Apa yang kau rasakan bila kita kehilangan? Apa yang kau rasakan bila
kita ditinggalkan? Kecewakah? sakit hatikah? Iya…pasti…tentu itu jawaban
rata-rata yang kita dapatkan. Dalam hidup ini kehilangan dan di tinggalkan adalah
lumrah adanya tapi begitu berat diterima. Seakan ada beribu beban berat yang
menghimpit tubuh dan membuat sulit untuk bernafas. Jangankan bernafas, bergerakpun tak sanggup. Hanya
kesabaran dan keikhlasan kepada Allah semata yang mampu membuat bertahan, yakin
dan percaya Allah yang menentukan jalannya.
Aku tahu ini sulit, sangat sulit,
begitu rumit ibarat benang kusut yang semakin coba ku urai semakin kusut. Kucoba
bertahan sekuat hati seperti karang yang dihempaskan ombak. Tapi ada saja celah
yang coba di cari dan membuat aku seperti tak berarti. Setiap langkah yang
kulakukan tetap dianggap tak bermakna dan tidak maksimal. Aku hanya manusia
biasa yang juga punya batas-batas kemampuan. Kalau saja bisa disadari aku sudah
mencoba untuk bisa sedikit sempurna. Tapi apa dayaku? Seperti yang kukatakan
aku manusia biasa dan akhirnya harus rela melepaskan semua.
Jujur aku marah dengan keadaan
ini…marah dengan ketidakpastian,
keegoisan dan rasa gengsi yang dimiliki oleh banyak pihak yang menjadi bumerang
bagiku.
Aku sadari aku salah…begitu
banyak kesalahan yang telah ku lakukan. Tapi aku ingin berubah, aku tidak ingin
menambah lagi kesalahan yang baru. Walau
ada yang tidak percaya aku bisa berubah menjadi lebih baik, aku maklum karena
memang sangat sulit meyakinkan orang lain atas niat ini…aku terima. Walau
kadang ada hal-hal yang dikatakan dan itu tidak pernah kulakukan…aku terima
semua itu. Orang tidak akan pernah mengerti dan memahami kita sejauh ini bila
dia tidak pernah mau mencoba memahami. Satu yang kuyakini Allah Maha pengampun
dan Maha pemaaf , Dia akan memaafkan kesalahan umatnya yang memang punya niat bulat
untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga aku… aku akan memaafkan orang lain yang
telah menyakitiku. Walau banyak yang
telah menyakiti hatiku baik secara umum atau personal. Aku tidak mau membalas
dendan atas semua yang telah torehkan luka dalam kehidupanku. Percuma juga kita
balas dendam karena semakin coba kita balas akan semakin besar rasa dendam itu
bersemayam dalam sanubari dan pasti akan ada perasaan atau bisikan-bisikan yang
coba pengaruhi untuk melakukan pembalasan lagi dan lagi. Dan itu tak kan ada habisnya karena
manusia tak pernah puas. Mungkin lebih baik kita sabar dan ikhlas dan percaya
Allah punya kuasa. Hanya Dia yang tahu kapan waktunya dan dengan cara apa yang akan
dilakukan.
Pernah ada seseorang yang
mengatakan padaku tentang perjalanan hidup manusia. Ibarat kita berada di depan
jurang yang dalam. Tidak ada jalan lain dan kita harus melewati jurang itu
bagaimanapun caranya. Ada
dua pilihan. Kalau kita berbalik arah atau mundur kita akan menjadi pecundang
dan dianggap tidak berani, dan kalau kita maju terus bisa jadi kita masuk
jurang. Sepertinya pilihan kedua lebih tepat walau kita tahu akan masuk jurang
dan itu lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Bukan berarti
ingin mati konyol namun yang paling penting ada rasa optimis untuk bangkit dan
merangkak ke atas walau luka di sekujur tubuh. Dan keyakinan Allah akan selalu
menolong umatnya yang mau berusaha sepahit apapun itu.
Berat memang untuk melewati ini semua..tapi
inilah proses yang semoga bisa membuat kita lebih bijak dalam menyikapi
persoalan hidup.Mungkin dengan cara ini Tuhan memberikan pengampunan. Seseorang
itu juga mengatakan padaku Tuhan akan memberikan rasa sakit itu kepada kita
sebagai pertanda Allah mengampuni kesalahan kita. Semakin banyak sakit yang
kita dera akan semakin banyak ampunan yang kita dapat.
Kuyakini itu benar adanya dan aku
hanya bisa mengharapkan ridha illahi Rabbi atas semua ini..
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar