untuk dia dan abang, abang terima”
“Bener hanya pengen konsentrasi dengan kuliah? Bukannya ada yang lain?” Selidik Astrid.
“Emangnya ada hal lain apa? Maksudmu abang punya yang lain? Kamu kan tau sendiri Chit. bang  Fikar selalu sibuk, mana ada waktu untuk cewek lain”
“Maksud Achit bukan itu, dari adindanya sendiri” Fikar memandang Astrid. Dari tatapan Astrid, Fikar tahu ada yang disembunyikan oleh Astrid.
”Memang ada apa sebenarnya Chit?” Tanya Fikar
Astrid menghela nafas dan mencari kata-kata yang tepat. “Hmm sejak putus ama dia, abang masih sering ketemu ama dia?”
“Sejak kami bicara tentang hal itu, abang nggak pernah ketemu lagi. Pernah abang telpon katanya lagi ada dosen, trus abang sms, gak pernah dibalas…. Ya sudah, abang pikir dia pasti betul-betul lagi fokus ama kuliah”
“Iya, Dinda fokus dengan cowoknya yang baru” Sela Astrid cepat.
“Maksudmu Chit? kamu jangan nuduh gitu dong, nggak baek”
“Aduh abang Fikar, abang tuh udah di permainkan ama dia..dia tuh udah punya yang baru, jadi.. yang katanya mau serius di kuliahnya itu hanya alasan yang dibuat-buat ama dia…”
Fikar terdiam mendengar ucapan astrid. Separuh hatinya masih mencoba percaya dengan alasan Adinda, sementara separuhnya lagi dia memikirkan kata-kata Astrid. Selama ini Astrid tak pernah bohong.
”Biarlah Chit, abang tidak mau menyalahkan siapapun. Mungkin memang ini yang terbaik buat abang, mungkin abang mendapat teguran dari Allah,… nggak boleh pacaran sebelum nikah. Mungkin memang abang yang salah yang nggak bisa menjaga hati ini..”
“Lho, selama ini kan abang nggak pernah macam-macam ama dia?”
“Iya abang tau, tapi tetap saja abang merasa sudah salah karena tidak bisa menjaga pikiran dan perasaan…. Abang lebih mementingkan perasaan abang kepadanya dari pada urusan kuliah dan skripsi”
Astrid memandang Fikar dengan kagum. Fikar yang dia kenal adalah pribadi yang baik, tak pernah meninggalkan sholat dan sering puasa senin kamis. Kalau bulan Ramadhan, juga sering bikin acara bersama remaja-remaja di lingkungannya. Baginya, Fikar adalah sosok pria yang baik dan sholeh walau jahilnya tak pernah hilang.
“Iya sih bang, Cuma kan bukan kali ini saja Dinda melakukan hal ini kepada abang. Dulu juga dia minta putus…abang terima, trus minta balik…abang juga terima. Sekarang dia minta putus lagi.. heran deh tuh cewek hobinya putus nyambung kayak lagu aja” Astrid nyerocos dengan sebel.
“Sudah Chit, nggak boleh di ingat-ingat yang dulu, biar menjadi pengalaman buat abang. Abang terlalu bodoh dengan semua ini. Seperti yang abang bilang tadi, ini adalah teguran dari Allah dan semoga bisa buat abang introspeksi.”
“Abang nggak kecewa?”
“Enggaklah…ngapain kecewa, itu sudah lewat. kamu kayak nggak tahu aja abangmu ini”
“Iya deh, bang Fikar emang paling top deh”. Astrid bertepuk tangan dengan riang. Tapi sejurus kemudian dia menghentikan aksinya. Hidungnya mengendus-endus mencium sesuatu.
“Bau apa ini? Abang blom mandi ya” Katanya sambil menutup hidung.
“Iya, kan baru selesai bersihin motor, he he” Fikar tertawa
Ihhhh…mandi sana gihhhh..” Astrid ngomel
“Emang bau ya” Kata Fikar sembari mengangkat ketiak dan menciumnya. Astrid langsung lari menghindari Fikar. Dia takut Fikar akan melakukan hal jahil kepadanya.
“Hei Chit, mau kemana? Nggak mau ngobrol lagi?”
“Abang mandi dulu sana..yang bersih dan wangi, baru Achit mau ngobrol lagi” ujar Astrid sembari berjalan.
“Ayolah Chit, tanggung nih”
“Udah ah, Achit pergi dulu ya, Assalamualaikum” Tanpa memperdulikan teriakan Fikar, Astrid ngacir
“Wa’alaikumsalam,” Fikar tersenyum melihat tingkah tetangganya itu. Dia kembali memeriksa motor kesayangannya. Setelah puas dengan kerjaannya tadi, Fikar masuk ke rumah untuk mandi.
