(Bagian 1)
Fikar sedang membereskan buku-buku
kuliahnya ketika matanya melihat bayangan Adinda di depan pintu. Segera dia
memasukkan buku ke dalam tas rangsel dan berjalan keluar ruangan.
“Assalamualaikum, bang” Sapa Adinda
dengan santun “Wa’alaikumsalam, udah lama?”
“Baru sekitar sepuluh menit, ada yang
ingin adek bicarakan bang….”
“Tentang apa?”
“Sebaiknya kita memilih tempat untuk
bicara. Apa Abang punya waktu?” Tanya Adinda
Fikar melihat jam tangannya. Dia harus
segera pergi menemui dosen pembimbing yang akan merevisi judul skripsinya. Dan
satu jam lagi dia harus rapat di mesjid dengan Remaja mesjid di lingkungan
rumahnya. Bisa di katakan Fikar salah satu pembina yang mengurusi remaja dan
adik-adik dalam kegiatan di kampungnya.
“Kalau abang sibuk, biar nanti saja
kita bicara.”
“Bisa kok. Ayo kita cari tempat duduk”
Ujar Fikar sembari mengisyaratkan Adinda untuk melangkah terlebih dahulu.”
Setelah Adinda beranjak, baru Fikar
menyusul di belakangnya. Sambil berjalan Fikar berfikir mengapa Adinda
mencarinya, pasti ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan. Adinda adalah
adik kelasnya di SMA dulu. Sejak SMA Fikar sudah menitipkan hatinya untuk di
jaga. Sudah cukup lama hubungan mereka, tapi mereka tak pernah berjalan berdua.
Hubungan mereka lebih bisa di katakan seperti kakak adik saja atau teman biasa
saja. Tak ada kencan mesra seperti hubungan kekasih. Kalaupun ingin nonton
film, mereka akan mengajak teman-teman dan duduknya tak pernah berdekatan.
Fikar hanya mencoba menjaga semuanya agar tidak melenceng keluar jalur. Adinda
seorang gadis yang manis dan santun, tutur katanya lembut dan dia tak pernah
tertawa terbahak-bahak bila mendengar cerita yang lucu.
Adinda memilih tempat duduk di bangku
panjang di depan perpustakaan. Fikar duduk di ujung bangku itu.
Mereka saling diam, sepertinya
masing-masing ingin salah satu memulai percakapan. Fikar tidak tahan dengan
suasana ini dan mulai membuka percakapan.
”Ada apa sebenarnya….? Apa yang ingin adek
bicarakan?”
Adinda menunduk dan akhirnya membuka
mulutnya untuk berkata ”Aku ingin mengembalikan hati yang abang titipkan”
Ucapan Adinda begitu pelan dan lembut tapi cukup membuat Fikar tersentak “Coba
diulangi lagi, maksudnya apa?” Fikar meminta Adinda untuk mengulangi lagi
ucapannya. Dia juga heran dengan ucapan Adinda barusan, tak biasanya Adinda
menyebut kata aku setiap kali mereka berbicara.
“Bang, aku minta maaf, tak bisa
menjaga hati abang dengan baik” Adinda mengambil nafas sejenak.
“Aku ingin menyerahkan kembali kepada
abang. Aku ingin kita tak punya hubungan lagi kecuali hanya sebatas teman”.
Ujar Adinda. Fikar menekur. Dia mencoba
mencerna kata-kata Adinda. Ada rasa nyeri di dadanya ketika memahami maksud
perkataan adinda.
“Apa adek sudah punya yang lain?”
“Tidak bang, bukan itu….. adek hanya
ingin konsentrasi dengan kuliah…banyak sekali tugas kuliahku yang harus aku
kerjakan.”
“Tapi, kan selama ini semua
tugas-tugas kuliah adek baik-baik saja. Dan abang bisa membantumu seperti biasa
kalau ada kesulitan….”
“Maaf bang, Aku tidak bisa membagi
waktu dan hatiku dengan yang lain. Aku benar-benar tidak bisa. Maukan abang
menerima hati abang kembali?” Desak Adinda.
Fikar terdiam sejenak dan akhirnya dia
berucap ”Kalau memang itu keputusan adek dan itu jalan yang terbaik, abang akan
menerimanya….”
Adinda memandang Fikar, dilihatnya
wajah Fikar yang tetap tenang. Tak ada gurat kesedihan disana. Dia tidak tahu
kalau Fikar berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang kacau. Adinda kembali
menundukkan pandangannya “Terimakasih bang, atas waktunya selama ini, aku
berharap kita masih bisa berteman…. Abang mau kan?”
“InsyaAllah…” Sahut Fikar mencoba
tersenyum
“Alhamdulillah, kalau begitu aku
permisi bang, sampai jumpa lagi, Assalamualaikum” Adinda bangkit dan menyampirkan tas di
bahunya, kemudian dia melangkah pergi.
“Wa’alaikumsalam” Fikar berkata lirih
dan memandang kepergian Adinda. Jilbab dan rok lebarnya terayun-ayun di terpa
angin. Bayangan Adinda hilang di ujung gedung pustaka kampus.
Fikar masih duduk di kursi merenungi
keputusan tadi yang notabene adalah keputusan Adinda. Dan sekarang dia harus
bisa menerima keputusan itu. Walau ada sedih dan kecewa, dia akan mencoba sabar
untuk menjalani. Semoga akan banyak kesibukannya dan dia bisa melupakan kisah
hatinya yang perih. Fikar melihat jam tangan, dia tidak bisa ketemu Pak Sis
untuk bicara tentang skripsinya karena sekarang waktunya sudah lewat. Tapi dia
masih punya waktu dengan pengurus Remaja mesjid. Dia pun bergegas pergi
ketempat parkir motor dan berangkat ke tempat rapat.
------------------------------
Fikar sedang membersihkan motor
kesayangannya ketika ada yang mengucap salam di belakangnya. Sambil menjawab
salam dia menoleh. Terlihat seorang gadis berbaju gamis biru tosca dengan
kerudung warna putih.
“Lagi sibuk bang?” Senyum gadis itu
merekah melihat Fikar. Fikar mematikan selang yang ada di tangannya.
“Eh ada si pipi tembem..”
“Abang tuh yang tembem…” Si gadis
mendelik kesal.
Fikar tertawa “Kebetulan kamu datang
Chit, ayo bantuin abang”
“Enak aja, orang udah rapi gini, sorry
ya” Astrid mencibir kearah Fikar. Astrid adalah tetangga Fikar. Abangnya
Astrid, Rio adalah teman Fikar. Sekarang Rio lagi meneruskan kuliah ke Mesir,
jadi dia jarang pulang. Otomatis Astrid sering meminta bantuan kepada Fikar,
lagipula Rio pernah berpesan padanya untuk menjaga Astrid selama dia pergi.
Fikar kembali melanjutkan kerjaanya
membersihkan motor, dia menuangkan cairan pembersih khusus ke kain lap dan
mulai menyapukan ke badan motor dan seluruh bagian yang kotor. Astrid kemudian
duduk di bangku teras rumah fikar.
“Bang, dengar-dengar kabar burung ya..katanya
abang udah nggak lagi ama Dinda ya?....”
Fikar diam saja. Sepertinya dia
sengaja tak ingin menjawab pertanyaan Astrid. Dia malah mulai menghidupkan
selang air.
“Baaaangg” Teriak Astrid kesal karena dicuekin.
“Apa sih Chit? nggak liat Abang lagi
sibuk..lagian kabar burung didengerin.. Mending denger suara burung yang
berkicau di pagi hari”
“Jawab dong pertanyaan Achit”
“Pertanyaan yang mana?”
“Tuh kan, Abang sengaja gak mau jawab
ya?
“Katanya kamu mau pergi, hayo
sana..ntar telat lagi” Fikar mengusir Astrid agar segera pergi.
“Ihh..Abang ni bikin gondok aja..ni
kan super duper penting, menyangkut hak hidup orang banyak” Astrid
menghentakkan kakinya. Dia mulai keliatan cemberut.
Fikar tertawa mendengar kalimat
terakhir yang di lontarkan Astrid. Hak hidup orang banyak? Yang benar saja?
“Yee, dia malah ketawa” Astrid
menghentakkan kakinya kembali, pipinya sudah memerah menahan marah. Fikar
kembali tertawa melihat tingkah Astrid. Fikar tahu bagaimana sifat Astrid. Dia
akan terus mengejar segala rasa ingin tahunya. Walaupun kelihatan Astrid marah,
dia yakin itu Cuma akal-akalan Astrid untuk bisa mendapatkan jawaban yang dia
inginkan.
“Oke Abang jawab, kamu tanya apa
tadi?” Akhirnya Fikar mengalah.
Astrid masih diam. Mulutnya manyun dan
membentuk kerucut. Fikar tersenyum melihat aksi adik temannya itu. Kalau waktu
kecil dulu, biasanya langsung dia mencubit gemas pipi Astrid. Tapi sekarang dia
tidak berani melakukan karena pasti Astrid akan ngambek dan marah besar.
Apalagi sekarang dia sudah rapi. Bisa terjadi perang dunia ketiga kalau itu
terjadi.
“Kamu tanya tentang Dinda ya? Iya, abang
udah enggak sama dia lagi. Kami memutuskan untuk berteman sekarang”
“Kok bisa bang? Bukannya kalian
baik-baik saja?” Astrid heran dengan apa yang didengarnya. Dulu Astrid termasuk
orang yang setuju dengan hubungan Fikar dan Adinda. Astrid dan Adinda satu
kelas waktu SMP dan SMA. Berkat Astrid juga Adinda bisa dekat dengan Fikar.
Fikar telah selesai membersihkan
motornya. Dia pun duduk di lantai dan bersandar di tiang teras rumahnya.
“Dia meminta abang untuk memilih jalan
masing-masing, katanya dia mau serius dengan kuliahnya, abang mau bilang apa?
Kalau memang itu jalan terbaik untuk dia dan abang, abang terima”
“Bener hanya pengen konsentrasi dengan
kuliah? Bukannya ada yang lain?” Selidik Astrid.
“Emangnya ada hal lain apa? Maksudmu
abang punya yang lain? Kamu kan tau sendiri Chit. bang Fikar selalu sibuk, mana ada waktu untuk cewek
lain”
“Maksud Achit bukan itu, dari
adindanya sendiri” Fikar memandang Astrid. Dari tatapan Astrid, Fikar tahu ada
yang disembunyikan oleh Astrid.
”Memang ada apa sebenarnya Chit?”
Tanya Fikar
Astrid menghela nafas dan mencari
kata-kata yang tepat. “Hmm sejak putus ama dia, abang masih sering ketemu ama
dia?”
“Sejak kami bicara tentang hal itu,
abang nggak pernah ketemu lagi. Pernah abang telpon katanya lagi ada dosen,
trus abang sms, gak pernah dibalas…. Ya sudah, abang pikir dia pasti betul-betul
lagi fokus ama kuliah”
“Iya, Dinda fokus dengan cowoknya yang
baru” Sela Astrid cepat.
“Maksudmu Chit? kamu jangan nuduh gitu
dong, nggak baek”
“Aduh abang Fikar, abang tuh udah di
permainkan ama dia..dia tuh udah punya yang baru, jadi.. yang katanya mau
serius di kuliahnya itu hanya alasan yang dibuat-buat ama dia…”
Fikar terdiam mendengar ucapan astrid.
Separuh hatinya masih mencoba percaya dengan alasan Adinda, sementara
separuhnya lagi dia memikirkan kata-kata Astrid. Selama ini Astrid tak pernah
bohong.
”Biarlah Chit, abang tidak mau
menyalahkan siapapun. Mungkin memang ini yang terbaik buat abang, mungkin abang
mendapat teguran dari Allah,… nggak boleh pacaran sebelum nikah. Mungkin memang
abang yang salah yang nggak bisa menjaga hati ini..”
“Lho, selama ini kan abang nggak
pernah macam-macam ama dia?”
“Iya abang tau, tapi tetap saja abang
merasa sudah salah karena tidak bisa menjaga pikiran dan perasaan…. Abang lebih
mementingkan perasaan abang kepadanya dari pada urusan kuliah dan skripsi”
Astrid memandang Fikar dengan kagum.
Fikar yang dia kenal adalah pribadi yang baik, tak pernah meninggalkan sholat
dan sering puasa senin kamis. Kalau bulan Ramadhan, juga sering bikin acara
bersama remaja-remaja di lingkungannya. Baginya, Fikar adalah sosok pria yang
baik dan sholeh walau jahilnya tak pernah hilang.
“Iya sih bang, Cuma kan bukan kali ini
saja Dinda melakukan hal ini kepada abang. Dulu juga dia minta putus…abang
terima, trus minta balik…abang juga terima. Sekarang dia minta putus lagi.. heran
deh tuh cewek hobinya putus nyambung kayak lagu aja” Astrid nyerocos dengan
sebel.
“Sudah Chit, nggak boleh di
ingat-ingat yang dulu, biar menjadi pengalaman buat abang. Abang terlalu bodoh
dengan semua ini. Seperti yang abang bilang tadi, ini adalah teguran dari Allah
dan semoga bisa buat abang introspeksi.”
“Abang nggak kecewa?”
“Enggaklah…ngapain kecewa, itu sudah
lewat. kamu kayak nggak tahu aja abangmu ini”
“Iya deh, bang Fikar emang paling top
deh”. Astrid bertepuk tangan dengan riang. Tapi sejurus kemudian dia
menghentikan aksinya. Hidungnya mengendus-endus mencium sesuatu.
“Bau apa ini? Abang blom mandi ya”
Katanya sambil menutup hidung.
“Iya, kan baru selesai bersihin motor,
he he” Fikar tertawa
Ihhhh…mandi sana gihhhh..” Astrid
ngomel
“Emang bau ya” Kata Fikar sembari
mengangkat ketiak dan menciumnya. Astrid langsung lari menghindari Fikar. Dia
takut Fikar akan melakukan hal jahil kepadanya.
“Hei Chit, mau kemana? Nggak mau
ngobrol lagi?”
“Abang mandi dulu sana..yang bersih
dan wangi, baru Achit mau ngobrol lagi” ujar Astrid sembari berjalan.
“Ayolah Chit, tanggung nih”
“Udah ah, Achit pergi dulu ya,
Assalamualaikum” Tanpa memperdulikan teriakan Fikar, Astrid ngacir
“Wa’alaikumsalam,” Fikar tersenyum
melihat tingkah tetangganya itu. Dia kembali memeriksa motor kesayangannya.
Setelah puas dengan kerjaannya tadi, Fikar masuk ke rumah untuk mandi.
******
(Bagian 2)
Matahari bersinar garang. Fikar bergegas
melangkah menghindari panasnya matahari. Dia berlari kecil menaiki anak tangga.
Ups hampir saja bertabrakan dengan sesosok tubuh, segera dia memegang dinding untuk menahan
keseimbangan. Dilihatnya siapa yang hampir menabraknya. Ternyata itu Adinda
bersama seorang cowok. Benar seperti yang di katakan Astrid bahwa Adinda
sekarang punya cowok baru. Adinda terlihat kikuk dan salah tingkah. Namun Fikar
tetap tersenyum dan menyapanya dengan ramah.. Setelah berbasa-basi sekedarnya,
Fikar segera menaiki anak tangga menuju ruang dosen.
Hari ini dia masih berurusan dengan
Pak Sis tentang skripsinya. Kalau semuanya lancar, dua minggu lagi dia akan naik
sidang. Walaupun ada luka di hatinya, dia tidak ingin membiarkan dirinya larut
dalam kesedihan. Untunglah kesibukannya menyusun skripsi membuat dia melupakan
pengalaman cintanya yang kandas. Apalagi Astrid selalu membuatnya tertawa bila
ada cerita yang lucu. Entah kenapa dia selalu merasa nyaman bila bersama
Astrid.
Tanpa terasa hari ini adalah hari yang
paling ditunggu oleh mahasiswa yang sudah menyelesaikan sidang skripsi. Beban
berat selama ini terlepas sudah berganti dengan kebahagian. Fikar sedang berkumpul
dengan teman-teman ketika Roji, salah satu temannya memberitahu kalau Ayah dan
ibu sudah datang. Dia melihat Ayah dan Ibu, di samping Ibu ada Astrid dan
Mamanya. Fikar bergegas menemui mereka. Sementara wisudawan dan wisudawati
sudah memadati aula, tempat akan dilaksanakan acara. Ibu memandang Fikar dengan
senyum bangga, sementara ayah menepuk-nepuk punggung Fikar sebagai tanda dia
juga bangga dengan keberhasilan putranya. Astrid dengan sigap menyuruh Fikar
dan keluarga untuk berfoto bersama.
”Ntar aja deh Chit, setelah selesai
acara…” Tolak Fikar.
“Ntar poto lagi, sekarang mumpung muka
bang Fikar masih segar…” Sela Astrid sembari mempersiapkan kamera.
Fikar pun merangkul ayah dan ibu dan
bersiap untuk difoto. Setelah selesai Ayah berinisiatif untuk menyuruh Astrid berfoto
bersama Fikar. Astrid terlihat ragu-ragu, dia melihat Fikar yang juga enggan
untuk berfoto.
“Ayo Achit, foto dengan abangmu. Fikar
ayo berdiri yang betul..!” Desak Ibu.
Dengan pelan Fikar melangkah mendekati
Astrid. Astrid akhinya menarik tangan mamanya.
“Mama ikutan foto juga ya…nah, mama di
tengah… nah.. gini” Atur astrid dengan antusias
Fikar tersenyum melihat Astrid.
Ayahpun segera memotret mereka. Terdengar pengumuman bahwa acara akan segera di
mulai. Fikar mengantarkan orangtuanya, Astrid dan mamanya ketempat duduk yang
disediakan untuk orang tua. Sementara dia segera bergabung dengan
teman-temannya yang lain. Prosesi wisuda pun dimulai sampai akhirnya pembawa
acara mengumunkan mahasiswa yang mendapat nilai terbaik
“Para hadirin semuanya, mahasiswa yang
mendapatkan nilai terbaik adalah Zulfikar Kurniawan” Tepuk tangan membahana di
seluruh penjuru aula. Ayah dan ibu berkali-kali mengucap syukur Alhamdulillah.