                                                            ******
(Bagian 2)

Matahari bersinar garang. Fikar bergegas melangkah menghindari panasnya matahari. Dia berlari kecil menaiki anak tangga. Ups hampir saja bertabrakan dengan sesosok tubuh,  segera dia memegang dinding untuk menahan keseimbangan. Dilihatnya siapa yang hampir menabraknya. Ternyata itu Adinda bersama seorang cowok. Benar seperti yang di katakan Astrid bahwa Adinda sekarang punya cowok baru. Adinda terlihat kikuk dan salah tingkah. Namun Fikar tetap tersenyum dan menyapanya dengan ramah.. Setelah berbasa-basi sekedarnya, Fikar segera menaiki anak tangga menuju ruang dosen.
Hari ini dia masih berurusan dengan Pak Sis tentang skripsinya. Kalau semuanya lancar, dua minggu lagi dia akan naik sidang. Walaupun ada luka di hatinya, dia tidak ingin membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Untunglah kesibukannya menyusun skripsi membuat dia melupakan pengalaman cintanya yang kandas. Apalagi Astrid selalu membuatnya tertawa bila ada cerita yang lucu. Entah kenapa dia selalu merasa nyaman bila bersama Astrid.

Tanpa terasa hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh mahasiswa yang sudah menyelesaikan sidang skripsi. Beban berat selama ini terlepas sudah berganti dengan kebahagian. Fikar sedang berkumpul dengan teman-teman ketika Roji, salah satu temannya memberitahu kalau Ayah dan ibu sudah datang. Dia melihat Ayah dan Ibu, di samping Ibu ada Astrid dan Mamanya. Fikar bergegas menemui mereka. Sementara wisudawan dan wisudawati sudah memadati aula, tempat akan dilaksanakan acara. Ibu memandang Fikar dengan senyum bangga, sementara ayah menepuk-nepuk punggung Fikar sebagai tanda dia juga bangga dengan keberhasilan putranya. Astrid dengan sigap menyuruh Fikar dan keluarga untuk berfoto bersama.
”Ntar aja deh Chit, setelah selesai acara…” Tolak Fikar.
“Ntar poto lagi, sekarang mumpung muka bang Fikar masih segar…” Sela Astrid sembari mempersiapkan kamera.
Fikar pun merangkul ayah dan ibu dan bersiap untuk difoto. Setelah selesai Ayah berinisiatif untuk menyuruh Astrid berfoto bersama Fikar. Astrid terlihat ragu-ragu, dia melihat Fikar yang juga enggan untuk berfoto.
“Ayo Achit, foto dengan abangmu. Fikar ayo berdiri yang betul..!” Desak Ibu.
Dengan pelan Fikar melangkah mendekati Astrid. Astrid akhinya menarik tangan mamanya.
“Mama ikutan foto juga ya…nah, mama di tengah… nah.. gini” Atur astrid dengan antusias
Fikar tersenyum melihat Astrid. Ayahpun segera memotret mereka. Terdengar pengumuman bahwa acara akan segera di mulai. Fikar mengantarkan orangtuanya, Astrid dan mamanya ketempat duduk yang disediakan untuk orang tua. Sementara dia segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Prosesi wisuda pun dimulai sampai akhirnya pembawa acara mengumunkan mahasiswa yang mendapat nilai terbaik
“Para hadirin semuanya, mahasiswa yang mendapatkan nilai terbaik adalah Zulfikar Kurniawan” Tepuk tangan membahana di seluruh penjuru aula. Ayah dan ibu berkali-kali mengucap syukur Alhamdulillah. Astrid bahkan berdiri dan berteriak saking senangnya, bahkan dia harus ditarik duduk kembali oleh mamanya. Sementara Fikar mendapat ucapan selamat dari teman-temannya.
“Kepada saudara Zulfikar dan yang mewakili dari pihak keluarga agar segera ke depan” Pembawa acara menyuruh Fikar dan Ayah untuk maju kedepan. Fikar beranjak dari tempat duduknya dan menjemput ayahnya untuk bersama menuju ke atas pentas. Secara simbolis Rektor menyerahkan Ijazah kepada Fikar. Fikar mengucapkan terimakasih dan dia segera memeluk ayah dengan bangga. Astrid berlari kedepan untuk mengabadikan momen penting itu. Ibu menatap Fikar dengan mata berkaca-kaca, dibibirnya tersungging senyum.

Acara akhirnya selesai juga. Mereka sekarang ada di depan gedung. Masih ada para sarjana baru yang mengabadikan keberhasilan mereka lulus kuliah dengan foto bersama keluarga dan juga teman. Gelak tawa terdengar riuh rendah di halaman. Fikar  juga sudah selesai berfoto dengan keluarga dan teman-temannya. Dia berencana untuk pulang bersama keluarganya ketika ada yang memanggil namanya. Adinda!