Astrid bahkan berdiri dan berteriak saking senangnya, bahkan dia harus ditarik
duduk kembali oleh mamanya. Sementara Fikar mendapat ucapan selamat dari
teman-temannya.
“Kepada saudara Zulfikar dan yang
mewakili dari pihak keluarga agar segera ke depan” Pembawa acara menyuruh Fikar
dan Ayah untuk maju kedepan. Fikar beranjak dari tempat duduknya dan menjemput
ayahnya untuk bersama menuju ke atas pentas. Secara simbolis Rektor menyerahkan
Ijazah kepada Fikar. Fikar mengucapkan terimakasih dan dia segera memeluk ayah
dengan bangga. Astrid berlari kedepan untuk mengabadikan momen penting itu. Ibu
menatap Fikar dengan mata berkaca-kaca, dibibirnya tersungging senyum.
Acara akhirnya selesai juga. Mereka
sekarang ada di depan gedung. Masih ada para sarjana baru yang mengabadikan
keberhasilan mereka lulus kuliah dengan foto bersama keluarga dan juga teman.
Gelak tawa terdengar riuh rendah di halaman. Fikar juga sudah selesai berfoto dengan keluarga dan
teman-temannya. Dia berencana untuk pulang bersama keluarganya ketika ada yang
memanggil namanya. Adinda!
Adinda menghampiri Fikar dan
mengucapkan selamat atas kelulusannya. Dia juga mengucapkan salam kepada
orangtua Fikar, Astrid dan mamanya. Astrid mengajak Ayah dan Ibu Fikar juga
mamanya untuk ke mobil dan menunggu Fikar selesai ngobrol dengan Adinda.
“Akhirnya abang berhasil lulus” Ujar
Adinda sambil tersenyum manis.
“Iya…Alhamdulillah” Sahut Fikar
pendek.
“Selamat juga atas nilai terbaik yang
abang dapat”
“Terimakasih” Masih dengan jawaban
pendek
“Pasti ada acara makan-makannya ni..”
“Itu semua urusan ibu, InsyaAllah dalam
dua hari ini akan dibikin syukuran kecil-kecilan
di rumah sambil mengundang anak yatim…”
“Adek nggak di undang bang?” Tanya
Adinda.
“Datang aja…”
“Engga ah, malu,…kan bukan anak yatim”
“Kenapa mesti malu….ntar di rumah kan
ada Astrid, biasanya juga kamu sering main dengan Astrid kan?” Ujar fikar.
“Iya deh, entar adek usahain datang” Ucap
adinda.
“Okelah, abang duluan ya, kasihan
keluarga udah nunggu lama di mobil”
“Iya bang… “
Setelah mengucap salam, Fikar berjalan
meninggalkan Adinda yang masih terpaku menatap kepergian Fikar. Tampak senyum
penuh arti terlukis di bibir manis Adinda.
------------------
Kesibukan mulai terasa di dapur rumah
Fikar. Ibu dan beberapa ibu-ibu tetangga lainnya berkutat dengan pekerjaan
mereka masing-masing. Celotehan ibu-ibu mewarnai suasana pagi itu. Fikar yang
sesekali melintas didapur menjadi sasaran ibu-ibu. Apalagi kalau bukan tentang
calon istri buat Fikar.
“Nak Fikar blom punya pacar kan? Sama
anak saya aja si Nani ya?” Kata Bu Tati dengan genit.
“Jangan nak, si Nani kan baru masuk
SD, mending sama anak saya saja, si Putri… Dia sekolah di pesantren lho…” Sela
Bu Sri.
“Apalagi itu, anak masih giat-giatnya
belajar, masak mau di kawinin….” Derai tawa membahana di antara ibu-ibu itu
Fikar hanya tersenyum-senyum melihat
tingkah polah ibu-ibu itu, Dia tahu mereka hanya bercanda. Dan ketika Astrid
muncul di dapur, dia pun menjadi bahan godaan berikutnya.
“Aduh neng Astrid udah gede ya,
sepertinya cocok ni kalo berpasangan dengan nak Fikar….” celoteh Bu sri sambil
mencolek Bu Tati. Bu Tati pun langsung mengerti dan ikut menimpali “Bener ni jeng.. rumah udah dekat, jadi ngga
perlu kendaraan untuk antar pengantin…
orang tinggal jalan saja…..”
“Ih..apaan sih bu…” Astrid menjadi
malu. Pipinya bersemu merah mendengar
celotehan Bu Sri dan Bu Tati. Sementara ibu dan mama Astrid hanya tersenyum
saja. Fikar terpana melihat semburat merah dipipi Astrid. Mereka sempat beradu
pandang dan secara reflek keduanya segera mengalihkan pandangan dengan kikuk. Astrid
segera menghindar dari dapur sebelum percakapan ibu-ibu itu semakin panjang.
Dia pun menata meja, piring dan sendok di atur dengan rapi. Fikar menyusul
Astrid di luar.
Di beranda, tanpa banyak bicara mereka
bekerja. Sesekali astrid menatap Fikar, namun dia segera menyibukkan diri
mengatur sendok ketika Fikar menoleh kepadanya. Fikar pun jengah dengan
perasaanya. Dia merasa aneh dan tak tahu mau berbuat apa.
“Assalamualaikum..” Terdengar suara
lembut seorang gadis.
“Wa’alaikumsalam….” Fikar dan Astrid
berbarengan menjawab salam. Yang datang rupanya Adinda.
Dia mengenakan gamis longgar di padu
rompi panjang sampai kaki, jilbabnya di buat modis menambah kemanisan wajahnya.
Astrid tertegun melihat Adinda. Dia heran mengapa bisa Adinda datang. Fikar
tersenyum melihat Adinda dan mempersilahkan Adinda masuk. Melihat keramahan Fikar
kepada mantan kekasihnya, membuat Astrid tidak suka. Dia merasa tidak rela kedekatan
Fikar dengan Adinda lagi “Ups ada apa dengan hatiku…Astaghfirullahal ‘Azhim” Astrid
berusaha menepis prasangka buruk di hatinya dan mencoba tersenyum kepada
Adinda.
“Ayo sini Din, kebetulan kamu datang,
kamu bisa bantu aku mengatur air minum, sebentar lagi, anak-anak yatim itu akan
datang” Ujarnya kepada Adinda.
Adinda pun melangkah ke arah Astrid
dan segera membantu Astrid mengatur meja. Astrid masuk ke dalam untuk mengambil
masakan yang sudah matang. Sementara Fikar membawa tempat nasi. Kelihatannya
baru masak dan masih mengepul karena Fikar tergopoh-gopoh membawanya. Adinda
mendekati Fikar yang sedang memeriksa jari tangannya “Tangannya kenapa bang”
Tanya Adinda “Agak sedikit melepuh, mungkin karena tadi membawa bakul nasi yang
masih panas” “Sudah diobati?” “Sudah” Jawab Fikar.
“Kapan rombongan anak yatim itu datang
bang?”
“Sebentar lagi, Ayah sedang menjemput
mereka”
Diam sejenak. Fikar masih memijit
tangannya yang masih terasa sakit.
“Apa rencana abang setelah lulus
kuliah?” Adinda mengalihkan pertanyaan
“Mungkin akan melanjutkan S2 di Luar Negeri…”
“Apa tidak ada rencana untuk menikah?...”
Fikar hanya tertawa kecil mendengar
pertanyaan Adinda. Dia mengalihkan pandangan kemeja dan tertegun melihat Astrid
yang sedang menatapnya yang duduk dengan Adinda. Astrid kembali kedalam rumah.
Fikar beranjak untuk membantu Astrid, dia tidak enak hati melihat Astrid yang
sibuk kerja sendirian.
“Ada yang ingin kutanyakan pada abang…”
Terdengar suara Adinda menghentikan langkahnya. Fikar duduk kembali “ Bicaralah…”
“Masih bisakah adek menjaga hati
abang?”
Fikar terdiam mendengar permintaan
Adinda. Dia tak menyangka Adinda memintanya untuk kembali menjalin hubungan.
“Kalau tidak ada yang menjaga hati
abang sekarang…adek mau menjaga dan merawatnya. Kita mulai lagi seperti dulu..”
Fikar menghela nafas dan berkata ”Kita
bicarakan nanti saja ya, abang harus siap-siap. Sebentar lagi anak-anak yatim
akan datang, tidak enak melihat semuanya kerja, ni kan acara syukuran kelulusan
abang”
“ oh maaf bang, adek malah mengganggu,
baiklah aku akan menunggu jawaban abang nanti” Kata Adinda. Dia pun langsung beranjak menuju
meja membantu Astrid.
Acara syukuran untuk kelulusan Fikar
sudah selesai. Anak-anak Yatim Piatupun sudah diantar pulang. Kali ini Fikar
yang mengantarnya. Astrid dan Adinda pun sudah selesai dengan tugas mereka
membersihkan meja, mereka juga sudah mengumpulkan piring dan gelas dan membawa
masuk kedalam.
“Aku mau pulang Din, mau mandi… udah
gerah sekali ni badan, ntar aku balik lagi kesini..” Kata Astrid.
“Aku ikut kamu ya Chit, nunggu bang
Fikar sepertinya masih lama,..nggak enak juga kalo nungguin dia, apalagi di
rumahnya” Ujar Adinda.
“Ya udah yuk“ Ajak Astrid.
Mereka pun berjalan beriringan.
Sebenarnya Astrid ingin menanyakan tentang pembicaraan antara Fikar dan Adinda
tadi yang sepertinya sangat serius. Tapi dia berusaha menahan rasa ingin
tahunya karena tidak ingin dianggap mencampuri urusan pribadi orang lain.
“Oya Din, kamu masih dengan Tommy?”
Tanya Astrid kepada Adinda.
“Udah enggak” Jawab Adinda santai.
Astrid berniat menanyakan lagi ketika
Adinda berkata ”Aku pingin balik ama bang Fikar..”
Deg! Jantung Astrid berdetak “Ternyata
aku salah..aku nyesal banget udah mutusin bang Fikar. Dia emang laki-laki yang
baik ya Chit” Adinda kembali melanjutkan ucapannya tanpa menyadari raut muka
Astrid yang berubah.
“Bang Fikar udah tau kamu mau balikan
ama dia?” “Udah, tadi udah aku sampein
ke dia”
“Trus apa kata bang Fikar? Kejar
Astrid “Bang Fikar belum menjawabnya, aku sebenarnya pengen dia bisa segera
menjawabnya. Kamu bantuin aku ya Chit, kayak dulu yakinkan bang Fikar. Aku
serius mau balik ama dia” Adinda memohon
kepada Astrid.
“Entar kamu berubah lagi…”
“Enggak, kali ini aku yakin dengan
kata hatiku. Aku yakin milih dia” Kata
Adinda mantap.
Astrid hanya menggangguk pasrah. Adinda
tersenyum dan memeluk astrid “Kamu emang temanku yang paling baik” Astrid hanya
tersenyum.
“Yuk masuk” Kata Astrid ketika sampai didepan rumahnya.
“Aku pulang aja ya, ngantuk, pengen
tidur…”
Oh. ..Ya udah, hati-hati di jalan…”
Kata Astrid. Adinda pun berjalan meninggalkan Astrid. Astrid terpaku menatap kepergian Adinda. Dalam
hati dia bertanya apakah Fikar akan menerima kembali kehadiran Adinda dalam
hidupnya? Ada rasa tak enak bila mengingat kedekatan Fikar dan Adinda. Astrid
tak ingin Fikar terluka lagi oleh Adinda. Tapi dia juga sadar, dia tak berhak
melarang Fikar. Astrid menghela nafas dan melangkah masuk ke rumahnya.
******
(Bagian 3)
Fikar baru selesai sholat maghrib dan mengaji. Setelah melipat sajadah dia
berdiri di depan jendela kamar menatap gelapnya malam. Dia memikirkan ucapan
Adinda tadi siang. Mengapa Adinda memintanya kembali? Berbagai pertanyaan
berkecamuk dibenaknya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Ketika hendak
beranjak keluar kamar, hapenya berbunyi, ternyata Adinda yang menelpon.
“Assalamualaikum bang,” terdengar suara Adinda diseberang. “Walaikumsalam”
“Lagi sibuk ya bang…?”