Adinda menghampiri Fikar dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Dia juga mengucapkan salam kepada orangtua Fikar, Astrid dan mamanya. Astrid mengajak Ayah dan Ibu Fikar juga mamanya untuk ke mobil dan menunggu Fikar selesai ngobrol dengan Adinda.
“Akhirnya abang berhasil lulus” Ujar Adinda sambil tersenyum manis.
“Iya…Alhamdulillah” Sahut Fikar pendek.
“Selamat juga atas nilai terbaik yang abang dapat”
“Terimakasih” Masih dengan jawaban pendek
“Pasti ada acara makan-makannya ni..”
“Itu semua urusan ibu, InsyaAllah dalam dua hari ini akan dibikin syukuran  kecil-kecilan di rumah sambil mengundang anak yatim…”
“Adek nggak di undang bang?” Tanya Adinda.
“Datang aja…”
“Engga ah, malu,…kan bukan anak yatim”
“Kenapa mesti malu….ntar di rumah kan ada Astrid, biasanya juga kamu sering main dengan Astrid kan?” Ujar fikar.
“Iya deh, entar adek usahain datang” Ucap adinda.
“Okelah, abang duluan ya, kasihan keluarga udah nunggu lama di mobil”
“Iya bang… “
Setelah mengucap salam, Fikar berjalan meninggalkan Adinda yang masih terpaku menatap kepergian Fikar. Tampak senyum penuh arti terlukis di bibir manis Adinda.
                                                ------------------

Kesibukan mulai terasa di dapur rumah Fikar. Ibu dan beberapa ibu-ibu tetangga lainnya berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing. Celotehan ibu-ibu mewarnai suasana pagi itu. Fikar yang sesekali melintas didapur menjadi sasaran ibu-ibu. Apalagi kalau bukan tentang calon istri buat Fikar.
“Nak Fikar blom punya pacar kan? Sama anak saya aja si Nani ya?” Kata Bu Tati dengan genit.
“Jangan nak, si Nani kan baru masuk SD, mending sama anak saya saja, si Putri… Dia sekolah di pesantren lho…” Sela Bu Sri.
“Apalagi itu, anak masih giat-giatnya belajar, masak mau di kawinin….” Derai tawa membahana di antara ibu-ibu itu
Fikar hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polah ibu-ibu itu, Dia tahu mereka hanya bercanda. Dan ketika Astrid muncul di dapur, dia pun menjadi bahan godaan berikutnya.
“Aduh neng Astrid udah gede ya, sepertinya cocok ni kalo berpasangan dengan nak Fikar….” celoteh Bu sri sambil mencolek Bu Tati. Bu Tati pun langsung mengerti dan ikut menimpali  “Bener ni jeng.. rumah udah dekat, jadi ngga perlu kendaraan  untuk antar pengantin… orang tinggal jalan saja…..”
“Ih..apaan sih bu…” Astrid menjadi malu. Pipinya  bersemu merah mendengar celotehan Bu Sri dan Bu Tati. Sementara ibu dan mama Astrid hanya tersenyum saja. Fikar terpana melihat semburat merah dipipi Astrid. Mereka sempat beradu pandang dan secara reflek keduanya segera mengalihkan pandangan dengan kikuk. Astrid segera menghindar dari dapur sebelum percakapan ibu-ibu itu semakin panjang. Dia pun menata meja, piring dan sendok di atur dengan rapi. Fikar menyusul Astrid di luar.

Di beranda, tanpa banyak bicara mereka bekerja. Sesekali astrid menatap Fikar, namun dia segera menyibukkan diri mengatur sendok ketika Fikar menoleh kepadanya. Fikar pun jengah dengan perasaanya. Dia merasa aneh dan tak tahu mau berbuat apa.
“Assalamualaikum..” Terdengar suara lembut seorang gadis.
“Wa’alaikumsalam….” Fikar dan Astrid berbarengan menjawab salam. Yang datang rupanya Adinda.
Dia mengenakan gamis longgar di padu rompi panjang sampai kaki, jilbabnya di buat modis menambah kemanisan wajahnya. Astrid tertegun melihat Adinda. Dia heran mengapa bisa Adinda datang. Fikar tersenyum melihat Adinda dan mempersilahkan Adinda masuk. Melihat keramahan Fikar kepada mantan kekasihnya, membuat Astrid tidak suka. Dia merasa tidak rela kedekatan Fikar dengan Adinda lagi “Ups ada apa dengan hatiku…Astaghfirullahal ‘Azhim” Astrid berusaha menepis prasangka buruk di hatinya dan mencoba tersenyum kepada Adinda.
“Ayo sini Din, kebetulan kamu datang, kamu bisa bantu aku mengatur air minum, sebentar lagi, anak-anak yatim itu akan datang” Ujarnya kepada Adinda.