“Enggak, baru selesai sholat dan mengaji,
ada apa Din?”
“Adek ingin menanyakan tentang yang
tadi kita bicarakan, bagaimana bang?”
Fikar diam, hanya suara nafasnya yang
terdengar di telinga Adinda. Adinda menunggu jawaban dari fikar. Tak lama kemudian
terdengar suara Fikar ”Maaf ya din, kamu pasti tak sabar ingin tahu jawaban
abang….”
“Iya bang…adek tak sabar ingin tau
jawaban abang, adek benar-benar serius ingin balikan lagi ama abang, jika abang
ajak adek menikah, adek siap kok”
“Dinda…”
“Iya bang…” Hati Adinda jadi berdebar
“Kenapa kamu ingin kembali lagi?”
“Dinda hanya merasa abang tuh baik….tak
ada lelaki lain sebaik abang yang kukenal”
“Cuma itu..?” Tanya Fikar
“Abis apa lagi? abang emang baik.
abang selalu mau membantu adek.”
“Trus kenapa dulu kamu minta putus?”
“Aku hanya ingin suasana baru. Sayangnya
suasana baru yang kuharapkan tak seindah saat kita bersama”
Fikar terdiam mendengar penjelasan
dinda. Baginya ini merupakan jawaban dari pertanyaanya selama ini dan semakin
mantap untuk memutuskan.
“Sebenarnya abang sudah melupakan
tentang kita, abang hanya menggangap kamu sebagai teman”
“Tapi bang….”
“Abang tak bisa Din, kita tak bisa
kembali merajut hari-hari seperti dulu lagi. Semua sudah berlalu”
“Abang marah sama aku?” Terlihat Adinda
tak rela Fikar berkata seperti itu.
“Abang bukan marah sama kamu, abang
hanya tak ingin kembali ke masa lalu…abang hanya ingin belajar dari pengalaman
yang dulu….abang tak ingin jatuh ke lubang yang sama…”
“Adek sekarang sudah berubah bang,
adek benar-benar serius”
“Siapa yang bisa menjamin itu semua Din?
Lagipula hati abang sudah tidak mau lagi di jaga ama kamu…karena abang yakin
pasti ada hati yang lain yang ikhlas untuk menjaganya…” Tegas Fikar
“Siapa dia bang…?” suara Adinda lemah
menahan tangis. Harapannya pupus sudah untuk mendapatkan Fikar kembali.
“ Abang belum yakin lagi apakah dia
mau menjaga hati abang dengan baik…abang akan liat bagaimana hatinya dan
kesungguhannya untuk abang”
“Berarti tidak ada harapan untuk dinda
ya bang..?”
“Pasti ada harapan untuk kamu, tapi
bukan dari abang..percayalah!..Maafkan abang ya..”
I”ya bang…maafin aku juga bang, aku
nyesal pernah ninggalin abang, tapi apa daya kutak bisa memiliki abang..”
“Tidak semua yang kita inginkan akan
kita dapatkan Din, cobalah kamu untuk belajar dari semua yang terjadi, semoga
kamu akan mendapatkan yang lebih baik walaupun tanpa abang..” Jelas Fikar
panjang lebar
“Iya bang, makasih ya atas jawabannya”
Suara Adinda semakin lirih.
“Iya sama-sama, udah dulu ya,
Assalamualaikum..”
“Wa’alaikumsalam” Jawab Adinda sambil
menutup telponnya. Adinda terduduk di tempat tidur. Dia begitu terpukul dengan
pembicaraannya dengan Fikar. Adinda tak menyangka kalau Fikar akan menolaknya.
Selama ini dia yakin Fikar masih mau menerimanya karena dia tau Fikar tak
pernah punya pacar lagi setelah putus denganya. Ternyata perkiraanya salah. Dia
baru menyadari pengalaman dulu sangat berharga buat Fikar untuk di jadikan
pelajaran. Adinda hanya bisa menangis mengingat kegagalannya.
Sementara Fikar menjadi lebih tenang
setelah berbicara dengan Adinda. Dia sangat bersyukur bisa menangani masalahnya
dengan baik. Dia juga lega bayangan Adinda sudah tidak menghantui pikirannya
lagi sekarang. Sejak dia mulai memperhatikan seseorang yang lain. Sejak dia memantapkan hati untuk yang lain
yang lebih pantas untuknya. Dia ingin
menceritakan tentang niatnya ini kepada orangtuanya. Fikar merasa semakin cepat
semakin baik. Dia juga ingin berbagi cerita tentang ini semua. Hanya ada satu
orang yang dia yakin dia bisa bebas bercerita. Fikar tersenyum membayangkan
sosok manis yang selalu di jahilinya.
-------------------
Malam hari setelah acara syukuran tadi
siang, keluarga Fikar dan keluarga Astrid berkumpul. Karena tadi siang Papa
Astrid kerja dan tidak bisa ikut acara
syukuran bersama Anak Yatim piatu, Ayah pun berinisiatif untuk membuat acara
makan malam bersama biar papanya Astrid bisa ikut merasakan syukuran kelulusan
Fikar.
Setelah selesai makan, mereka
berkumpul di teras belakang sambil minum teh dan makan kue.
“Lega sekarang ya bang, anaknya sudah
lulus kuliah” Kata papa Astrid.
“Iya lega dan bersyukur, satu fase
sudah di lewati oleh Fikar” Ujar Ayah.
“Apa rencana selanjutnya? Mau nikah
atau cari kerja?” Tanya Mama Astrid.
Astrid menatap Fikar. Dia ingin tahu
apakah Fikar sudah kembali dengan Adinda. Apakah malam ini Fikar akan mengatakan
untuk melamar Adinda? Berbagai pikiran berkecamuk di benak Astrid.
“Rencana mau melanjutkan S2 tante,
mungkin akan keluar negeri” Jawab Fikar
“Wah, bagus itu, jika perlu ke tempat
Rio aja di mesir” Kata papa Astrid
“Belum tau juga ni om, ada juga kepikiran
untuk kesana….tapi Negara lain juga bagus”
“Kalau Jeng Dewi dan dek Herman enak masih
ada anak satu lagi disini, ni saya dan bang Iwan, punya anak cuma satu-satunya…
tamat kuliah mau ditinggalin lagi. Sepi deh rumah” Semua tertawa mendengar
ucapan ibu.
“Makanya si Fikar cepat-cepat disuruh
nikah biar cepat dapat cucu, jadi nggak sepi lagi..” Kata mama Astrid. Gelak tawa kembali berderai.
“Emang kamu sudah ada calonnya Fik?”
Tanya ibu
Semua mata memandang fikar. Fikar
berinisiatif untuk mengatakan hal yang menjadi pemikirannya.
Sambil berdehem dia berkata ”Sebenarnya
saya senang sekali kita semua ngumpul disini malam ini, walaupun om, tante dan
Astrid bukan keluarga, tapi saya sudah menggangap seperti keluarga sendiri….”
Astrid gelisah di tempat duduknya.
Apakah ini saatnya Fikar mengutarakan maksudnya untuk mempersunting Adinda?
Berarti mereka sudah jadian? Dia pun bangkit.
“Mau kemana Chit” Fikar
menatapnya “Mau kedapur bantu mak Inah
nyuci piring…”
“Duduk aja dulu, abang kan belum
selesai ngomong, ada hal penting yang ingin abang bicarakan di sini” Astrid masih ragu. Mama Astrid langsung menarik tangannya untuk
duduk kembali “Sudah kamu duduk lagi, kalo Fikar bahagia kan kamu juga yang
senang?..ayo duduk!” Kata mama. Astrid pun duduk dan menundukkan muka. Dia tak
sanggup mendengar apa yang akan di katakan Fikar.
“Ayah ibu.. “ Fikar mengarahkan
pandangan ke orang tuanya “Saya lega sudah bisa lulus kuliah. Saya sudah senang
membuat ayah dan ibu bangga,..rencana saya memang ingin mengambil S2. Tapi itu
masih rencana, karena ada hal lain yang penting yang saya pikirkan…” Katanya
dengan tenang. Tutur katanya begitu sopan seakan sudah difikirkan terlebih
dahulu.
Semua terdiam mendengarkan perkataan
Fikar. Sesekali Fikar menatap ayah, ibu, om tante dan juga Astrid. Astrid hanya
menunduk terpaku, jari tangannya memainkan ujung bajunya.
“Benar kata ibu, rumah ini akan sepi
kalo saya pergi, jadi saya bermaksud untuk meramaikan dengan tangis bayi..”
“Maksudmu, kamu akan menikah?”
“Iya bu…”
“Alhamdulillah” Semua lega
mendengarnya. Tampak senyum dibibir Ayah dan Om, Ibu dan Tante saling memeluk
bahagia. Astrid masih terpaku tak bergeming. Dia merasa lutunya lemas mendengar
Fikar akan menikah.
“Memang calonnya siapa nak?” Tanya ayah
Fikar terdiam dan kembali mengedarkan
pandangan kesemua yang hadir. Ketika menatap Astrid, dia melihat posisi gadis itu yang masih menunduk.
“Sebenarnya saya ingin membicarakan
ini secara resmi. Tapi karena ini waktunya kita ngumpul, saya pikir ini waktu
yang tepat. Saya sudah memikirkan ini. Walau saya belum tahu bagaimana jadinya
nanti karena saya belum membicarakan ini kepada dia…Kalau om dan tante tidak keberatan, dan ayah ibu
setuju, saya ingin semua menjadi saksi untuk proposal pernikahan saya. Semoga
saya bisa di terima..”
“Maksudmu nak? Ibu nggak ngerti? Kata
ibu yang mengernyitkan dahi mendengar perkataan Fikar
“Saya ingin meminang Astrid untuk jadi
istri saya,…” Hening terasa sesaat setelah Fikar menyampaikan maksudnya.
“Maksud kamu, kamu ingin melamar
Astrid”? Tanya ayah untuk meyakinkan apa yang didengarnya tadi.
“Iya ayah”
“Om sih setuju saja, sepertinya
tantemu juga tidak keberatan,” Ujar Papa Astrid sembari melihat istrinya yang
mengangguk.
“Ayah dan ibu juga setuju dengan apa
yang ingin kamu lakukan asal kamu serius menjalaninya”
“Saya serius ayah…”
“Bukannya kita belum mendengar jawaban
yang punya badan..” Sela ibu.
Sekarang semua mata memandang kepada
Astrid. Mama menyikut lengan Astrid yang masih tertunduk. Astrid mendongakkan muka. Dia melihat Fikar yang menatapnya lekat.
Astrid kembali tertunduk. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan
Fikar barusan, lututnya pun semakin lemas saja dan telapak tangannya sudah
berkeringat.
“Bagaimana Chit, kamu mau menerima Fikar?”
Tanya papa.
“Kok abang gak bilang sih..?” Astrid
mendelik kearah Fikar.
“Ini kan udah dibilang..”
“Bukan gitu, maksudnya kan bisa kasih
tau ke Achit dulu, nggak mendadak gini…bikin kaget tau…” Astrid mulai kesal.
“Abang memang sengaja bikin surprise
seperti ini, kan seru..” Fikar pun tak
mau kalah. Sementara ayah, ibu papa, mama Astrid hanya terdiam dan tersenyum
mendengar percakapan Fikar dan Astrid. Sepertinya mereka sudah paham dengan
kelakuaan anak-anak mereka.
“Surprise nya nggak lucu..” Sungut Astrid
“Jadi Achit ngga suka..?”
“Iya, ngga suka!!”
“Berarti nolak dong..”
“Kan nggak bilang nolak…”
“Jadi diterima?”
“Yee. Enak aja…”
“Abis maumu apa sih Chit?” Fikar mulai
kesal. Dia tak sadar dengan adanya kedua orang tuanya dan orang tua Astrid
Orang tua masing-masing masih tetap
diam, mereka sepertinya masih menunggu akan kemana kisah dua anak manusia yang
selalu berdebat ini. Akhirnya ayah melerai mereka. Fikar dan Astrid
terdiam “Biarkan Astrid berfikir dulu”
Ayah menenangkan Fikar. Fikar mengambil air teh dan meminumnya. Dia merasa
bersalah, seharusnya memang dia mengatakan kepada Astrid terlebih dahulu. Dan
sekarang harapannya tipis.