Adinda pun melangkah ke arah Astrid dan segera membantu Astrid mengatur meja. Astrid masuk ke dalam untuk mengambil masakan yang sudah matang. Sementara Fikar membawa tempat nasi. Kelihatannya baru masak dan masih mengepul karena Fikar tergopoh-gopoh membawanya. Adinda mendekati Fikar yang sedang memeriksa jari tangannya “Tangannya kenapa bang” Tanya Adinda “Agak sedikit melepuh, mungkin karena tadi membawa bakul nasi yang masih panas”  “Sudah diobati?” “Sudah”  Jawab Fikar.
“Kapan rombongan anak yatim itu datang bang?”
“Sebentar lagi, Ayah sedang menjemput mereka”
Diam sejenak. Fikar masih memijit tangannya yang masih terasa sakit.
“Apa rencana abang setelah lulus kuliah?” Adinda mengalihkan pertanyaan
“Mungkin akan melanjutkan S2 di Luar Negeri…”
“Apa tidak ada rencana untuk menikah?...”
Fikar hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Adinda. Dia mengalihkan pandangan kemeja dan tertegun melihat Astrid yang sedang menatapnya yang duduk dengan Adinda. Astrid kembali kedalam rumah. Fikar beranjak untuk membantu Astrid, dia tidak enak hati melihat Astrid yang sibuk kerja sendirian.
“Ada yang ingin kutanyakan pada abang…” Terdengar suara Adinda menghentikan langkahnya. Fikar duduk kembali  “ Bicaralah…”
“Masih bisakah adek menjaga hati abang?”
Fikar terdiam mendengar permintaan Adinda. Dia tak menyangka Adinda memintanya untuk kembali menjalin hubungan.
“Kalau tidak ada yang menjaga hati abang sekarang…adek mau menjaga dan merawatnya. Kita mulai lagi seperti dulu..”
Fikar menghela nafas dan berkata ”Kita bicarakan nanti saja ya, abang harus siap-siap. Sebentar lagi anak-anak yatim akan datang, tidak enak melihat semuanya kerja, ni kan acara syukuran kelulusan abang”
“ oh maaf bang, adek malah mengganggu, baiklah aku akan menunggu jawaban abang nanti”  Kata Adinda. Dia pun langsung beranjak menuju meja membantu Astrid.

Acara syukuran untuk kelulusan Fikar sudah selesai. Anak-anak Yatim Piatupun sudah diantar pulang. Kali ini Fikar yang mengantarnya. Astrid dan Adinda pun sudah selesai dengan tugas mereka membersihkan meja, mereka juga sudah mengumpulkan piring dan gelas dan membawa masuk kedalam.
“Aku mau pulang Din, mau mandi… udah gerah sekali ni badan, ntar aku balik lagi kesini..” Kata Astrid.
“Aku ikut kamu ya Chit, nunggu bang Fikar sepertinya masih lama,..nggak enak juga kalo nungguin dia, apalagi di rumahnya” Ujar Adinda.
“Ya udah yuk“ Ajak Astrid.
Mereka pun berjalan beriringan. Sebenarnya Astrid ingin menanyakan tentang pembicaraan antara Fikar dan Adinda tadi yang sepertinya sangat serius. Tapi dia berusaha menahan rasa ingin tahunya karena tidak ingin dianggap mencampuri urusan pribadi orang lain.
“Oya Din, kamu masih dengan Tommy?” Tanya Astrid kepada Adinda.
“Udah enggak” Jawab Adinda santai.
Astrid berniat menanyakan lagi ketika Adinda berkata ”Aku pingin balik ama bang Fikar..”
Deg! Jantung Astrid berdetak “Ternyata aku salah..aku nyesal banget udah mutusin bang Fikar. Dia emang laki-laki yang baik ya Chit” Adinda kembali melanjutkan ucapannya tanpa menyadari raut muka Astrid yang berubah.
“Bang Fikar udah tau kamu mau balikan ama dia?”  “Udah, tadi udah aku sampein ke dia”
“Trus apa kata bang Fikar? Kejar Astrid “Bang Fikar belum menjawabnya, aku sebenarnya pengen dia bisa segera menjawabnya. Kamu bantuin aku ya Chit, kayak dulu yakinkan bang Fikar. Aku serius mau balik ama dia”  Adinda memohon kepada Astrid.
“Entar kamu berubah lagi…”
“Enggak, kali ini aku yakin dengan kata hatiku. Aku yakin milih dia”  Kata Adinda mantap.
Astrid hanya menggangguk pasrah. Adinda tersenyum dan memeluk astrid “Kamu emang temanku yang paling baik” Astrid hanya tersenyum.
“Yuk masuk”  Kata Astrid ketika sampai didepan rumahnya.
“Aku pulang aja ya, ngantuk, pengen tidur…”
Oh. ..Ya udah, hati-hati di jalan…” Kata Astrid. Adinda pun berjalan meninggalkan Astrid.  Astrid terpaku menatap kepergian Adinda. Dalam hati dia bertanya apakah Fikar akan menerima kembali kehadiran Adinda dalam hidupnya? Ada rasa tak enak bila mengingat kedekatan Fikar dan Adinda. Astrid tak ingin Fikar terluka lagi oleh Adinda. Tapi dia juga sadar, dia tak berhak melarang Fikar. Astrid menghela nafas dan melangkah masuk ke rumahnya.

                                                            ******
(Bagian 3)
Fikar baru selesai sholat maghrib  dan mengaji. Setelah melipat sajadah dia berdiri di depan jendela kamar menatap gelapnya malam. Dia memikirkan ucapan Adinda tadi siang. Mengapa Adinda memintanya kembali? Berbagai pertanyaan berkecamuk dibenaknya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Ketika hendak beranjak keluar kamar, hapenya berbunyi, ternyata Adinda yang menelpon. “Assalamualaikum bang,” terdengar suara Adinda diseberang. “Walaikumsalam”
“Lagi sibuk ya bang…?”
“Enggak, baru selesai sholat dan mengaji, ada apa Din?”
“Adek ingin menanyakan tentang yang tadi kita bicarakan, bagaimana bang?”
Fikar diam, hanya suara nafasnya yang terdengar di telinga Adinda. Adinda  menunggu jawaban dari fikar. Tak lama kemudian terdengar suara Fikar ”Maaf ya din, kamu pasti tak sabar ingin tahu jawaban abang….”
“Iya bang…adek tak sabar ingin tau jawaban abang, adek benar-benar serius ingin balikan lagi ama abang, jika abang ajak adek menikah, adek siap kok”
“Dinda…”
“Iya bang…” Hati Adinda jadi berdebar
“Kenapa kamu ingin kembali lagi?”
“Dinda hanya merasa abang tuh baik….tak ada lelaki lain sebaik abang yang kukenal”
“Cuma itu..?” Tanya Fikar
“Abis apa lagi? abang emang baik. abang selalu mau membantu adek.”
“Trus kenapa dulu kamu minta putus?”
“Aku hanya ingin suasana baru. Sayangnya suasana baru yang kuharapkan tak seindah saat kita bersama”
Fikar terdiam mendengar penjelasan dinda. Baginya ini merupakan jawaban dari pertanyaanya selama ini dan semakin mantap untuk memutuskan.
“Sebenarnya abang sudah melupakan tentang kita, abang hanya menggangap kamu sebagai teman”
“Tapi bang….”
“Abang tak bisa Din, kita tak bisa kembali merajut hari-hari seperti dulu lagi. Semua sudah berlalu”
“Abang marah sama aku?” Terlihat Adinda tak rela Fikar berkata seperti itu.
“Abang bukan marah sama kamu, abang hanya tak ingin kembali ke masa lalu…abang hanya ingin belajar dari pengalaman yang dulu….abang tak ingin jatuh ke lubang yang sama…”
“Adek sekarang sudah berubah bang, adek benar-benar serius”
“Siapa yang bisa menjamin itu semua Din? Lagipula hati abang sudah tidak mau lagi di jaga ama kamu…karena abang yakin pasti ada hati yang lain yang ikhlas untuk menjaganya…” Tegas Fikar
“Siapa dia bang…?” suara Adinda lemah menahan tangis. Harapannya pupus sudah untuk mendapatkan Fikar kembali.
“ Abang belum yakin lagi apakah dia mau menjaga hati abang dengan baik…abang akan liat bagaimana hatinya dan kesungguhannya untuk abang”
“Berarti tidak ada harapan untuk dinda ya bang..?”
“Pasti ada harapan untuk kamu, tapi bukan dari abang..percayalah!..Maafkan abang ya..”
I”ya bang…maafin aku juga bang, aku nyesal pernah ninggalin abang, tapi apa daya kutak bisa memiliki abang..”
“Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan Din, cobalah kamu untuk belajar dari semua yang terjadi, semoga kamu akan mendapatkan yang lebih baik walaupun tanpa abang..” Jelas Fikar panjang lebar
“Iya bang, makasih ya atas jawabannya” Suara Adinda semakin lirih.
“Iya sama-sama, udah dulu ya, Assalamualaikum..”
“Wa’alaikumsalam” Jawab Adinda sambil menutup telponnya. Adinda terduduk di tempat tidur. Dia begitu terpukul dengan pembicaraannya dengan Fikar. Adinda tak menyangka kalau Fikar akan menolaknya. Selama ini dia yakin Fikar masih mau menerimanya karena dia tau Fikar tak pernah punya pacar lagi setelah putus denganya. Ternyata perkiraanya salah. Dia baru menyadari pengalaman dulu sangat berharga buat Fikar untuk di jadikan pelajaran. Adinda hanya bisa menangis mengingat kegagalannya.

Sementara Fikar menjadi lebih tenang setelah berbicara dengan Adinda. Dia sangat bersyukur bisa menangani masalahnya dengan baik. Dia juga lega bayangan Adinda sudah tidak menghantui pikirannya lagi sekarang. Sejak dia mulai memperhatikan seseorang yang lain.  Sejak dia memantapkan hati untuk yang lain yang lebih pantas untuknya. Dia  ingin menceritakan tentang niatnya ini kepada orangtuanya. Fikar merasa semakin cepat semakin baik. Dia juga ingin berbagi cerita tentang ini semua. Hanya ada satu orang yang dia yakin dia bisa bebas bercerita. Fikar tersenyum membayangkan sosok manis yang selalu di jahilinya.
                                                -------------------
Malam hari setelah acara syukuran tadi siang, keluarga Fikar dan keluarga Astrid berkumpul. Karena tadi siang Papa Astrid kerja  dan tidak bisa ikut acara syukuran bersama Anak Yatim piatu, Ayah pun berinisiatif untuk membuat acara makan malam bersama biar papanya Astrid bisa ikut merasakan syukuran kelulusan Fikar.
Setelah selesai makan, mereka berkumpul di teras belakang sambil minum teh dan makan kue.
“Lega sekarang ya bang, anaknya sudah lulus kuliah”  Kata papa Astrid.
“Iya lega dan bersyukur, satu fase sudah di lewati oleh Fikar” Ujar Ayah.
“Apa rencana selanjutnya? Mau nikah atau cari kerja?” Tanya Mama Astrid.
Astrid menatap Fikar. Dia ingin tahu apakah Fikar sudah kembali dengan Adinda. Apakah malam ini Fikar akan mengatakan untuk melamar Adinda? Berbagai pikiran berkecamuk di benak Astrid.
“Rencana mau melanjutkan S2 tante, mungkin akan keluar negeri” Jawab Fikar
“Wah, bagus itu, jika perlu ke tempat Rio aja di mesir”  Kata papa Astrid
“Belum tau juga ni om, ada juga kepikiran untuk kesana….tapi Negara lain juga bagus”
“Kalau Jeng Dewi dan dek Herman enak masih ada anak satu lagi disini, ni saya dan bang Iwan, punya anak cuma satu-satunya… tamat kuliah mau ditinggalin lagi. Sepi deh rumah” Semua tertawa mendengar ucapan ibu.
“Makanya si Fikar cepat-cepat disuruh nikah biar cepat dapat cucu, jadi nggak sepi lagi..” Kata mama Astrid.  Gelak tawa kembali berderai.
“Emang kamu sudah ada calonnya Fik?” Tanya ibu
Semua mata memandang fikar. Fikar berinisiatif untuk mengatakan hal yang menjadi pemikirannya.
Sambil berdehem dia berkata ”Sebenarnya saya senang sekali kita semua ngumpul disini malam ini, walaupun om, tante dan Astrid bukan keluarga, tapi saya sudah menggangap seperti keluarga sendiri….”
Astrid gelisah di tempat duduknya. Apakah ini saatnya Fikar mengutarakan maksudnya untuk mempersunting Adinda? Berarti mereka sudah jadian? Dia pun bangkit.
“Mau kemana Chit” Fikar menatapnya  “Mau kedapur bantu mak Inah nyuci piring…”
“Duduk aja dulu, abang kan belum selesai ngomong, ada hal penting yang ingin abang bicarakan di sini”  Astrid masih ragu.  Mama Astrid langsung menarik tangannya untuk duduk kembali “Sudah kamu duduk lagi, kalo Fikar bahagia kan kamu juga yang senang?..ayo duduk!” Kata mama. Astrid pun duduk dan menundukkan muka. Dia tak sanggup mendengar apa yang akan di katakan Fikar.
“Ayah ibu.. “ Fikar mengarahkan pandangan ke orang tuanya “Saya lega sudah bisa lulus kuliah. Saya sudah senang membuat ayah dan ibu bangga,..rencana saya memang ingin mengambil S2. Tapi itu masih rencana, karena ada hal lain yang penting yang saya pikirkan…” Katanya dengan tenang. Tutur katanya begitu sopan seakan sudah difikirkan terlebih dahulu.
Semua terdiam mendengarkan perkataan Fikar. Sesekali Fikar menatap ayah, ibu, om tante dan juga Astrid. Astrid hanya menunduk terpaku, jari tangannya memainkan ujung bajunya.
“Benar kata ibu, rumah ini akan sepi kalo saya pergi, jadi saya bermaksud untuk meramaikan dengan tangis bayi..”
“Maksudmu, kamu akan menikah?”
“Iya bu…”
“Alhamdulillah” Semua lega mendengarnya. Tampak senyum dibibir Ayah dan Om, Ibu dan Tante saling memeluk bahagia. Astrid masih terpaku tak bergeming. Dia merasa lutunya lemas mendengar Fikar akan menikah.
“Memang calonnya siapa nak?”  Tanya ayah
Fikar terdiam dan kembali mengedarkan pandangan kesemua yang hadir. Ketika menatap Astrid, dia  melihat posisi gadis itu yang masih menunduk.
“Sebenarnya saya ingin membicarakan ini secara resmi. Tapi karena ini waktunya kita ngumpul, saya pikir ini waktu yang tepat. Saya sudah memikirkan ini. Walau saya belum tahu bagaimana jadinya nanti karena saya belum membicarakan ini kepada dia…Kalau  om dan tante tidak keberatan, dan ayah ibu setuju, saya ingin semua menjadi saksi untuk proposal pernikahan saya. Semoga saya bisa di terima..”
“Maksudmu nak? Ibu nggak ngerti? Kata ibu yang mengernyitkan dahi mendengar perkataan Fikar
“Saya ingin meminang Astrid untuk jadi istri saya,…” Hening terasa sesaat setelah Fikar menyampaikan maksudnya.
“Maksud kamu, kamu ingin melamar Astrid”? Tanya ayah untuk meyakinkan apa yang didengarnya tadi.
“Iya ayah”
“Om sih setuju saja, sepertinya tantemu juga tidak keberatan,” Ujar Papa Astrid sembari melihat istrinya yang mengangguk.
“Ayah dan ibu juga setuju dengan apa yang ingin kamu lakukan asal kamu serius menjalaninya”
“Saya serius ayah…”
“Bukannya kita belum mendengar jawaban yang punya badan..” Sela ibu.
Sekarang semua mata memandang kepada Astrid. Mama menyikut lengan Astrid yang masih tertunduk.  Astrid mendongakkan muka.  Dia melihat Fikar yang menatapnya lekat. Astrid kembali tertunduk. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fikar barusan, lututnya pun semakin lemas saja dan telapak tangannya sudah berkeringat.
“Bagaimana Chit, kamu mau menerima Fikar?” Tanya papa.
“Kok abang gak bilang sih..?” Astrid mendelik kearah Fikar.
“Ini kan udah dibilang..”
“Bukan gitu, maksudnya kan bisa kasih tau ke Achit dulu, nggak mendadak gini…bikin kaget tau…” Astrid mulai kesal.
“Abang memang sengaja bikin surprise seperti ini, kan seru..”  Fikar pun tak mau kalah. Sementara ayah, ibu papa, mama Astrid hanya terdiam dan tersenyum mendengar percakapan Fikar dan Astrid. Sepertinya mereka sudah paham dengan kelakuaan anak-anak mereka.
“Surprise nya nggak lucu..”  Sungut Astrid
“Jadi Achit ngga suka..?”
“Iya, ngga suka!!”
“Berarti nolak dong..”
“Kan nggak bilang nolak…”
“Jadi diterima?”
“Yee. Enak aja…”
“Abis maumu apa sih Chit?” Fikar mulai kesal. Dia tak sadar dengan adanya kedua orang tuanya dan orang tua Astrid
Orang tua masing-masing masih tetap diam, mereka sepertinya masih menunggu akan kemana kisah dua anak manusia yang selalu berdebat ini. Akhirnya ayah melerai mereka. Fikar dan Astrid terdiam  “Biarkan Astrid berfikir dulu” Ayah menenangkan Fikar. Fikar mengambil air teh dan meminumnya. Dia merasa bersalah, seharusnya memang dia mengatakan kepada Astrid terlebih dahulu. Dan sekarang harapannya tipis.
“Papa, mama, om, tante, maafkan Astrid bila suasananya menjadi seperti ini” Kata Astrid.
Sekarang giliran Fikar yang tertunduk. Astrid melanjutkan ”Terus terang, Achit sangat kaget dengan apa yang dikatakan bang Fikar, Achit benar-benar tak menyangka abang akan melamar Achit….Achit merasa belum saatnya untuk menikah…”
Kedua orang tua terdiam dan saling berpandangan. Sementara Fikar semakin menundukkan wajahnya. Ia yakin akan penolakan Astrid  “Tapi kalau memang bang Fikar adalah jodoh yang terbaik buat Achit….yang dipilihkan Allah untuk Achit…Achit menerimanya..” Sambung Astrid.
“Apa benar kamu mau menerima Fikar nak?” Tanya Papa
Fikar memandang Astrid yang mengganggukkan kepala. Pipinya bersemu merah. Astrid menyembunyikan mukanya di balik punggung mamanya.
“Alhamdulilah” Ucapan Hamdallah mengalir di bibir masing masing. Fikar kembali memandang Astrid. Astrid menjulurkan lidah dan kembali menyembunyikan mukanya dibelakang mamanya. Fikar hanya tersenyum melihat tingkah Astrid.  Astrid yang lucu, ceria dan berpipi tembem. Fikar juga tak menyangka mengapa dia bisa memilih seorang Astrid, adik temannya yang juga tetangganya. Tapi dia yakin ini semua sudah di atur sama Allah.
Fikar meminta ijin mengajak Astrid ke bangku yang lain, yang tidak jauh dari tempat duduk orang tuanya. Kedua orang tua mengijinkan, toh mereka masih bisa mengawasi dari tempat duduk mereka. Kedua orang tua juga mengerti bahwa sepasang sejoli itu perlu berbicara. Ayah pun mengatakan akan berbicara dengan papa dan mama Astrid tentang hari baik untuk lamaran yang resmi.
Begitu duduk Astrid langsung mencecar Fikar dengan pertanyaan yang ada di pikirannya.
“Bang, Achit pikir abang jadian lagi ama Adinda”
“Kok kamu tau tentang itu?”
“Tadi siang kan Adinda cerita ama Achit kalo dia pengen balik ama abang, kok nggak abang terima dia lagi sih…?”
“Emang Achit rela kalo abang balikan ama dia”?
“Yah..engga sih, Cuma kasihan aja…”
“Trus kamu juga kasihan nerima abang”
“Bukan gitu, ahh abang gimana sih”
“Udah deh Chit, yang lalu biarlah berlalu… abang hanya ingin menatap kedepan, abang ingin menata masa depan. Kamu ingat kan apa yang dikatakan abangmu Rio sebelum dia berangkat ke Mesir?” Astrid mengangguk.
“Dia bilang untuk selalu menjaga kamu, melindungi kamu adik satu-satunya. Kemarin abang sempat chating ama dia dan abang katakan maksud abang untuk melamar kamu, dia sangat setuju dan mengharapkan kita segera menikah dan bisa menyusulnya ke Mesir”
“Tapi kemarin bang Rio telpon, dia nggak bilang apa-apa tuh”
“Abang suruh dia untuk nggak kasih tahu dulu” Astrid tersenyum. Fikar meneruskan ucapannya “Yang penting sekarang itu adalah kita, bagaimaan kita menjalani ini semua, dulu abang pernah salah memberikan hati abang kepada gadis lain, sekarang abang hanya ingin Achit menjaga dan merawat hati abang ini biar tidak diminta orang lain, begitu juga dengan abang… abang akan menjaga hati Achit….”
“InsyaAllah bang, sebenarnya Achit juga masih tidak percaya dengan ini semua”
“Achit pikir abang nggak gitu? Sebenarnya tadi juga abang takut sekali kalau Achit menolak abang, abang sudah siap- siap aja tadi”
“Mau ngapain…?” Tanya Astrid
“Mau lari..” Jawab Fikar sambil tertawa kecil. Astrid pun ikut tertawa.
“Benar kata orang kalau cinta dan jodoh tidak bisa di prediksi kapan datangnya. Semua Allah yang ngatur. Yang dikatakan hati baik, baik dianya. Nyaman…nyamanlah dia.” Ujar Astrid sembari menatap bintang di langit. Fikar pun ikut-ikutan melihat bintang yang bersinar menerangi malam. Kemudian Fikar mengalihkan pandangan menatap Astrid.
“ Dek, tolong jaga hati abang ya…?”
“Ih..abang, sok mesra deh….” Astrid terkekeh melihat Fikar yang puitis
“Emang Achit nggak suka..?”
“Bukan nggak suka cuman geli aja dengarnya…. biasa aja lagi”  Fikar pun ikut tertawa
“ Makasih ya Chit, sudah mau menerima abang”
“Sama-sama bang..Achit juga makasih abang mau ama Achit” Mereka saling tersenyum.
Bunga-bunga cinta mulai merekah di hati. Astrid juga berfikir untuk memberitahu Adinda tentang ini. Bagaimanapun Adinda adalah temannya. Semoga Adinda bisa menerima ini, batinnya. Mama memanggil keduanya untuk bergabung kembali dengan kedua orang tua. Tampaknya penentuan tanggal untuk lamaran secara resmi sudah di tetapkan. Tentang tanggal pernikahan akan ditentukan pada saat acara lamaran nanti. Fikar dan Astrid hanya tersenyum mendengar penjelasan kedua orang tua mereka. Sesekali Fikar memandang penuh cinta kepada Astrid. Astrid meyakinkan Fikar melalui matanya kalau dia akan menjaga hati dan diri hanya untuk Fikar, suaminya kelak.

                                                SELESAI

Terima kasih banyak  yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini sampai akhir. Bila ada kekurangan di sana sini, kami mohon maaf, karena masih belajar.  Sampai jumpa lagi di kisah selanjutnyaJ

 Emmilia Rosda






Tidak ada komentar:

Posting Komentar