“Papa, mama, om, tante, maafkan Astrid
bila suasananya menjadi seperti ini” Kata Astrid.
Sekarang giliran Fikar yang tertunduk.
Astrid melanjutkan ”Terus terang, Achit sangat kaget dengan apa yang dikatakan
bang Fikar, Achit benar-benar tak menyangka abang akan melamar Achit….Achit
merasa belum saatnya untuk menikah…”
Kedua orang tua terdiam dan saling
berpandangan. Sementara Fikar semakin menundukkan wajahnya. Ia yakin akan
penolakan Astrid “Tapi kalau memang bang
Fikar adalah jodoh yang terbaik buat Achit….yang dipilihkan Allah untuk Achit…Achit
menerimanya..” Sambung Astrid.
“Apa benar kamu mau menerima Fikar
nak?” Tanya Papa
Fikar memandang Astrid yang
mengganggukkan kepala. Pipinya bersemu merah. Astrid menyembunyikan mukanya di
balik punggung mamanya.
“Alhamdulilah” Ucapan Hamdallah
mengalir di bibir masing masing. Fikar kembali memandang Astrid. Astrid
menjulurkan lidah dan kembali menyembunyikan mukanya dibelakang mamanya. Fikar
hanya tersenyum melihat tingkah Astrid.
Astrid yang lucu, ceria dan berpipi tembem. Fikar juga tak menyangka
mengapa dia bisa memilih seorang Astrid, adik temannya yang juga tetangganya.
Tapi dia yakin ini semua sudah di atur sama Allah.
Fikar meminta ijin mengajak Astrid ke
bangku yang lain, yang tidak jauh dari tempat duduk orang tuanya. Kedua orang
tua mengijinkan, toh mereka masih bisa mengawasi dari tempat duduk mereka.
Kedua orang tua juga mengerti bahwa sepasang sejoli itu perlu berbicara. Ayah
pun mengatakan akan berbicara dengan papa dan mama Astrid tentang hari baik
untuk lamaran yang resmi.
Begitu duduk Astrid langsung mencecar
Fikar dengan pertanyaan yang ada di pikirannya.
“Bang, Achit pikir abang jadian lagi
ama Adinda”
“Kok kamu tau tentang itu?”
“Tadi siang kan Adinda cerita ama Achit
kalo dia pengen balik ama abang, kok nggak abang terima dia lagi sih…?”
“Emang Achit rela kalo abang balikan
ama dia”?
“Yah..engga sih, Cuma kasihan aja…”
“Trus kamu juga kasihan nerima abang”
“Bukan gitu, ahh abang gimana sih”
“Udah deh Chit, yang lalu biarlah
berlalu… abang hanya ingin menatap kedepan, abang ingin menata masa depan. Kamu
ingat kan apa yang dikatakan abangmu Rio sebelum dia berangkat ke Mesir?”
Astrid mengangguk.
“Dia bilang untuk selalu menjaga kamu,
melindungi kamu adik satu-satunya. Kemarin abang sempat chating ama dia dan
abang katakan maksud abang untuk melamar kamu, dia sangat setuju dan
mengharapkan kita segera menikah dan bisa menyusulnya ke Mesir”
“Tapi kemarin bang Rio telpon, dia
nggak bilang apa-apa tuh”
“Abang suruh dia untuk nggak kasih
tahu dulu” Astrid tersenyum. Fikar meneruskan ucapannya “Yang penting sekarang
itu adalah kita, bagaimaan kita menjalani ini semua, dulu abang pernah salah
memberikan hati abang kepada gadis lain, sekarang abang hanya ingin Achit
menjaga dan merawat hati abang ini biar tidak diminta orang lain, begitu juga
dengan abang… abang akan menjaga hati Achit….”
“InsyaAllah bang, sebenarnya Achit
juga masih tidak percaya dengan ini semua”
“Achit pikir abang nggak gitu?
Sebenarnya tadi juga abang takut sekali kalau Achit menolak abang, abang sudah
siap- siap aja tadi”
“Mau ngapain…?” Tanya Astrid
“Mau lari..” Jawab Fikar sambil
tertawa kecil. Astrid pun ikut tertawa.
“Benar kata orang kalau cinta dan
jodoh tidak bisa di prediksi kapan datangnya. Semua Allah yang ngatur. Yang
dikatakan hati baik, baik dianya. Nyaman…nyamanlah dia.” Ujar Astrid sembari
menatap bintang di langit. Fikar pun ikut-ikutan melihat bintang yang bersinar
menerangi malam. Kemudian Fikar mengalihkan pandangan menatap Astrid.
“ Dek, tolong jaga hati abang ya…?”
“Ih..abang, sok mesra deh….” Astrid
terkekeh melihat Fikar yang puitis
“Emang Achit nggak suka..?”
“Bukan nggak suka cuman geli aja
dengarnya…. biasa aja lagi” Fikar pun
ikut tertawa
“ Makasih ya Chit, sudah mau menerima
abang”
“Sama-sama bang..Achit juga makasih
abang mau ama Achit” Mereka saling tersenyum.
Bunga-bunga cinta mulai merekah di
hati. Astrid juga berfikir untuk memberitahu Adinda tentang ini. Bagaimanapun
Adinda adalah temannya. Semoga Adinda bisa menerima ini, batinnya. Mama
memanggil keduanya untuk bergabung kembali dengan kedua orang tua. Tampaknya penentuan
tanggal untuk lamaran secara resmi sudah di tetapkan. Tentang tanggal pernikahan
akan ditentukan pada saat acara lamaran nanti. Fikar dan Astrid hanya tersenyum
mendengar penjelasan kedua orang tua mereka. Sesekali Fikar memandang penuh
cinta kepada Astrid. Astrid meyakinkan Fikar melalui matanya kalau dia akan
menjaga hati dan diri hanya untuk Fikar, suaminya kelak.
SELESAI
Terima kasih banyak yang sudah meluangkan waktu untuk membaca
kisah ini sampai akhir. Bila ada kekurangan di sana sini, kami mohon maaf,
karena masih belajar. Sampai jumpa lagi
di kisah selanjutnyaJ
Emmilia Rosda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar